
"Apa kamu sudah menyelesaikannya?" tanya Alvin begitu Noah dan Ara sampai ditempatnya, "duduklah!"
Wajah Ara tampak merah merona, membuat Aluna yang sudah duduk bersama Alvin sepuluh menit yang lalu bertanya-tanya dalam hati. Kenapa dengan perilaku Ara? Tak biasanya Ara bersikap seperti itu selama hidupnya.
"Lisa dan orang tuanya sudah pulang. Terima kasih Alvin sudah membantuku. Tadi ayah lupa mengucapkan terima kasih," kata Noah seraya menarik dua kursi untuk diduduki dirinya dan Ara, "maaf sudah menunggu lama. Apa tadi Tuan Glu mengejarmu?"
"Aku tak peduli."
"Hay Luna, senang bertemu denganmu." Sapa Noah.
Aluna menanggapi dengan senyuman. Dia pun sebenarnya tak terlalu mengenal siapa Noah. Dia mencurigai kalau Ara memiliki hubungan dengannya.
"Namaku Aluna. Terima kasih sudah menolong adikku. Ara pernah bercerita kalau kamu pernah menolongnya. Apa kamu percaya kalau kami--" ucapan Aluna terpotong sambil melirik Ara.
"Ah aku lupa kalau kamu juga bukan Luna. Walaupun aku masih bingung. Setidaknya aku sedikit mempercayai ucapan Ara tentang perpindahan dimensi," sahut Noah.
Terlihat Alvin mengerutkan keningnya. Seakan membenarkan apa yang dikatakan Noah kalau dia bukanlah Helen yang asli. Meskipun dia percaya, tetap saja lelaki itu terlihat waspada dengan kehadiran Helen di tengah mereka.
Sedangkan Helen, ia terlihat diam saja. Pipinya masih merona menandakan kalau gadis itu sedang jatuh cinta pada seorang lelaki. Dia sendiri terus menunduk tak berani menatap manik mata kakaknya yang dari tadi seperti sedang menyelidik, sama halnya seperti lelaki di sebelahnya. Walaupun tak mengeluarkan satu pun kata, dilihat dari cara Alvin melihat, Ara merasa seperti sedang diinterogasi.
"Aku sangat haus. Aku ingin minum." Ucapan Ara memecah keheningan.
"Minum saja. Ini punyaku," sahut Aluna menyodorkan segelas soda berwarna merah.
__ADS_1
"Kalau kurang, aku akan memesannya lagi untukmu. Sebagai ucapan terima kasihku, Aku akan mentraktir kalian semua makan," kata Noah.
"Ah' terima kasih. Kebetulan sekali." Tanpa canggung sedikit pun Ara langsung menyedot es soda pemberian Aluna. Melihat sikap Helen yang hangat, Alvin semakin merasakan keanehan yang dianggapnya seperti nyata.
"Kakak? Apa benar kamu bukan Helen? Aku bahkan tidak pernah melihat Helen seakrab itu dengan Luna apalagi memanggil dengan sebutan kakak." Alvin terus melihat saksama wajah Helen tanpa berkedip.
Ara menegakkan posisi duduknya agar lebih nyaman lagi. Selain Noah dan Aluna, dia pun sudah mengenal siapa Alvin dan perannya di dalam plot novel. Diamati sedemikian rupa, membuat gadis itu tak sadar kalau soda yang dia sedot sudah tak tersisa di dalam gelas.
"Memang benar aku bukan Helen. Namaku Arabella. Aku adiknya Kak Aluna. Senang bertemu dengan Anda, Presdir Alvin." Ara sedikit menundukkan kepalanya memberi hormat.
"Apa kamu sedang tidak berakting, Nona Helen?"
"Dia benar Alvin. Mungkin, kamu tidak akan percaya. Tetapi semua ini nyata. Dia bukan Helen, melainkan jiwa adikku. Aku dan Ara sama-sama terjebak di sini," kata Aluna.
Kalau dilihat dari sudut mana pun dia adalah Helen. Tetapi, dilihat dari sikapnya yang lebih hangat, sepertinya memang benar. Helen memang pandai berakting, namun, untuk merubah warna rambut sampai memakai pakaian kasual dengan riasan natural seperti itu, hal yang tak mungkin dilakukan Helen. Ya, bertahun-tahun bersama Helen, dia tahu kalau Helen sangat tidak menyukai warna kuning..
"Lalu bagaimana dengan adikku?" tanya Aluna.
"Pergilah! Aku tak ingin mengganggu kencan kalian," kata Noah kepada keduanya.
"Ya, pergi saja, Kak. Aku bisa pulang sendiri menggunakan taksi," sahut Ara menambahi.
"Apa! Aku tidak setuju. Hari sudah malam, aku khawatir kalau kamu pulang sendiri," kata Aluna.
__ADS_1
Aluna menarik napas panjang lalu melirik ke arah Alvin, berharap lelaki itu juga memperbolehkan Ara juga ikut bersama. Sayangnya, mimik wajah Alvin malah menunjukkan ekspresi penolakan.
"Jangan khawatir aku yang akan mengantarnya pulang." Noah menyela pembicaraan.
Tetap saja Aluna merasa keberatan Meninggalkan adiknya bersama Noah. Bagaimana pun juga dia belum terlalu mengenal siapa Noah. Enggan rasanya menolak ajakan Alvin, sementara dia sendiri sedang mengumpulkan sepuluh tas saran, harus banyak berinteraksi dengan Alvin agar Ara bisa terus bersamanya.
"Sebentar. Aku ingin berbicara dulu dengan adikku." Aluna menarik halus tangan Ara, berjalan mencari tempat untuk berbicara berdua.
Di sudut lorong kafe, Aluna menghentikan langkahnya lalu berkata pelan kepada Ara, "aku ragu meninggalkanmu. Kamu tidak boleh kedinginan dan harus minum obat sebelum tidur. Bagaimana kalau penyakitmu kambuh lagi?"
"Kak, kita bukan di dunia nyata sekarang." Nada bicara Ara terlihat meyakinkan, "pergilah, Kak. Aku bisa menjaga diri dengan baik di sini. Apa kakak tidak ingat kalau aku sedang berada di tubuh Helen yang sangat sehat. Lagipula, Noah juga bukan lelaki yang jahat."
Aluna menepuk jidatnya. Terbiasa mengurus adiknya yang sakit membuat Aluna tidak ingat kalau Ara sedang berada pada tubuh Helen.
"Ah' aku lupa. Apa kamu menyukai Noah? Sepertinya aku merasa ada yang berbeda dengan tatapanmu terhadap lelaki itu?" tanya Aluna menyelidik.
Ara menarik sudut bibirnya ke atas. Tentu saja jawabannya iya. "Aku hanya ingin menikmati hidup dengan tubuh yang sehat ini, Kak. Aku ingin merasakan masa muda seperti perempuan lainnya."
Aluna mengerti apa maksud dari ucapan Ara. Sebenarnya Aluna merasa khawatir. Namun, mendengar alasan Ara, membuatnya mengiyakan dan akhirnya mengizinkan.
"Baiklah. Lakukan sesuka hatimu, Ara. Ingat, jangan sampai tertidur. Katakan kepada Noah kalau kalian sering bertukar jiwa, agar Noah tak kaget nantinya."
Beberapa menit setelahnya, Aluna kembali ke dalam kafe. Dia melihat di meja tadi sudah tidak ada Alvin. Rupanya lelaki itu sudah menunggunya di dalam mobil.
__ADS_1
"Aku titip adikku. Kalau apa-apa dengan Ara. Hubungi Alvin secepatnya," ucap Aluna kepada Noah.
Saat itu juga Aluna meninggalkan Noah dan Ara di dalam kafe. Berjalan sendirian menemui Alvin yang sudah menunggunya di depan.