TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Kedatangan Alvin


__ADS_3

Ekspresi Alvin mendadak murka, ketika mengetahui Aluna benar ada di bar bersama mereka bertiga. Tetapi, kali ini dia berusaha manahan diri saat mendengar dari pintu ketika istrinya sedang dipojokan.


Akhirnya kamu datang juga, Alvin. Batin Lily.


Sebenarnya sebelum Alvin datang, sebentar lagi Yuze akan menghubunginya, akan melaporkan perilaku Aluna yang telah melukai Helen. Namun, baru beberapa detik mengeluarkan ponsel, Alvin sudah ada di belakang mereka.


"Apa yang sedang terjadi?" tanya Alvin lagi. Belum ada yang menjawab pertanyaannya, dia sudah melangkahkan kakinya menuju tempat dimana Aluna berdiri.


Hebat kamu Luna! Kamu sudah bisa membuat Alvin mendatangi tempat yang paling dibencinya demi menjemputmu, batin Helen cemburu.


Helen yang sudah mengenal Alvin dari dulu, masih tak menyangka kalau dia akan datang ke bar menyusul istrinya. Mengingat ia tahu betul kalau Alvin sangat benci tempat hiburan seperti bar, Alvin paling anti mendatangi hiburan malam itu. Namun, ketika melihat kenyataan ini, Helen mulai sadar kalau Alvin sudah menaruh hati kepada kakak tirinya.


Luna? Kenapa kamu melanggar perintahku? Padahal aku sudah peringatkan agar kamu tak keluar malam ini! batin Alvin kecewa.


Alvin menghentikan langkahnya tepat di depan Aluna. Lelaki itu sedang menatap lekat wajah Aluna dengan tangan mengepal menahan emosi. Kalau tak melihat luka di kepala istrinya, sudah pasti dia memarahi Aluna detik itu pula. Apalagi begitu melihat ada darah di kepala Aluna, di hatinya Alvin begitu sangat khawatir.


"Luna, kenapa dengan kepalamu?" tanya Alvin.


Lelaki itu berjalan mendekat, mengusap rambut Aluna dengan lembut. Sungguh diluar dugaan Helen, kalau Alvin akan selembut itu dengan saudara tirinya.


Apa kamu akan mempercayaiku, setelah mendengar fitnah mereka bertiga? pikir Aluna dalam hati.


Aluna menengadahkan kepalanya, menatap balik mata tajam milik Alvin. Ada keteduhan di sorot matanya yang begitu menenangkan, seakan melihat mata seorang pangeran yang datang menolongnya. Sayangnya, Aluna kembali menepis pikiran itu, ia tidak yakin kali ini Alvin akan membelanya.


"Kakak! Lihatlah Luna dan Helen sekarang. Mereka sama-sama terluka!" Lily mulai mengeluarkan suara dan mengadu kepada Alvin.


Kemudian, Alvin beralih melihat Helen yang sedang menahan darah di lengannya dengan sapu tangan milik Yuze. Wanita itu berpura-pura menangis mengambil simpati dari Alvin.

__ADS_1


"Tuan, sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya. Sayangnya Anda harus tahu kelakuan kakak tiriku. Lihatlah, kak Luna sudah menggores tanganku dengan pecahan beling itu. Aku tidak menyangka kalau ia sudah merencanakan kejahatan sebelum dia datang ke bar ini ... hiks ...." Helen menyeka air mata palsunya di hadapan Alvin.


Bagus! Kamu sangat jago sekali dalam berakting, Helen! Batin Lily tersenyum puas.


Alvin melihat lagi lengan Helen yang terluka parah. Lelaki itu tak punya rasa simpati sedikit pun untuknya, dia malah beralih melihat Aluna kembali.


"Aku masih tidak percaya kalau istriku yang melakukannya!" ketus Alvin. Kali ini dia tidak bisa ditipu lagi oleh air mata buaya milik Helen.


"Helen berkata benar, Kak. Kakak ipar sendiri yang memukul kepala dan tangan Helen dengan botol itu." Lily menunjuk pecahan botol yang berserakan di lantai.


Tentu itu bohong! Aluna mengepalkan tangan, sungguh dia tak terima dengan fitnah yang dilontarkan mereka bertiga. Dahinya terlihat berkerut, menyimpulkan apa yang sedang ada dipikirannya sendiri.


"Apa kalian melihatnya secara langsung?" tanya Alvin.


Yuze dan Lily saling berpandangan. Benar mereka memang tak melihatnya langsung, sehingga bukti tak terlalu akurat. Untungnya di ruangan itu tak tersedia CCTV, sehingga mereka bisa dengan mudah memfitnah Aluna.


"Bukan aku yang melakukannya!" sela Aluna.


Alvin meneliti ekspresi yang dilukis dari wajah istrinya dengan saksama. Dari raut wajahnya, menurut Alvin, Aluna sedang tidak berbohong.


"Jelaskan padaku permasalahannya secara detail!" tegas Alvin, lelaki itu masih berdiri di tengah mereka.


"Sudah aku bilang, bukan aku pelakunya. Akulah korban di sini. Ya, dia yang menghantam kepalaku dengan botol bir. Tidak hanya itu, Helen sudah gila karena sudah melukai tangannya sendiri dengan pecahan botol itu. Kalau kamu suamiku, seharusnya kamu lebih mempercayaiku!" sahut Aluna menjelaskan.


Tentu aku mempercayaimu, Luna sayang.


Mendengar jawaban Aluna, Lily semakin takut Alvin akan mempercayainya. "Bohong! Kalau Helen yang melakukannya, untuk apa kamu membawa pisau cukur itu? Atau jangan-jangan kamu sudah berniat buruk ingin melukai kami, Hah!" Lily meninggikan nada bicaranya.

__ADS_1


"Pisau?" Alvin semakin bingung dengan tuduhan mereka.


"Ya, kakak ipar sudah membawa benda tajam ini dari rumah. Aku sangat percaya, kalau kak Luna lah yang melukai Helen. Kalau bukan, untuk apa dia membawa benda tajam ini." Yuze mengambil pisau cukur, lalu memberikannya kepada Alvin.


Alvin meraih benda tajam itu, menelitinya secara detail. Benar, ternyata pisau cukur itu memang miliknya. Alvin kembali melihat Aluna, wanita itu sekarang sudah pasrah kalau Alvin tak mempercayainya.


Ya, situasinya memang tidak menguntungkan bagi seorang Aluna. Namun, keuntungan dari jebakan Helen, misi Aluna sudah dua puluh persen berhasil. Aluna sudah berhasil berpura-pura terkena jebakan, untuk selanjutnya dia harus merubahnya menjadi cerita yang sweet untuk menyelesaikan misi ke empat ini seratus persen.


"Apa pisau ini benar milik Kakak?" Yuze kembali melontarkan pertanyaan, "kalau memang benar, kami merasa kecewa, karena jauh di dalam pikirannya ternyata kakak ipar sudah berniat buruk kepada kami," tambahnya.


Alvin mengangguk pelan membenarkan kalau pisau itu miliknya. Tetapi, dia tak percaya sedikit pun kalau Aluna lah yang menyakiti Helen. Alvin mengingat kembali kejadian kemarin, ketika Helen berusaha memfitnah istrinya dengan video mesum bersama Devan. Jelas itu sudah membuat Alvin teguh semakin mempercayai istrinya.


Aku tidak percaya! Tetapi, untuk apa kamu ke sini? Lalu untuk apa kamu membawa pisau cukur ini, Luna? pikir Alvin.


Banyak pertanyaan memenuhi otak lelaki berkulit putih itu. Alvin menatap lekat mata Aluna, yang tidak ada rasa memelas sedikit pun kepadanya. Pikirnya, istrinya itu terlalu mandiri untuk menyimpan masalahnya sendiri.


"Tuan, aku sangat ....."


Belum sempat Helen meneruskan ucapannya, Alvin sudah menyelanya, "Diam!" serunya.


"Tapi, Kak! Itu artinya Kak Luna sudah mengancam kami" Lily menyela lagi.


"Benar! Jadi kamu akan membiarkan istrimu melukai orang lain begitu saja? Kalau aku jadi suaminya, sudah pasti aku akan memberi pelajaran kepada istriku. Aku sebagai keluarganya pun sangat malu dengan kelakuan kriminal kakak ipar. Harusnya kamu lebih tegas, Kak!" Yuze mengompori Alvin agar memarahi Aluna.


Alvin berdiri tenang, dia terdiam beberapa detik memikirkan apa tindakan selanjutnya. Bagaimanapun juga dia adalah suaminya, Alvin harus bertanggung jawab atas tindakan istrinya.


"Tinggalkan kami berdua! Aku yang akan mengurus istriku sendiri!" seru Alvin.

__ADS_1


###


__ADS_2