
Alvin tertegun karena pertanyaan Aluna barusan, menatap manik mata milik wanita di belakangnya. Entahlah ia harus menjawab apa, Alvin sendiri masih bingung dengan perasaannya. Pria itu hanya menoleh sedikit ke arah Aluna, lalu mengarahkan pandangannya lagi ke depan.
Haish! Apa dia tak mendengar pertanyaanku! Batin Aluna kesal karena pertanyaannya tak direspon Alvin.
Bukan aku tak mendengar pertanyaanmu, Luna. Aku sendiri tidak tahu menjawab apa, seandainya kamu tak pernah mengecewakan ku, Aku pasti bisa menjawabnya sekarang, batin Alvin.
Apa yang sedang ada dalam perasaannya begitu sulit untuk diungkapkan. Alvin tidak tahu bagaimana ia menjelaskan apa yang sedang berkecamuk di dalam dadanya kepada Aluna. Sementara ia sendiri masih belum bisa menelaah perasaanya.
"Kenapa kamu hanya diam, Tuan?" ketus Aluna menaikkan nada suaranya.
Alvin masih larut dalam pikirannya, ia tak menoleh ketika Aluna kembali mencecarnya. Bukan Alvin tak mendengar, pria itu tak ingin membahas mengenai perasaanya kepada Luna.
"Kalau Anda hanya diam saja, berarti benar Anda tidak mencintaiku!" seru Aluna.
"Hentikan ocehan mu, Luna!"
"Ternyata Anda benar-benar payah, Tuan."
"Apa maksud ucapan mu, Luna?" bentak Alvin menoleh ke arah Aluna, menatapnya.
Seketika itu juga Aluna memberikan reaksi menantang pria di depannya, berharap Alvin bisa lebih terbuka mengenai perasaannya. Aluna tersenyum tipis ketika Alvin mulai tersulut emosi.
"Anda benar-benar tidak mengerti perasaan seorang wanita." Aluna memajukan wajahnya membalas menatap Alvin, "bahkan tuan tidak mengenal perasaan istri anda."
Monster Godzila kenapa dia begitu tampan tiap kali menatapku, ucap Aluna dalam hati.
Lama-lama aku bisa jatuh cinta beneran kalau dia melihatku seperti itu, batin Aluna lagi.
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa mencintaimu? Sedangkan kamu berselingkuh bersama pria lain."
Setiap kali Alvin menuduh Luna, ia selalu muak mendengarnya. Benar-benar pria yang menjengkelkan menurutnya. Aluna sengaja mendesak Alvin mengenai perasaannya agar mereka bisa bekerja sama mengungkap siapa wanita dalam video itu. Namun jawaban Alvin terus menggantung, membuatnya berpikir dua kali untuk meminta bantuannya.
"Apa Anda sudah lupa dengan janji pernikahan dulu bersamaku? Kalau tuan masih menganggapku istrimu harusnya anda selalu mendukungku. Mencari tahu fakta sesungguhnya, bergerak mencari siapa dalang di balik video itu. Apa Anda tidak bisa berpikir jernih, kalau aku bersalah tidak mungkin aku memperjuangkan pernikahan kita. Membuat kerusuhan di Biro Politik Ming agar Anda mau mencabut gugatan perceraian kita," ucap Aluna berapi-api.
Alvin mencoba meresapi ucapan Aluna barusan, menurutnya ada benarnya juga kenapa istrinya bersikukuh mengatakan kalau dia tidak bersalah kalau merasa bukan dia pelakunya. Alvin berusaha membidik mata Aluna, mencoba menangkap kejujuran di sana. Dari pandangan mata Alvin, sepertinya Luna istrinya sedang tidak berbohong kali ini.
Merasa lelah berucap, Aluna mengedarkan pandangannya keluar, mengalihkan sorot mata Alvin yang terus menatapnya. Tentu saja itu membuat grogi seorang Aluna, bayangkan saja seumur-umur baru kali ini ada pria yang menatapnya secara intens seperti itu.
"Lihatlah itu tuan," ucap Aluna menunjuk keluar.
Dari dalam mobil, Aluna diam-diam memperhatikan dua orang pasangan suami istri yang sedang berjalan beriringan. Aluna begitu kagum saat pria itu menuntun istrinya yang buta agar tidak tersandung.
"Bukankah itu yang seharusnya dilakukan seorang suami ketika istrinya kesusahan. Apa Anda tidak malu dengan pria itu, dia masih saja menerima istrinya yang buta, merangkulnya agar istrinya tidak terjatuh. Wanita itu sangat beruntung memiliki suami seperti dia," ucap Aluna menyindir Alvin.
"Tuan, lihatlah pria itu sekarang ia menggendong istrinya. Benar-benar pria yang romantis," kata Aluna histeris.
"Sayangnya suamiku tidak seperti itu. Bahkan di saat aku sedang di fitnah, ia malah mendesak bahwa aku yang bersalah. Bukannya menolongku, malah ingin menghindar bercerai. Sepertinya nasib ku memang tidak beruntung." Aluna sengaja membesar-besarkan ucapannya agar Alvin semakin merasa bersalah.
Mendengar ucapan Aluna barusan, membuatnya tertegun dan kembali diam. Mulutnya kali ini seakan terkunci, membiarkan Aluna berbicara sendirian.
"Ah, sudahlah tuan! Tak usah pedulikan nasibku. Beberapa jam lagi kita harus bertemu di Cafe Miracle nanti malam. Dari pada aku disini sebaiknya aku pergi mencari bukti." Aluna memutuskan untuk keluar dari mobil Alvin begitu tahu waktunya tidak lama lagi, "selamat tinggal tuan."
Aluna membuka pintu mobil lalu keluar dari dalamnya, meninggalkan Alvin yang masih terbengong melihatnya pergi. Ya, Alvin masih terus memikirkan ucapan Aluna tadi. Bahkan ia tak melarang sedikitpun ketika Aluna keluar.
"Tuan, apa aku sudah boleh menjalankan mobilnya sekarang?" tanya sopir kepada Alvin.
__ADS_1
Alvin mengangguk mengiyakan. Tidak tunggu waktu lama sopir lalu menyalakan mesin mobilnya, mengikuti perintah tuannya menuju arah pulang. Namun sebelum sopir melajukan mobilnya, tiba-tiba terdengar ketukan di kaca mobil dekat Alvin duduk.
Tok..tok..tok...
Alvin yang sedang termenung begitu kaget ketika ada yang mengetuk kaca mobilnya.
"Tuan, buka kacanya." Ternyata yang mengetuk kaca itu adalah Aluna. Melihat itu Alvin bersemangat menurunkan kaca mobilnya.
"Suamiku, bisakah Anda memberiku uang. Aku tidak membawa uang sama sekali," rayu Aluna tampa basa-basi. Ia harus membuang rasa malunya meminta uang kepada Alvin, daripada ia tak bisa membayar ongkos taksi.
Sebelum Aluna berniat meminta uang, Alvin terlihat senang lebih dulu menyangka Aluna akan mengurungkan niatnya untuk pergi, sayangnya bukan hal itu yang membuat Aluna mengetuk kaca mobilnya.
Dengan perasaan sedikit kecewa Alvin menyerahkan salah satu kartu bank miliknya kepada Aluna. Setelah menerimanya, Aluna langsung berterima kasih dan tetap berniat pergi lagi.
"Terima kasih, suamiku. Sampai bertemu nanti malam," ucap Aluna mengedipkan satu matanya.
Setelah Aluna pergi, sopir lalu menjalankan mesin mobilnya, melaju ke arah pulang.
Tingkah Luna hari ini benar-benar membuatku tidak bisa melupakannya, batin Alvin.
Sambil terus tersenyum Alvin mengingat sikap Aluna hari ini. Membuatnya selalu terbayang tingkah konyol Aluna saat di Biro Politik Ming.
"Maaf, Tuan. Ketika Anda ada di dalam kantor, Nona Helen menelepon memberitahukan bahwa malam ini ada klien yang ingin bertemu dengan tuan. Nona Helen juga berpesan kalau kerjasama ini sangat penting mengingat Tuan Ed adalah penyumbang saham terbesar kedua di proyek lotus," ucap sopir memberitahukan pesan dari Helen untuk tuan mudanya.
.
.
__ADS_1
.