
Setengah jam kemudian, Ara sudah siap mengenakan dress biru toska dengan gincu berwarna merah muda. Dia terlihat percaya diri dengan tampilan yang mirip boneka kesukaannya.
"Iya tunggu aku di bawah. Aku akan segera turun," kata Ara di telepon. Baru saja Noah menghubunginya mengatakan kalau dia sudah sampai depan rumah.
Ara menutup pintu kamarnya. Sebelum dia benar-benar turun ke lantai satu dia bercermin lagi di depan kaca yang menempel di dinding.
"Sepertinya sudah cukup cantik tampilanku malam ini," kata Ara, dia merapihkan rambut berwarna kuningnya yang tergerai, menjepit ujungnya dengan pita kecil berwarna hitam, "sangat manis," imbuhnya lagi.
"Mau ke mana kamu, Nak?"
Pertanyaan Mona membuat Ara yang sedang bercermin terkaget. Dia langsung membalikkan badan, dan langsung meminta izin kepada wanita itu untuk keluar sebentar.
"Mommy, aku minta izin menemui temanku sebentar malam ini," kata Ara.
Mona melirik Ara, melihat tampilan gadis itu dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dandanan Ara terlihat norak, riasannya berlebihan tak seperti Helen biasanya.
"Lihatlah, warna gaun dan lipstikmu tidak senada. Dengan tampilanmu yang seperti ini, kamu tak terlihat anggun sama sekali. Justru sangat kekanakan dan norak," kata Mona membalikkan tubuh Ara lagi, agar melihat ke depan cermin memberikan saran.
Ara menggelengkan kepalanya pelan. Menurutnya tidak ada yang aneh pada tampilannya, justru terlihat manis dan menggemaskan. Dia yakin, Noah pun pasti menyukainya.
"Tampilan seperti ini sedang trend, Mommy. Warna lipstik merah muda dengan gaun toska seperti ini sedang banyak diminati generasi muda. Apalagi rambutku yang kuning sangat lucu. Penilaian Mommy terlalu kuno," jawab Ara tak memperdulikan saran Mona, "aku pergi sebentar. Temanku sudah menunggu. Daah, Mommy."
Ara melambaikan tangan lalu berjalan menuruni ank tangga tanpa menoleh. Dia tak memperdulikan Mona yang masih terbengong.
"Ya, Tuhan. Ada apa dengan putriku lagi? Apa penyakit bipolarnya kambuh lagi?" Mona menggelengkan kepala, melihat anaknya sedang menuruni tangga dan mengacuhkannya.
"Sebenarnya ingin ke mana Helen. Dia bilang sangat lelah, kenapa dia malah keluar lagi?" Timbul tanda tanya besar di kepala Mona. Masih merasa penasaran, Mona memutuskan untuk terus mengamati Ara.
"Siapa lelaki itu? Sepertinya aku mengenalnya?" gumam Mona mengamati dari jendela lantai dua.
Sementara di bawah, tidak jauh dari halaman luar rumah Hideon. Seorang lelaki mengenakan pakaian kasual sedang duduk di atas mobilnya. Dari raut wajahnya terlihat berbinar-binar. Sesekali lelaki tersebut menengok ke arah gerbang. Ya, lelaki itu adalah Noah. Dia tidak sabar menunggu kedatangan Ara.
Beberapa detik kemudian. Seorang wanita mengenakan heels dan gaun berwarna biru toska keluar dari balik gerbang. Setelah pintu tertutup sempurna, gadis itu langsung berlari dan memeluk Noah.
"Oppaaa ...," teriaknya keras memanggil Noah, "maaf sudah membuatmu menungguku lama?" Tanpa rasa canggung sedikit pun Ara langsung memeluk tubuh lelaki di depannya.
__ADS_1
Sejenak Noah terperanjat. Namun akhirnya dia pun membalas memeluk Ara. "Aku baru sampai. Bagaimana kabarmu?" balasnya sambil tersenyum.
Padahal mereka baru berpisah seminggu. Tetapi keduanya merasa seperti tak bertemu bertahun-tahun. Ara tak memperdulikan apa pun. Refleks dia tak malu memeluk Noah. Ara tak tahu kalau Mona sedang memperhatikannya dari atas.
"Aku baik-baik saja. Aku sangat merindukanmu. Sudah lama kita tidak bertemu, Oppa. Apa kamu ingin mengajakku berkencan?" Tanpa ragu-ragu Ara mengutarakan keinginannya.
Noah mengangguk. "Malam ini aku akan mengantar tuan putri ke mana pun. Sekarang katakan, kencan seperti apa yang tuan putri inginkan?" tanya Noah. Dia benar-benar tulus ingin menyenangkan Ara malam ini.
Ara diam sejenak sambil berpikir. Sebelum dia mengenal Noah, dia pernah membuat catatan kecil apa saja yang dia ingin lakukan saat berkencan.
"Aku ingin pergi berkencan berdua dan berlari-lari ke bibir pantai sambil menyalakan kembang api. Aku sangat suka pantai," kata Ara dengan nada manja.
Noah mengelus pelan pucuk rambut Ara. Tak ada dipikiran sedikit pun kalau perempuan di depannya itu sebenarnya Helen. Keduanya sama-sama saling merindukan dan ingin meluapkan perasannya malam ini dengan pergi bersama.
Noah membukakan pintu samping mobilnya menyuruh Ara masuk. Beberapa detik kemudian, keduanya sudah ada di dalam mobil dengan Noah duduk di belakang kemudian bersebelahan dengan Ara.
"Kamu benar akan mengajakku ke pantai?" tanya Ara terlihat malu-malu. Pipinya terlihat merah merona, dia mulai sadar kalau barusan dia sudah memeluk Noah.
"Tentu saja. Aku sudah janji membawamu ke mana pun," sahut Noah.
Noah tersenyum, dia terlihat gemas akan kelakuan Ara.
Barusan dia terlihat blak-blakan. Kenapa sekarang tampak malu? Ah' kenapa malam ini dia sangat menggemaskan? Batin Noah.
"Tidak masalah," jawab Noah menoleh melihat gadis di sebelahnya, "aku juga menyukainya," sambungnya lagi.
"Benarkah?" Ara tersipu malu, "tapi ... bagaimana dengan pacarmu Lisa?"
Noah mengembuskan napas pelan. Dia sebenarnya tak suka membahas masalah Lisa malam ini. "Kami sudah putus. Bisakah kita bahas yang lain saja?"
Mendengar mereka sudah putus, Ara sangat senang. Kali ini dia merasa tak bersalah kalau mengajak Noah berkencan.
"Baiklah. Maaf tadi aku sudah lancang mengajakmu berkencan. Padahal aku bukanlah pacarmu," kata Ara.
"Anggap saja aku pacarmu," kata Noah dengan percaya diri.
__ADS_1
Ara tertawa. Semudah itu Noah mengatakan dia adalah pacarnya, sementara menurut Ara, mereka belum memiliki status yang jelas. "Kita belum memiliki status yang jelas."
"Aku ...." Tanpa disengaja keduanya berkata berbarengan.
"Ah' kamu duluan saja," ucap Noah mengalah.
"Tidak, kamu duluan saja," jawab Ara masih tersipu malu.
Lagi-lagi Noah mengembuskan napasnya. Dia masih belum menstabilkan jantungnya yang dari tadi berdetak tak beraturan dengan mulutnya. Rasanya bibir Noah masih kelu untuk mengutarakan isi hatinya saat itu.
"Aku .... aku menyukaimu. Agar status kita jelas. Maukah kamu jadi pacarku?" tanya Noah. Walaupun terlihat tak begitu romantis, tapi rasanya lega sekali. Ada sensasi tersendiri ketika dia mengutarakan perasannya kepada Ara.
Sementara Ara, tak beda jauh dari Noah. Jantungnya yang dari tadi berdetak tak beraturan kini berdetak semakin cepat. Dia gemetar saat Noah meminta dirinya untuk menjadikannya pacar.
"Aku .... aku mau," jawab Ara pelan sambil menunduk menyembunyikan wajahnya yang malu.
Setelah mengatakan sama-sama suka, keduanya mendadak saling terdiam. Susana mendadak hening, keduanya seakan larut dalam kegembiraan masing-masing.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa penampilanku terlihat aneh?" tanya Ara terlihat salah tingkah.
Noah menggeleng. "Tidak, Nona. Penampilanmu sangat cantik. Aku cuman ingin mengatakan cepat pakai sabuk pengamannya."
"Oh, hampir saja aku lupa."
Ara baru ingat dia belum memakai sabuk pengaman. Saat itu juga dia mulai melingkarkan sabuk pengaman itu di tubuhnya. Sayangnya karena tangannya gemetar, sabuk itu sangat susah sekali terpasang dengan pas.
"Biar aku bantu," kata Noah.
Ketika Noah sudah selesai memasangkan sabuk pengaman, pandangan mereka tak sengaja saling bertemu.
Malam itu suasana sangat sepi. Di samping kanan dan kiri mobil mereka tak ada satu pun manusia yang lewat. Entah sinyal dari mana, saat wajah mereka saling mendekat, tiba-tiba saja mata Ara terpejam. Tak ingin melewatkan kesempatan itu, Noah sedikit memiringkan wajahnya lalu mencium bibir Ara dengan lembut.
Keduanya larut dalam keheningan saling menikmati dengan bibir saling berciuman. Itu adalah ciuman pertama Ara. Dia begitu bahagia karena ada lelaki yang membalas cintanya.
Sementara tidak jauh dari mereka, Mona berjalan tergesa-gesa menuruni anak tangga. Dia berniat ingin menarik anaknya keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
"Siapa lelaki itu? Beraninya dia mendekati putriku!"