TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Ancaman Aluna


__ADS_3

Duduk tersungkur tak berdaya, Yuka dengan tatapan memelas, meminta Aluna agar tak menghakiminya. Tentu saja, sampai Yuka membuka mulutnya, Aluna akan terus mencecar dan menyiksanya.


"Ikut aku ke kantor polisi!" tegas Aluna menarik keras pergelangan tangan Yuka.


Suara gesekan dari tubuh Yuka yang ia seret, begitu sangat kencang menggema di penjuru ruangan. Tubuh mulusnya tak sengaja menyenggol beberapa deret bangku yang menimbulkan bunyi gaduh saat terjatuh ke lantai.


"Argh...! Nona, lepaskan! Aku mohon!" kata Yuka sambil menangis.


Aluna menyeret tubuh gadis itu sampai di depan pintu. Membuat Yuka harus menahan rasa sakit di tubuhnya, karena Aluna tidak hanya menarik tubuhnya, tapi juga menarik rambut panjangnya.


"Jangan membuatku berbuat kekerasan lebih dari ini! Bahkan aku bisa saja merusak wajah cantikmu dengan kukuku! Sekarang katakan padaku, Nona! Apakah benar kamu adalah wanita di dalam video itu? Ingat! Aku bisa saja memenjarakanmu sekarang dengan menunjukan DNA pada baju ini ke polisi." Aluna melebarkan matanya, duduk berjongkok menghadap Yuka yang sedang menangis.


Jelas, Aluna tidak bisa menarik paksa Yuka dari atas sampai ke kantor polisi. Bisa-bisa kalau ketahuan, ia ditangkap petugas keamanan karena telah melakukan tindak kekerasan. Aluna hanya perlu bukti agar wanita itu mau mengakuinya, untuk urusan hukum Aluna tak ambil peduli.


"Bagaimana, Nona Yuka?" Sekali lagi sambil terus menyeret, Aluna menghentak lagi wanita di depannya.


Gertakan Aluna begitu tegas, langsung menohok ke dalam jiwanya. Yuka yang sudah berurai air mata begitu sangat takut ketika Aluna berkata akan membawanya ke kantor polisi. Yuka mendongakkan kepalanya, memegang kaki kanan Aluna agar wanita itu menghentikan langkahnya.


"Ampuni aku, Nona! Aku akan mengatakan semuanya, asal-"


"Asal apa? Katakan padaku!" Aluna mencengkeram keras rahang Yuka, membuat wanita itu terbatuk karena lehernya ia tekan ke atas.


"Cuih! kamu membuatku menjadi bajingan hari ini, wanita jal*ng!" Aluna menghempaskan kasar wajah Yuka.


"Aku mohon, jangan laporkan aku kepada polisi. Aku janji tidak akan mencampuri urusanmu lagi, Nona! Satu lagi, setelah aku mengakuinya, aku mohon berikan baju itu!" Tunjuk Yuka pada baju yang barusan menjadi ancaman baginya.


Aluna tersenyum miring, dalam hati ia ingin tertawa. Sebenarnya, ia tak mau melakukan hal kasar seperti itu, terutama kepada seorang wanita. Sayangnya karena kelakuan Yuka yang bejat, membuat Aluna merasa tidak berdosa sama sekali. Baginya Yuka pantas menerima perlakuan kasar darinya, wanita tukang fitnah layak ia beri pelajaran.


"Baik, duduklah! Atur napasmu dahulu sebelum bercerita." Aluna membetulkan kursi yang jatuh agar Yuka bisa duduk dengan tenang.


Kenapa dalam kondisi darurat seperti ini, tidak ada orang yang menolongku? Aku bahkan tidak menyangka, wanita yang aku kenal lembut, bisa beringas seperti itu. Batin Yuka sambil menahan rasa sakitnya.


Aluna diam-diam menyalakan handphone dan berniat merekamnya. Tentu saja, itu dilakukan secara sembunyi, Aluna membiarkan kamera menghadap ke wajah Yuka.


"Apa benar wanita dalam video itu adalah Anda, Yuka Nata?" Aluna meninggikan nada suaranya.

__ADS_1


Yuka hanya mengangguk pelan, membuat Aluna berteriak lagi, "Katakan dengan keras, Nona Yuka Nata!"


"Be-benar wanita di dalam video itu adalah aku," ucap Yuka terbata sambil menunduk.


Aluna lalu mengambil penggaris di meja, dengan sengaja menempelkan benda itu di dagunya. Mengangkat wajah gadis yang sedang duduk itu agar mendongak ke arah kamera, "Tegakkan wajahmu, Aku tidak bisa melihat wajah cantikmu, Nona!"


"Apa video itu di buat atas dasar kemauanmu sendiri? Atau ada orang lain yang menyuruhmu membuat video bersama Devan malam itu?" Suara Aluna tidak keras namun begitu tegas.


Yuka sempat menoleh ke arah Aluna, membuatnya sedikit ragu mengatakan semuanya. Namun, karena tatapan Aluna yang begitu buas seakan ingin menerkamnya, wanita itu akhirnya membuka semua rahasianya dengan Helen.


Tentu, Aluna begitu puas mendengarnya. Yuka dengan gamblang menjelaskan semua alasannya, bagaimana kejadian dan siapa orang yang terlibat bersamanya.


Setelah beberapa pertanyaan dilontarkan, Aluna mendengar suara derap langkah kaki mendekati ruangan. Menurutnya, beberapa jawaban dari Yuka sudah cukup untuk dijadikan bukti. Aluna lalu mengambil handphonenya, berniat meninggalkan ruangan itu.


"Terima kasih, Nona Yuka." Aluna bersiap mengedarkan pandangannya, mencari jalan keluar, karena suara kaki yang ia dengar sebentar lagi sampai ke ruangannya.


Yuka terkesiap ketika Aluna hendak pergi begitu saja, wanita itu lalu berusaha menghentikan langkahnya, "Tunggu, Nona! Bukankah Anda berjanji akan memberikan baju itu setelah aku mengakuinya," ucapnya menagih janji kepada Aluna.


Aluna menoleh, menyunggingkan senyum ke arah gadis itu.


Lemparan baju Aluna tepat mengenai seluruh wajah Yuka.


"Pakailah baju itu sepuasmu! Bahkan aku tidak sudi memakai baju bekas jala*g sepertimu!" seru Aluna.


Anda benar-benar sudah merendahkanku, Nona Hadinata! Batin Yuka merasa terhina.


Aluna menoleh sejenak sebelum pergi, "Sekali lagi Anda mencampuri urusanku, aku tidak segan-segan meremukkan tulang-tulangmu dalam sekejap! Ingat itu, Nona Yuka Nata!" Ancam Aluna sambil mematahkan kayu lalu melemparkannya ke sembarang arah.


Tak!!


Gadis itu sekali lagi berhasil membuat Yuka ketakutan. Setelah puas, Aluna seraya berjalan pelan melewati petugas keamanan yang barusan membuka pintu.


"Selamat sore, Nona."


"Sore," sahut Aluna.

__ADS_1


Awalnya, petugas keamanan ingin bertanya siapa Aluna? Namun, ketika Aluna tersenyum, pria itu membiarkan gadis itu pergi begitu saja.


Yuka yang memejamkan matanya karena takut lemparan kayu itu mengenainya, baru menyadari ketika petugas keamanan menepuk pundaknya. Pria itu kaget melihat luka lebam di wajah Yuka.


"Kenapa dengan wajahmu, Nona?" tanya petugas keamanan.


Sudah pasti Yuka tak berani mengadu, Ia lalu mengemasi barang-barangnya hendak pulang, menghiraukan ucapan petugas keamanan.


"Itu bukan urusanmu!" ketus Yuka pergi meninggalkan ruangan.


***


Membayangkan barusan Aluna memberi ancaman kepadanya, Yuka benar-benar ketakutan. Ia tidak sadar kalau barusan sudah menceritakan semuanya.


Sebelum sampai rumah, ia menelepon Helen terlebih dahulu.


"Berapa nomor rekeningmu, Nona Helen? Aku akan mengembalikan semua yang sudah Anda berikan," kata Yuka di telepon.


"Apa maksudmu, Yuka?" balas Helen di telepon.


"Nona, aku sudah tidak ingin lagi bekerja sama denganmu! Kenapa Anda tidak menjelaskan kalau wanita itu lebih seram dari seekor singa?" kata Yuka bergidik ngeri.


"Apa yang kamu katakan, Yuka? Apa Luna menemuimu?" balas Helen ketakutan.


Menurut Yuka, tindakan ini lebih baik daripada ia berurusan lagi dengan wanita seperti Aluna. Yuka menghela napas panjang lalu mengeluarkannya perlahan.


"Benar! Luna menemuiku barusan! Dan apakah Anda tahu? Wanita itu berhasil membuat lebam wajahku!" kata Yuka di telepon.


Helen terkesiap, berpikiran kalau Yuka sudah membocorkan rahasianya.


"Jadi kamu sudah menceritakan semuanya kepada Luna?"


###


Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2