
"Sekarang cepat katakan kepadaku apa yang ingin kamu katakan lagi?" Aluna mendudukkan pantatnya di sofa seraya meregangkan tubuhnya yang sedikit lelah. Wanita itu masih memandang sambil tersenyum ke arah Helen yang terlihat semakin geram.
Aku baru tahu ada jenis wanita yang tidak tahu malu seperti dia. Sudah aku permalukan masih saja terus mengganggu kehidupan Luna.
Helen merasa semakin marah dengan sindiran Aluna, wajahnya berubah merah padam dengan memperlihatkan kerutan diantara kedua alisnya yang hampir menyatu.
"Jadi menurutmu aku lebih buruk darimu?" ketus Helen.
"Apa dari dulu kamu belum menyadarinya? Lihat dirimu, mana mungkin Alvin akan menyukai wanita jala*ng sepertimu!" Hina Aluna lagi.
"Beraninya kamu menghinaku!" Helen bergerak maju dengan cepat, wanita itu mengayunkan tangan kanannya hendak menampar Aluna yang tengah duduk santai..
tap
Tidak kalah cepat, Aluna menahan tangan Helen yang bergerak maju ingin menampar mukanya. "Apa yang ingin kamu lakukan?!" Satu tangan Aluna lagi menahan bahu Helen, seberapa pun kuat tenaga Helen, tetap saja ia tak akan bisa mengimbangi kekuatan Aluna.
"Jangan macam-macam denganku!" ketus Aluna mendorong tubuh Helen ke lantai. Sekarang wanita itu sudah tersungkur di lantai.
"Ahhh!" teriak Helen kesakitan sembari memegang pinggangnya.
Aluna tampak puas. Namun, bersamaan dengan jatuhnya Helen, tiba-tiba sebuah suara terdengar keras di telinganya.
Drtzzz ... drtzzz .....
..."Kakak ... ini aku Ara ... kakak ...."...
Ara? bukankah itu suara adikku?
Pandangan mata Aluna mendadak kabur ketika melihat Helen di depannya. Suara teriakan itu kembali terdengar dan semakin mengeras, seakan hendak memecahkan gendang telinganya.
..."Kakak .... kakak .... ini aku Ara ...."...
Mendengar teriakan adiknya, Aluna memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Akibat dari suara itu membuat kepalanya terasa sangat berat, mendadak pusing dan matanya berkunang-kunang.
Drrrt .... drtttt ....
Kalung sistem bergetar dan tentu saja hanya Aluna yang dapat merasakannya. Hal itu terjadi akibat dari alur novel yang ia rubah, membuat sistem mendadak kacau.
...[Bug]...
...[Sistem eror]...
Kenapa dengan Luna? Kenapa dia memegangi terus kepalanya? Ini adalah kesempatanku untuk membalas perbuatannya! batin Helen tercengang.
__ADS_1
Kemudian, Helen langsung terbangun, dicarinya sebuah benda untuk mem*kul kepala Aluna. Lewat sepersekian detik pandangan matanya beralih pada botol bir yang sudah tersedia di atas nakas, sebelahnya.
Tak menunggu waktu lama lagi, Helen meraih benda itu lalu berjalan menuju Aluna yang masih memegangi kepalanya.
BUK!!
Prang!
Seketika itu pula, Helen langsung mem*ukul kepala Aluna dengan botol bir di tangannya dengan keras.
"Arghhhhh ....!" teriak Aluna seraya memegangi kepalanya yang terkena hantaman botol bir. "Apa yang sudah kamu lakukan?!"
Aluna terhuyung ke depan dan jatuh ke lantai. Ia sudah kehilangan keseimbangan ketika rasa pusing dan sakit menjalar jadi satu di kepalanya. Aluna merasakan darah segar sudah menetes dari kepalanya melewati pelipis matanya. Wanita itu mengusap tetesan darah itu dengan tangan kanannya.
Sungguh, Aluna tak pernah di perlakukan seburuk itu oleh siapa pun, apalagi oleh seorang wanita yang berani memukulnya dengan botol bir.
Mata Aluna masih terus berkunang-kunang, ia masih belum sadar sepenuhnya, sementara sistem masih dalam perbaikan dan belum stabil. Aluna melihat wajah Helen, seperti sedang melihat gambar di layar yang bergerak tak beraturan.
Drtzzz ... drztttt ....
Pukulan yang diberikan Helen sangat keras, membuat pecahan beling itu luluh lantak di lantai. Tidak hanya itu, akibat dari pukulannya Aluna tak dapat mendengar lagi suara Ara yang sedang memanggilnya.
Sistem yang masih eror itu malah menampakan ingatan Luna yang aslinya di otak Aluna. Ya, di dalam pikirannya tergambarkan jelas bagaimana ingatan Luna saat kecil bersama Helen. Saat ini, Aluna seakan sedang melihat video usang yang diputar di kepalanya.
...Luna sudah tahu dari kecil kalau adik tirinya itu mempunyai sifat seperti iblis. Ya, tentu saja hanya ia yang tahu kebusukannya dari kecil. Hanya saja Luna terlalu baik, selalu mengalah dan menutupi kebusukan adik tirinya itu. Di ingatannya, Aluna mengetahui kalau sifat iblis Helen begitu mendarah daging....
...Digambarkan di ingatan Luna, Helen pernah mencampurkan obat pencahar di makanannya ketika kecil. Tidak hanya itu, ia bahkan pernah mendorong Luna sampai terjatuh keluar dari dalam mobil....
...[Sistem telah diperbaiki]...
Kini, Aluna sudah sadar sepenuhnya, sakit di kepalanya perlahan mulai menghilang total. Ia bisa melihat wajah Helen yang kembali normal. Aluna mulai bangkit, mengusap darah yang menetes di wajahnya dengan punggung tangannya.
"KEP*RAT! Beraninya kamu menghantam kepalaku!" pekik Aluna.
Aluna memaksakan tubuhnya agar segera bangkit, lalu berjalan cepat mendekati Helen yang masih tersenyum senang melihat kepalanya yang berdarah.
BUK!
Aluna mendorong tubuh Helen ke tembok.
"Arghhh!" teriak Helen, ia tak menyangka Aluna bisa sekasar itu.
Di menit yang sama, Aluna bergerak maju mendekati Helen kembali. Matanya mendelik ke arahnya, ia masih belum puas memberi peringatan kepada wanita yang sedang tersungkur itu.
__ADS_1
"Masih saja kamu berani kepadaku!" Aluna mencengkeram kasar dagu Helen, ditariknya tubuh Helen, lalu di buangnya lagi ke tembok.
BUK!
"Aku bahkan bisa membu*uhmu sekarang juga!" Aluna melirik pecahan beling disebelahnya, timbul di dalam otaknya agar menghabisi nyawa wanita di depannya.
Helen terperanjat mendengarnya, bahkan dia tampak bertambah syok saat tangan Aluna meraih pecahan beling itu.
"Kakak ... jangan bun*h aku!" Helen mundur perlahan ketakutan.
Aluna terus berjalan mendekatinya, ia tersenyum menyeringai, matanya melotot sempurna ke arah Helen yang gemetar ketakutan.
Tentu saja Helen tak bisa melawan Aluna, tenaganya jelas bukan saingannya. Wanita itu berlari menuju pintu kamar. Namun, saat Helen beberapa langkah lagi sampai, kaki Aluna menendang kakinya, membuat Helen kembali jatuh.
"Kakak, aku yakin kamu tidak benar-benar melakukannya!" ucap Helen dengan bibir bergetar. Ia benar-benar lemah, merangkak di lantai.
"Dan bahkan bisa merusak wajahmu yang mulus itu." Aluna kembali menarik kaki Helen yang merangkak maju menuju pintu keluar, sementara satu tangannya lagi masih memegang pecahan botol.
Helen berbalik badan, kemudian berlutut di kaki Aluna. Tidak ada cara lain kecuali memohon pengampunan dari kakaknya. "Jangan bun*h aku, Kak!" pinta Helen sambil menangis.
"Kakak ... hiks!" Helen memohon belas kasihan kepada Aluna.
...Kamu jangan lakukan, Aluna....
...Kamu harus melakukannya, Aluna....
...Tidak, Aluna! Kamu bukan seorang kriminal!...
Beberapa bisikan muncul silih berganti di telinga Aluna. Wanita itu masih terus menatap tajam Helen yang sedang menangis.
###
.
.
.
###
Halo semuanya,
Sambil menunggu episode selanjutnya, aku mau rekomendasikan karya temen aku sesama author yang tidak kalah kerennya. Novel ini sama menggunakan sub genre SISTEM dan sedang mengikuti event wanita mandiri di Noveltoon.
__ADS_1