
Ruangan bernuansa warna putih dengan ornamen gold dan hitam itu sudah dipenuhi beberapa investor dari lima perusahaan. Salah satunya adalah perusahan Wiratama Grup.
Baru pertama kali Aluna mengikuti Rapat Umum Pemegang Saham dalam hidupnya. Pandangan matanya berkeliling takjub, dia melihat ruangan rapat yang begitu elegan, penataan meja yang sangat apik membentuk huruf U, kemudian ditambahkan kursi di luar huruf U yang berwarna senada. Masing-masing kursi, sudah diduduki delapan belas investor yang berjejer rapi.
Saat mereka bertiga memasuki ruangan, para investor lalu berdiri dan memberi salam. "Selamat siang Tuan Anming, Presdir Alvin, dan Nyonya Presdir."
"Selamat siang. Terima kasih untuk semua yang hadir dan sudah mau ikut berpartisipasi," kata Anming kepada seluruh peserta rapat, tak lupa dia pun memberi salam kepada kepala direksi dan Tuan rumah rapat dari Perusahaan Axel.
Rapat pun dimulai. Di tengah waktu rapat, mereka mulai membahas rencana lanjutan investasi terhadap Perusahaan Axel. Pembicaraan pun mulai memanas, setelah tuan rumah selesai melakukan persentasi. Satu persatu dari peserta rapat mengeluarkan pendapat masing-masing. Ada sebagian yang pro dan sebagian lagi yang kontra untuk meneruskan kerjasama, berinvestasi saham lagi dengan Perusahaan Axel.
Aluna yang sudah duduk di samping Alvin, terus mengamati dan mendengarkan perdebatan dari beberapa investor. Sejujurnya, dia tak mengerti sedikit pun apa yang mereka perdebatkan. Sementara Alvin, wajah lelaki itu sangat serius, berulang kali dia melihat dan mencocokkan data di bursa efek mengenai kebenaran yang mereka bicarakan.
Aku tak mengerti apa maksud pembicaraan mereka. Ternyata rapat ini begitu membosankan! Batin Aluna.
"Hoaem!" Aluna menutup mulutnya yang sudah berulang kali menguap matanya pun sudah mulai berair. Dia benar-benar sangat mengantuk. Untungnya, beberapa peserta rapat tidak memperhatikannya karena sedang sibuk berdebat.
"Dari yang aku lihat di Bursa Efek. Laba bersih dan ekuitas Perusahan Axel menurun di tahun lalu. Itu tandanya kemungkinan besar perusahan Axel akan tetap merugi di tahun ini, apalagi melihat kredibilitasnya yang mulai menurun. Aku sarankan kita menghentikan saja berinvestasi dengan perusahan Axel," kata Anming memberikan pendapat. Anming menyarankan agar beberapa investor mulai menarik saham.
Selain Anming, ada beberapa peserta lagi yang ingin ikut menarik saham. Alasan mengapa mereka sependapat dengan Anming adalah, karena perusahan Axel telah meluncurkan salah satu produk skincare yang buruk, banyak rumor yang mengatakan, kosmetik tersebut terdapat kandungan mercuri dan bahan berbahaya yang terlalu banyak. Membuat pelanggan yang semula percaya dengan produk buatan Axel yang identik dengan bahan alami, tak lagi ingin membelinya. Otomatis laba perusahaan itu pun menurun.
"Betul rumor itu membuat mindset pelanggan berubah dan menjadi tak yakin menggunakan produk Axel. Apalagi, ada salah satu beauty blogger yang mereview kosmetik secara live di konten miliknya, dia mengalami gatal-gatal dan iritasi setelah mengaplikasikannya di wajah. Beberapa hari terakhir, berita itu sedang sangat viral." Salah satu investor yang kontra ikut menanggapi.
Semua peserta rapat terus berdebat antara pihak yang pro dan kontra. Alvin yang masih mempelajari, tak sependapat. Dia yakin kalau rumor yang ditujukan itu tidak benar. Alvin sudah lama berinvestasi, dan Perusahaan Axel tak pernah mengecewakannya.
Di saat Anming dan beberapa investor berdebat. Lelaki berumur hampir lima puluh tahun itu melirik ke samping. Dia melihat Aluna yang duduk di sebelah Alvin sedang memejamkan mata. Anming tahu kalau wanita itu sedang tertidur. Aluna baru tertidur sekitar lima menit yang lalu.
Bisa-bisanya dia tertidur! Aku sudah duga kalau wanita ini hanya akan mengacaukan rapat. Gerutu Anming dalam hati.
Karena saking fokusnya, Alvin yang duduk di sebelah Aluna tak menduga kalau Aluna sedang tertidur. Dia sendiri tahu ketika Anming berkata padanya dengan nada rendah, "Urus dulu istrimu, Alvin!" bisik Anming, lelaki itu tampak geram sekaligus kesal.
Alvin langsung menoleh dan menghentikan aktivitasnya detik itu juga. 'Ternyata benar Luna sedang tidur'. Batin Alvin.
Dihatinya dia begitu kecewa kenapa harus mengizinkan Aluna ikut rapat. Sebelum semua orang tahu, Alvin langsung menutupi wajah Aluna dengan laptop miliknya. Dia lalu menepuk paha Aluna agar dia bangun.
"Luna! Bangunlah!" bisik Alvin sangat pelan. Dia tak mungkin berteriak, kalau itu terjadi semua pasti akan melihat ke arah mereka.
__ADS_1
Namun, mata Aluna masih terpejam. Alvin yang mencoba membangunkannya semakin kesal. Alvin kembali menepuk paha Aluna, tapi tetap saja wanita itu tak bangun.
Kenapa dia masih tak bangun. Kalau Luna dibiarkan tidur terlalu lama, semua investor pasti tahu dan ini akan mempermalukan perusahan. Apalagi kalau sampai Luna mengeluarkan liurnya, Batin Alvin.
Alvin melemaskan bahunya seraya mengembuskan napasnya sangat pelan. Alvin sedang memikirkan bagaimana cara membangunkan istrinya detik itu juga.
Di waktu bersamaan. Tiba-tiba suara sistem terdengar sangat keras di telinga Aluna. Tentu saja hanya dia sendiri yang mendengarnya.
...[Nona, bangunlah! Rapat akan segera berakhir. Anda harus ikut berpartisipasi agar perusahan Alvin tidak merugi.]...
Mendengar suara sistem, Aluna begitu terperanjat. Dia langsung bangun dan mengusap wajah dan mulutnya. Untungnya karena baru tidur beberapa menit, Aluna tak sampai mengeluarkan liur yang menjadi kebiasaan buruk setiap kali dia tidur.
Melihat Aluna sudah bangun, Alvin begitu lega. Tetapi tidak dengan Anming, dia malah menatap semakin sinis ke arah Aluna. Karena merasa bersalah, Aluna hanya diam dan pura-pura tak melihat.
"Maafkan aku, Alvin," kata Aluna. Namun Alvin tak menanggapi, lelaki itu malah mengacuhkannya karena merasa kecewa.
Aluna kembali duduk dengan tenang seperti semula.
Sistem kembali bersuara,
Apa? Lalu bagaimana caranya, Miss K? tanya Aluna dalam hati.
...[Browsing informasi produk lama di internet. Kamu harus menyelidiki kenapa produk lama tidak laku dipasaran. Waktu Anda tidak banyak, Nona. Kerena sebentar lagi rapat akan ditutup.]...
"Baiklah, Miss K!" ucap Aluna.
Gerakan bibir Aluna yang sedang berbicara dengan sistem dilihat Alvin. Sayangnya lelaki itu terlalu serius, enggan bertanya kepada siapa Aluna berbicara.
Aluna sempat terdiam beberapa detik. Sementara di ruang rapat, beberapa investor yang kontra terus mendesak agar menghentikan kerjasama dengan Perusahaan Axel.
Karena penasaran, Aluna membuka laptop Alvin dan segera mencari tahu cepat kenapa para pelanggan tidak ingin membeli lagi produk kosmetik buatan Axel. Jari tangannya dengan cepat mencari dan memasukkan nama kosmetik di salah satu aplikasi. Aluna membaca cepat terutama di kolom kritik dan saran pelanggan. Dari yang dia baca, hampir tujuh puluh persen menyukai produk Axel dan sisanya tidak.
Dari beberapa orang yang tidak suka, ada yang terpengaruh karena video salah satu beauty blogger. Saat itu juga Aluna mencari di mesin pencarian internet profil dan video blogger yang viral beberapa hari itu.
"Jadi ini penyebabnya!" gumam Aluna.
__ADS_1
Aluna lalu melihat sebentar salah satu video dari seorang beauty blogger. Dan benar, di dalam video dia memperlihatkan wajahnya yang langsung memerah saat memakai produk itu secara live.
Tunggu! Sepertinya ada yang janggal! Batin Aluna.
Aluna memutar lagi video itu dengan pelan. Ternyata ada perbedaan warna dari krim yang dia lihat dengan produk aslinya. Dia tahu karena Aluna sendiri menggunakannya di rumah dan itu aman-aman saja. Aluna menduga kalau beauty blogger itu menggunakan produk yang palsu.
Saat itu juga Aluna berdiri. "Tunggu! Jangan hentikan investasinya!" seru Aluna.
Mendengar ucapan Aluna yang tegas dan keras. Semua orang yang sedang berdebat langsung terdiam. Sam halnya dengan Anming, lelaki itu malah ingin tertawa. Dalam hatinya berpikir 'Hal bodoh apa lagi yang akan Luna lakukan'.
"Apa maksud ucapan Anda, Nyonya Presdir Wiratama?" Salah satu peserta rapat menanggapi.
"Sebaiknya teruslah berinvestasi, karena aku yakin di akhir tahun nanti Perusahan Axel akan mendapatkan untung yang sangat besar." Aluna berkata sekali lagi, dia berusaha meyakinkan.
Melihat Aluna berbicara lantang, Alvin sempat terkaget. Dia sendiri sebenarnya takut Aluna yang belum sadar, akan berkata yang tidak-tidak mengingat Aluna baru bangun dari tidur.
Anming terlihat tidak suka, dia langsung menyuruh Alvin untuk menenangkan istrinya. "Alvin hentikan istrimu," ucapnya.
"Sekarang katakan kepada kami. Apa alasan Anda mengatakan agar terus berinvestasi?" Kepala direksi menengahi.
"Aku melihat peluang kedepannya sangat bagus kalau kita terus berinvestasi. Sebentar lagi Perusahan Axel akan meluncurkan obat dan skincare formula baru. Aku yakin kalau produknya akan viral dan laku dipasaran. Ini akan sangat menguntungkan bagi perusahaan," kata Aluna.
Namun, mereka yang kontra malah menertawakan Aluna. "Bagaimana bisa laku kalau viralnya karena hal buruknya. Apa Anda tidak melihat pengaruh video blogger itu mengenai kosmetik Axel, apa kamu tahu beberapa hari setelahnya, penjualan langsung menurun. Produk yang sekarang saja diragukan, apalagi produk selanjutnya. Kami tak yakin, dan akan menghentikan investasi."
"Aku juga setuju." Anming berdiri menentang Aluna.
Melihat banyaknya yang meragukan, Aluna tetap bersikeras tetap pada pendiriannya. "Produk yang dipakai oleh beauty blogger itu palsu. Lihatlah, warnanya saja berbeda dengan aslinya. Kalau tidak percaya lihat saja perbedaan produk asli dengan yang di video." Aluna lalu maju ke depan menunjukan kejanggalan video itu, lalu menunjukkan dan menyamakan dengan produk aslinya yang dibawa perwakilan Perusahaan Axel.
"Lihatlah, berbeda bukan? Bahkan di dalam video, ada perbedaan di bentuk logonya." Aluna terus membuktikan. "Itu berarti belum tentu salah perusahaan, kemungkinan ada pihak yang sengaja menjatuhkan!"
Semua peserta rapat lalu membandingkan apa yang diucapkan Aluna. Di menit itu juga mereka menarik kesimpulan kalau yang dikatakan Aluna ada benarnya setelah mereka melihat produknya langsung.
"Nama baik Perusahaan Axel sudah tercoreng buruk. Aku tidak mau menanggung akibatnya. Lalu apa solusi darimu agar pelanggan bisa percaya?" Anming berdiri menentang Aluna.
Mendengar itu Aluna tersenyum. "Kita adakan pengujian laboratorium ulang. Kita iklankan untuk menunjukkan kepada masyarakat antara produk yang asli dengan yang palsu. Setelah itu kita adakan riset dengan mengundang sepuluh responden atau lebih untuk menguji produk ini secara live."
__ADS_1
Mendengar jawaban Aluna yang begitu sempurna. Seluruh peserta rapat begitu tercengang dan terkesima. Begitu juga dengan Alvin, dia yang semula akan marah malah semakin kagum dengan kepintaran Aluna.