TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Bertemu Lagi


__ADS_3

Ara berjalan pelan mendekati pintu gerbang rumah Helen. Sambil berjalan, dia membaca berulang kali kertas kecil yang dipegangnya. Ya, itu adalah kartu nama Helen yang ada di dompet.


"Olivia Helen Tanuel. Kita sangat mirip. Hanya saja rambut kita berbeda. Rambutku di dunia nyata nyaris botak, sedangkan kamu sangat beruntung memiliki rambut hitam yang lebat dan sehat."


Ara memegang rambutnya yang pendek sebahu. Ditariknya sedikit kencang rambut itu, memastikan kalau rambut itu kuat dan tidak rontok. Ara tersenyum tipis. Ya, meskipun bukan tubuh miliknya yang asli, setidaknya Ara bisa merasakan masuk berada pada tubuh wanita sehat dan memiliki rambut yang sehat.


"Harusnya aku senang berada di sini. Memiliki tubuh yang sehat dan seorang ibu yang menyayangi anaknya. Tetapi, bukan itu kebahagiaanku. Aku lebih baik kembali ke tubuh asliku yang sakit, asal bertemu dengan Kak Aluna dan menghabiskan sisa hidupku bersamanya." Ara berbicara pada dirinya sendiri.


"Terima kasih pelayan," kata Ara menunduk hormat kepada salah satu pelayan yang membukakan pintu untuknya.


Tentu saja kelakuan Ara sangat bertolak belakang dengan Helen yang arogan. Helen tidak mungkin sesopan itu terhadap orang yang lebih rendah darinya, apalagi kepada pelayan. Pelayan itu pun begitu tercengang karena baru kali ini mereka merasa dihargai.


"Sama-sama, Nona muda."


Tindakan Ara yang mengucapkan terima kasih ternyata dilihat Aluna dari atas. Dia sudah berdiri di atas tangga, lima menit sebelum Ara masuk.


Sayangnya Ara tak melihat, gadis itu dengan santainya menginjakan kakinya satu demi satu melewati anak tangga. Dia sangat lelah dan ingin segera beristirahat di kamar.

__ADS_1


Dengan gerakan cepat, sebelum Ara berbelok dan sampai di depan kamarnya, Aluna menahan langkah Ara dengan memegang bahunya dari belakang.


"Seenaknya saja kamu berkeliaran bebas setelah memfitnahku, Helen!" ketus Aluna tanpa berbasa-basi.


Mendengar ada yang memanggil nama pemilik tubuhnya, Ara pun langsung menoleh. Begitu kagetnya dia ketika tahu yang berbicara kepadanya adalah tokoh utama dalam novel yang dia baca.


"Eum ... aku ...." Ara tak berani menatap Aluna. Dia hanya bisa menelan ludah, bingung untuk mulai bicara dari mana guna membalas ucapan Aluna tersebut. Ada hal yang tidak bisa diceritakannya kepada Aluna.


"Besok aku akan melaporkanmu ke polisi. Jadi bersiap-siaplah karena polisi akan segera menjemputmu, Helen." Aluna tersenyum miring menyindir Ara.


Yang Aluna pikir wanita di depannya akan menolak dan melakukan pemberontakan. Aluna yakin kalau Helen akan mengelak. Atau mungkin dia akan melakukan perlawanan dengan fitnah lain yang dia buat.


Seketika Ara langsung mendongak, di detik itu juga memberanikan diri melihat Aluna. Ara sebenarnya ingin mengungkapkan kalau dia bukanlah Helen. Memberitahukan kebenaran kalau dia adalah Ara. Namun, karena melihat tatapan tajam Aluna yang seakan membidik, diurungkannya niatnya itu karena takut.


"Ma-maafkan aku, Kak Luna. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Ara kembali menunduk. Rasa takut itu benar-benar sedang menguasai tubuhnya. Pikirnya, lebih baik dia meminta maaf daripada masalah Helen berlanjut ke meja hijau. Dia tidak ingin berurusan dengan polisi. Apalagi dia tak tahu sampai kapan berada pada tubuh Helen.


Ya, sebenarnya Ara tahu karakter protagonis utama yang begitu bodoh. Namun, Ara merasa sikap Luna sangat berbeda dengan karakter yang dia baca. Ara pikir mungkin penyebab perubahannya lantaran protagonis utama terlalu banyak difitnah, membuat perilaku Luna menjadi kasar. Ara sudah membaca novel sebagian, sampai bab ketika botol ditemukan, selebihnya dia sendiri tidak tahu alur novel itu selanjutnya.

__ADS_1


"Hah, aku tidak yakin kamu menerimanya begitu saja. Aku yakin kamu akan mengelak semua perbuatanmu!" seru Aluna.


"Aku tidak mengelaknya. Ya, memang aku pelakunya. Tolong jangan perpanjang masalah ini. Aku minta maaf dan berjanji tak akan mengulanginya lagi," balas Ara.


Mendengar wanita di depannya meminta maaf dan meminta mengakhiri masalah. Aluna begitu terkejut. Menurut Aluna, sikapnya sangat berbeda dengan Helen. Menurutnya lagi, sikapnya itu lebih mirip dengan adiknya. Terutama setiap kali Aluna memarahinya karena telah melakukan kesalahan di dunia nyata.


Namun, Aluna segera menepis pikiran itu. Karena bisa saja itu adalah akal-akalan Helen agar tidak dibawa ke kantor polisi. Untuk sementara ini, Aluna masih mengamati gerak-gerik Helen terlebih dahulu.


"Nona," sapa seorang pelayan kepada Ara dan Aluna.


"Yah," jawab mereka berbarengan.


"Tuan Hideon menunggu Anda di ruangan keluarga. Kata tuan Hideon, ada hal penting yang akan dibicarakan," ucap pelayan itu lagi.


Aluna dan Ara saling melirik sekilas.


"Baiklah, tunggu sebentar. Aku ingin mengganti bajuku dulu," kata Ara. Wanita itu lalu masuk ke dalam meninggalkan Aluna.

__ADS_1


"Apa yang ingin ayahku bicarakan?" tanya Aluna kepada pelayan.


"Aku tidak tahu banyak, Nona. Tetapi dari yang aku dengar, sepertinya Tuan Hideon ingin membicarakan saham."


__ADS_2