
Tidak hanya ponsel Aluna yang bergetar, tetapi juga ponsel Alvin. Tadinya Alvin tak ingin mengangkat panggilan masuk di teleponnya, namun karena panggilan itu tak jua berhenti, Alvin terpaksa mengangkatnya.
^^^"Alvin, pulang sekarang ke rumah. Nenek ingin semua keluarga berkumpul, ada hal penting yang ingin kita bicarakan," kata Clara lewat telepon.^^^
"Tapi, Bu. Aku sedang ada keperluan penting. Bisakah aku tidak hadir untuk kali ini?" tanya Alvin.
^^^"Tidak bisa! Pertemuan sekarang akan membahas tentang Luna dan anaknya. Batalkan seluruh pertemuan. Semua keluarga harus datang tanpa terkecuali!"^^^
"Apa Lily dan Yuze juga hadir?"
^^^"Tentu saja. Mereka sudah dalam perjalanan ke Mansion. Cepat pulang Alvin, kalau tidak nenek akan marah," kata Clara lagi.^^^
Mau tak mau Alvin terpaksa mengiyakan. Telepon ditutup, dia lalu mengambil foto Zero dan melihat gambar diri itu dengan lekat.
"Apa kita harus pulang sekarang?" tanya Aluna, dia tak sengaja mendengarkan pembicaraan Alvin di telepon.
Alvin mengangguk. Dibukanya lagi ponsel, dia melihat sebuah pesan masuk dari temannya. Dia membalas pesan Alvin, mengatakan kalau mereka sedang meneliti lokasi keberadaan Zero lewat data base foto dan identitasnya.
"Zero tidak ada di sini. Tapi mereka sedang mengupayakan mencari keberadaan Zero secepatnya. Asisten Jo juga sudah memerintahkan seluruh anak buahnya menyisir wilayah ini. Masing-masing dari mereka sudah menerima foto Zero. Apa yang harus kita lakukan sekarang? Nenek menyuruhku kembali. Lily dan Yuze pun sedang dalam perjalanan pulang ke mansion," ujar Alvin.
Aluna mengambil ponsel tersebut lalu mengirimkan pesan balasan kepada teman Alvin. Aluna mengatakan kalau mereka tak boleh lengah membuntuti Sembo dan istrinya di hotel.
Tadinya Aluna tidak ingin ikut pulang. Tetapi ketika dia mendapatkan kabar kalau Ara sedang dalam masalah, dia pun ikut pulang.
"Bukankah kamu bilang bukan berasal dari dunia ini, harusnya kamu bisa menerawang di mana anakku sekarang?" tanya Alvin.
__ADS_1
Aluna menghela napas pelan. Sebenarnya Aluna sendiri sedang kecewa dengan sistem karena tidak bisa membantunya menemukan Zero. Namun ketika sistem memberitahukan kalau Zero baik-baik saja, dia cukup tenang.
"Aku bukan peramal, Alvin. Tetapi aku janji besok akan berusaha mencari Zero lagi. Kita pulang sekarang. Nenek akan marah kalau kamu tak datang," kata Aluna menenangkan.
Saat itu juga helikopter yang membawa mereka datang mendarat tidak jauh dari tempat Aluna berdiri. Cuaca cukup terang, tidak ada kendala untuk mengantar kembali ke kota Y, tempat tinggal mereka.
Sementara di tempat lain di kamar Helen. Ara sedang merapihkan seluruh CCTV yang barusan dilepasnya. Dari arah pintu, tiba-tiba Mona datang. Wanita berambut ikal itu segera menghampiri Ara dan duduk di atas sofa sebelah ranjang.
"Helen, kenapa kamu melepas CCTVnya?" tanya Mona keheranan.
Ara terlihat gelagapan, dia benar-benar kaget dengan kedatangan Mona. "A-aku, ingin memindahkan CCTV ini di tempat lain. Sepertinya kurang pas kalau ditaruh di tempat awal. Aku ingin memindahkannya di sana. Yah, di sana saja sepertinya lebih pas untuk memantau," kata Ara sambil menunjuk atap dinding dekat pintu.
Untungnya Mona mengerti dan tak mencurigai sedikit pun. Malah dia mendekati Ara menyuruhnya agar duduk santai di sofa.
"Ada yang ingin Mommy bicarakan," kata Mona, "apa Lily sudah menemukan anak Luna yang dia tinggal di desa dekat pegunungan?"
"Anak? Pegunungan?"
"Yah, Luna meninggalkan anak lelaki yang dia lahirkan lima tahun yang lalu di pemukiman dekat pegunungan. Bukankah kemarin kamu mengatakannya sendiri?" tanya Mona, terlihat kedua alisnya yang terlihat mengkerut.
Ara mengingat-ingat lagi isi novel yang dia baca, dia mengingat lagi apakah protagonis wanita memiliki anak atau tidak? Tetapi semakin mengingatnya, Ara malah bertambah pusing. Setiap kali dia memasuki dunia novel, semua ingatan tentang plot novel ini tiba-tiba menghilang. Dia sendiri tidak tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
Daripada Mona curiga, Ara terpaksa mengiyakan dan membenarkan. "Ah, benar sekali. Aku hampir saja lupa tentang hal itu," kata Ara sambil menggaruk kepalanya.
Sepertinya aku harus mengorek informasi tentang Luna dari wanita ini. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi, aku yakin kakak akan kaget sekaligus senang karena dia sudah memiliki seorang anak, batin Ara.
__ADS_1
"Lalu bagaimana cerita selanjutnya? Apa Lily menghubungi Mommy langsung?" tanya Ara.
"Kamu hubungi Lily sekarang, dan cari tahu kabar selanjutnya mengenai anak itu," usul Mona.
Saat itu juga Ara menurut dan mengirimkan banyak pesan menanyakan perkembangan pencarian mereka. Sambil menunggu kabar dari Lily, Mona banyak menceritakan keburukan Luna dulu sebelum menghilang saat melahirkan.
Hampir dua jam lamanya mereka mengobrol, kali ini Ara terlihat santai daan tidak canggung lagi menghadapi Mona. Menurut Ara, anggap saja dia sedang mengobrol dengan ibunya yang sudah meninggal.
"Mommy ngantuk. Kamu istirahat saja ya, Nak. Kalau ada kabar dari Lily beritahukan ibumu. Mommy kembali ke kamar dulu ya," kata Mona lalu pergi meninggalkan Ara sendirian di kamar.
Setelah kepergian Mona. Ara kembali membuka-buka ponsel Helen. Lily membalas pesannya kalau anak itu belum ditemukan, tapi dia sudah memastikan kalau anak itu adalah milik Luna.
Karena Aluna belum kembali, Ara bosan dan kembali membuka ponsel Helen. Ara ingat Noah dan mencari kontak nomor milik Noah yang sengaja dia samarkan namanya. Tentu saja Helen tak sadar memiliki nomor Noah karena Ara menyembunyikannya dengan nama lain.
[Noah, bagaimana kabarmu hari ini?]
Ara mengirimkan pesan kepada Noah saat itu juga.
Selang beberapa detik, Noah langsung membalas pesannya. Lelaki itu yakin Ara sudah kembali karena tak mungkin Helen yang mengirim pesan padanya.
^^^[Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Kamu Ara' kan?]^^^
[Yah, aku Ara. Aku sangat merindukanmu, Oppa. Bisakah kita bertemu sekarang?"]
Noah di seberang sana langsung berbinar begitu Ara mengatakan kalau dia merindukannya. Karena sejujurnya perasaan Noah pun sama.
__ADS_1
^^^[Aku juga sangat rindu. Bisakah kita bertemu sekarang? Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan.]^^^