TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Mengikuti Aluna


__ADS_3

Ternyata tak begitu sulit mendapatkan tas saran, batin Aluna.


"Suamiku, apa Anda ingin memakan kue ini lagi?" tanya Aluna kembali menyodorkan sendok.


Aluna tidak tahu, kalau dari tadi Alvin memperhatikan gerak-geriknya. Istrinya yang biasanya diam setiap acara makan malam bersama, kini mendadak menjadi sangat mengintimidasi.


Alvin membalas pertanyaan Aluna hanya dengan menggelengkan kepalanya pelan. "Kalau kue itu enak. Makanlah!" serunya lembut kepada Aluna.


"Aku sudah memakannya sebelum menyuapimu, suamiku," jawab Aluna tersenyum tipis.


Kenapa dari tadi dia menatapku? Batin Aluna sembari mengalihkan pandangan matanya.


Karena kamu tak seperti biasanya, Luna! Batin Alvin.


Susana kembali canggung dirasa Aluna, dari tadi tatapan mata Alvin tak beralih melihatnya. Ya, dia merasa tak nyaman. Akhirnya, Aluna memutuskan untuk pergi ke kamar kecil, ingin menenangkan pikirannya sejenak sembari bertanya kepada sistem.


"Suamiku, aku izin ke kamar kecil sebentar," ucap Aluna kepada Alvin.


Setelah Alvin mengiyakan, Aluna bergegas meninggalkan ruang tengah.


Keluarga yang lain tidak terlalu memperhatikan gerak gerik Alvin dan Aluna, mereka tengah asik dengan topik obrolan baru. Entah apa yang mereka bicarakan? Yang jelas Alvin tidak terlalu peduli dan ambil pusing, lelaki itu sedang fokus dengan sikap istrinya yang berubah.


Sebaiknya aku mengikutinya.


Sesaat setelah Aluna pergi, tanpa sepengetahuan istrinya, Alvin berinisiatif mengikutinya dari belakang.


***


"Kenapa acara makan malamnya lama sekali?" gerutu Aluna sambil berjalan cepat mendekati pintu kamar mandi.


Aluna menarik napasnya lalu menghembuskan pelan. Perdebatan tadi membuatnya sedikit pusing.


"Padahal aku ingin beristirahat di kamar sambil menunggu jam dua belas malam," gumam Aluna lagi.


Sekarang kaki jenjangnya sudah menapaki lantai kamar mandi, lalu menutupnya pelan. Aluna berjalan mendekati cermin besar yang menempel di dinding, melihat sekilas wajahnya di cermin.


Ternyata berpenampilan anggun seperti ini, tidak begitu buruk, sayangnya gaun Luna tak membuatku nyaman.


Aluna yang terbiasa menggunakan baju longgar, tampak terasa sesak menggunakan gaun yang terlalu ketat di tubuhnya. Kemudian Aluna melonggarkan resleting bajunya yang ada di belakang, merilekskan tubuhnya sejenak.


Harusnya tadi aku tidak memakai gaun ini! Hem ... Mumpung tidak ada orang, sebaiknya aku bertanya sebentar kepada sistem.

__ADS_1


Aluna lalu menepuk kalung sistem. "Miss K," panggilnya.


Beberapa detik tak menjawab, Akhirnya kalung itu berkedip. "Miss K, beritahu aku apa misi selanjutnya? Agar aku bisa mempersiapkannya sekarang!" tanya Aluna. Meskipun suaranya tak keras, namun sangat menggema di kamar mandi.


...Sistem menjawab, [Anda bisa mengetahuinya jam dua belas malam, Nona!" ...


"Kenapa kamu pelit sekali, apa salahnya mengatakannya sekarang!" teriak Aluna karena kesal.


Belum sempat sistem menjawab lagi.


Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka dari luar.


Krek.


Terlihat Alvin memasuki kamar mandi.


"Dengan siapa kamu berbicara?" ketus Alvin masih memegang pintu. Rupanya lelaki itu sudah mengupingnya dari luar.


"Hah! Tu-tuan!"


Melihat ada lelaki yang berani memasuki kamar mandi yang sama dengannya, Aluna langsung terkejut, matanya membulat sempurna, buru-buru Aluna menutupi bagian tubuh belakangnya, menghadap ke arah Alvin. Tangannya dengan cepat ia arahkan untuk menutup resleting belakang gaunnya.


Kenapa dia malah mengikutiku? Bagaimana ini? kenapa susah sekali aku meresleting baju ini, gumam Aluna.


Ah' Kenapa malah tersangkut? Bagaimana ini?


Masih menahan rasa geramnya, Aluna mencoba merapihkan gaunnya, agar tak miring ke samping.


"Tuan! Kenapa Anda mengikutiku sampai ke kamar mandi?" ketus Aluna dengan nada tingginya.


Krek.


Aluna kembali terperanjat saat Alvin juga mengunci pintu dari dalam, "Siapa yang kamu ajak bicara barusan?" tanya Alvin keras. Dia mendengar Aluna berbicara dari luar.


"A-aku tidak bicara dengan siapa pun! Kenapa Anda malah mengunci pintunya?" tanya Aluna.


Raut wajah Alvin memancarkan kecurigaan. Dengan gerakan cepat Alvin membuka pintu toilet yang terpisah dari kamar mandi. Pikirnya dalam hati ada orang lain yang bersembunyi di dalam sana.


Setelah memastikan tidak ada siapapun selain mereka berdua, Alvin kembali merasa tenang.


"Aku kira kamu sedang bersama orang lain di dalam," ucap Alvin.

__ADS_1


Aluna mundur ke belakang, mengatur jarak dari Alvin agar tak mendekatinya. "Sudah aku bilang aku tidak berbicara dengan siapa pun? Kenapa Anda malah mengikutiku sampai kesini?" tanya Aluna lagi.


"Memangnya kenapa kalau aku mengikutimu? Bukankah aku adalah suamimu, aku berhak mengikuti kemanapun!" seru Alvin.


Tanpa sengaja tatapan mata Alvin mengarah ke gaun Aluna yang tak menutup dengan sempurna. Terlihat dari tali pengaitnya yang berkali-kali hampir jatuh ke lengannya.


"Kenapa dengan gaunmu?" tanya Alvin.


Buru-buru Aluna langsung merapihkan dengan memeganginya agar tak melorot ke samping.


"Tidak kenapa-napa. Suamiku, sebaiknya Anda tunggu sebentar di luar. Beri aku waktu lima menit untuk memperbaikinya." Wajah Aluna mendadak merah padam karena malu.


Ah' kenapa dia bisa membuka pintu kamar mandinya? Padahal tadi aku merasa sudah menguncinya. Pikir Aluna.


Tentu saja Alvin bisa membukanya, hanya dia penghuni mansion yang mempunyai kunci akses ke mana pun di rumah itu.


"Tidak mau! Aku akan menunggumu di sini! Kenapa kamu menutupinya? Bukankah itu juga punyaku? Tak usah malu, sebentar lagi juga aku akan menggunakannya sekarang!" ucap Alvin tersenyum.


"Apa?" Sontak Aluna kembali kaget.


"Kenapa kamu malah kaget? Bukankah tadi kamu juga menyetujui menginginkan seorang anak?" Alvin menggigit ujung bibirnya karena tidak tahan dengan apa yang dilihatnya.


"Lepaskan tanganmu!" seru Alvin.


"Tidak!" jawab Aluna.


"Maafkan aku, Tuan! Sebenarnya saat aku mengatakan itu, aku hanya ingin membuat nenek bahagia. Aku belum siap memiliki anak tahun ini." Aluna masih menutupi tubuhnya.


Mendengar Aluna mengatakan itu, wajah Alvin langsung berubah geram. Lelaki itu maju selangkah demi selangkah mendekati Aluna yang semakin mundur ke belakang. Matanya tak berhenti melihat seksama ke wajah istrinya.


"Tuan, bagaimana kalau kita berkerja sama sekarang. Setelah satu tahun nanti, aku berjanji akan memenuhi keinginan Anda untuk memiliki anak." Aluna masih terus mengoceh sembari menjauhi Alvin.


Aluna begitu ketakutan, terlebih saat posisi tubuhnya sekarang sudah menempel ke sudut tembok. Kini, ia tak bisa memundurkan langkahnya lagi, karena Alvin sudah menguncinya.


Sebenarnya bisa saja Aluna memukul Alvin seperti ia lakukan kepada lelaki lain. Namun, ia kembali sadar statusnya sekarang adalah Luna, istrinya.


Sekarang Alvin hanya berjarak beberapa senti dari tubuhnya, Aluna masih memalingkan mukanya sembari memegang lengan bajunya yang hampir melorot. "Apa maksudmu dengan bekerja sama? Tunggu! ... entah mengapa aku merasa kamu bukanlah Luna yang aku kenal! Apa jangan-jangan kamu bukanlah Luna yang asli?" Alvin menyentuh pelan pipi Aluna.


.


.

__ADS_1


###


__ADS_2