The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 100. KONTRAKSI


__ADS_3

Tiger memutar langkah kakinya untuk melepas ikatan tangan dan kaki Erent. Hendak kembali lagi pada Zero, namun lengannya tertahan oleh jemari lentik Erent. Pandangan Tiger kini terarah pada lengannya, lalu berpindah pada sepasang netra sendu wanita itu. Buliran cairan bening pun mulai berjatuhan membasahi pipinya.


Helaan napas panjang Tiger embuskan, satu tangannya mencoba melepaskan tautan tangan Erent dengan ekspresi datar. "Sebentar!" gumamnya.


Erent tentu terkejut dengan sikap Tiger. Bahkan pandangan matanya saja sudah berbeda. Sama sekali tidak ada kehangatan yang terpancar dari sorot manik abu yang sangat ia kagumi itu.


Tiger berjalan lalu berjongkok di hadapan Zero yang tengah menekan kepalanya. Dia masih shock, tidak percaya dan tidak menyangka dengan tutur kata Tiger.


"Kamu tentu tidak pernah tahu. Ayahmu pernah terlibat kasus prostitusi gelap. Namun, ia bekerja sama dengan pejabat tinggi untuk meloloskannya dari jerat hukum." Tiger mulai membuka suara.


"Saat melakukan transaksi dengan negara lain, ibuku yang bekerja sebagai seorang penerjemah, tentu tahu semua perbincangan mereka. Usai melakukan pertemuan, ayahmu tidak segan menghabisi nyawa ibuku. Dia tentu merasa terancam, karena ayahku adalah seorang agen CIA." Dada Tiger mulai mengembang dan mengempis dengan kuat.


"Tentu saja kamu pasti sudah bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya. Dan dengan kekuatan ayahmu, lagi-lagi dia lolos dari jerat hukum karena melakukannya dengan bersih," sambung Tiger menyeka cairan bening di kedua sudut matanya.


Tubuh Zero mendadak lunglai seolah tak bertulang. Ia kembali menghunuskan tatapan tajam pada Tiger, sudut bibirnya terangkat hingga terbentuk senyum sinis. "Kau pintar sekali mengarang cerita!"


"Kamu yang bodoh karena tidak menyelidiki sampai tuntas!" sembur Tiger tidak mau kalah. Ia meraih gawai dari saku jas, lalu jemarinya bergerak cepat.

__ADS_1


Manik abu Tiger kembali bersirobok dengan netra Zero. "Buka dan cermati semua bukti! Tidak akan ada asap jika tidak ada api. Hentikan semuanya sampai di sini. Jangan ada lagi korban selanjutnya. Kita impas, sama-sama bisa merasakan kehilangan orang tua. Kau beruntung 30 tahun masih bisa merasakan kehadirannya. Bagaimana kalau kau jadi aku?" tuturnya dengan nada rendah namun penuh penekanan.


Sadar akan statusnya yang segera menjadi ayah, Tiger berniat mengakhiri dengan jalur damai. Jika terus digali, tentu akan semakin menyakitinya. Dia berniat menutup kubangan luka yang menganga, menata masa depan yang lebih baik.


Ini salah satu alasan Tiger sulit melepaskan diri dari dunia mafia. Dia akan kehilangan kekuatan untuk melindungi orang-orang terdekatnya. Terutama, istri dan anaknya.


Iring-iringan mobil Bian bersama beberapa anak buahnya menyusuri jalan hingga berhasil menemukan mobil bosnya. Meski tidak begitu banyak, mereka segera berpencar mencari keberadaan bossnya.


Beberapa anak buah Zero juga mulai berdatangan, karena mereka yang dikalahkan Tiger tentu sudah tidak bertenaga lagi untuk melakukan perlawanan.


"Ayo! Aku antar pulang," ucap Tiger mengulurkan lengannya ke hadapan Erent.


Wanita itu mendongak, menatap pria gagah di hadapannya lalu membalas uluran tangan Tiger. Dengan kaki terseok, Erent mengikuti langkah Tiger yang menatap lurus ke depan. Tangannya menggenggam kuat jemari Erent.


'Kenapa dia sangat berbeda, aku seperti tidak mengenalnya. Kita seperti orang asing. Bahkan menanyakan keadaanku saja tidak,' gumam Erent dalam hati.


Kepalanya menunduk, sesekali mendesis karena kakinya terkilir sewaktu diseret oleh orang-orang Zero. Tiger menghentikan langkah, memutar tubuh untuk menatap Erent.

__ADS_1


Pandangannya beralih ke bawah, satu kaki Erent tampak membengkak, ia pun segera menangkup bahu gadis itu, membantunya masuk ke mobil. Keduanya terdiam tanpa suara.


Tanpa disadari siapa pun, ada sepasang netra yang sudah dipenuhi cairan bening di kedua matanya. Pandangannya memburam, tangannya menekan dada yang teramat sesak.


"Ke kantor? Apa ini yang selalu dia lakukan? Jadi, ketakutanku selama ini benar-benar terjadi. Siapa aku? Betapa lancangnya membayangkan hidup bahagia bersamanya. Sakit!" gumam Jihan menepuk-nepuk dadanya yang serasa sulit bernapas.


Rico pun tercengang melihat pemandangan di depannya. Ia melacak sendiri keberadaan Tiger dengan keahliannya. Jihan terus mendesak dan memaksanya untuk ikut. Karena takut terjadi sesuatu dengan sang suami.


Namun ternyata, ia mendapat kejutan yang diluar dugaan. Benar-benar meledakkan hatinya sampai hancur berkeping-keping.


"Bawa aku pergi!" pinta Jihan membungkuk karena tidak kuat menahan sesak di dadanya.


Perutnya juga mengalami kontraksi. Padahal hari perkiraan lahir masih beberapa minggu lagi. Sangat jauh dari prediksi.


"Aaarrgh!" rintih Jihan mencengkeram kuat sandaran jok yang diduduki Rico. Tubuhnya melengkung menahan sakit, satu tangannya menahan perut buncitnya yang menegang.


"Jihan, kamu kenapa?" tanya pria itu panik.

__ADS_1


__ADS_2