
Selesai seluruh pemeriksaan, Jihan dibantu Tiger turun untuk kembali duduk di hadapan sang dokter yang tengah menulis hasil pemeriksaannya.
"Anda bisa mulai mengikuti kelas kehamilan ya, Nyonya. Di rumah sakit ini ada jadwal setiap dua minggu sekali. Ini sangat baik sebagai persiapan melahirkan nanti. Dan Tuan juga diharapkan ikut, karena ini juga sangat penting sebagai pendamping ibu hamil," papar dokter kandungan itu menyerahkan buku pemeriksaan dengan senyum di bibirnya.
"Apa tidak bisa di rumah saja?" sela Tiger. Ia memang tidak terbiasa berbaur dengan banyak orang.
"Tentu saja bisa, Tuan. Anda bisa memanggil instruktur senam terbaik untuk jadwal pelatihan ke rumah Anda. Ingat, selalu makan makanan yang bergizi, jangan sampai stress, usahakan selalu bahagia ya, Nyonya," balas sang dokter.
"Baik, terima kasih banyak, Dokter," ucap Jihan beranjak dari duduknya menjulurkan tangan untuk menjabat.
Sedangkan Tiger hanya diam, masih merasakan getaran aneh dalam tubuhnya. Ia keluar terlebih dahulu. Tidak tahu jika harus mengambil resep vitamin yang diberikan sang dokter, Tiger langsung saja melangkah menuju lift. Jihan mendengkus kesal, ia malas bersuara sehingga hanya mengambil jalan yang berbeda.
Sesampainya di depan lift, Tiger baru sadar jika Jihan tidak ada di sampingnya. Dia terkejut, dengan gerakan cepat segera memutar tubuh dan mengedarkan pandangannya.
Jantungnya seolah tengah berlari marathon, matanya yang tajam mulai memindai setiap sudut ruangan. Ia mendesah lega, ketika melihat Jihan berdiri di depan apotik tak jauh dari ruang pemeriksaan.
Langkahnya kini menyusul sang istri. "Kenapa nggak bilang kalau ke sini dulu?" tanya Tiger ketika sudah berdiri di sebelah Jihan.
"Ya kamunya juga nggak perhatian. Jalan aja terus kek jalan tol. Mentang-mentang pemilik ruas jalan tol, muka sama sikapnya juga terlalu lempeng dan datar!" sindir Jihan tanpa menoleh.
Suaranya mengundang tawa apoteker yang berada di balik kaca jendela. Namun segera kembali mengatupkan bibir, saat melihat tatapan menghunus dari Tiger.
__ADS_1
"Silakan, Nyonya. Vitaminnya 3x sehari. Kalau tablet tambah darahnya cukup 1x sehari ya. Terima kasih, semoga sehat selalu," jelasnya dengan ramah sembari mengatupkan kedua tangan di dada.
"Terima kasih!" jawab Jihan melenggang pergi. Kali ini ia memimpin jalan.
Pria itu segera menyusulnya, merampas obat dan buku pemeriksaan Jihan. Ia bermaksud untuk membawakannya, namun karena tidak bisa bersikap lembut, Jihan pun memicingkan mata.
'Jangan stress, harus bahagia terus. Baik, kita mulai dari perhatian kecil ini. Tapi kenapa dia nggak terlihat bahagia?' gumam Tiger dalam hati menekan tombol lift yang akan mengantarnya ke lantai bawah.
"Jihan, kamu senang tinggal di sini? Lebih enak mana di Jakarta atau Palembang?" tanya Tiger memecah keheningan saat sudah memasuki lift.
"Aku ke sini berharap bisa melupakan masa-masa sulit. Jadi, saat ini aku ingin jauh dari tempat lahirku," jawab Jihan pelan.
"Baiklah," lanjut Tiger dengan singkat.
"Mau ngapain ke mall?" tanya Jihan.
"Belanja, kamu belum punya pakaian 'kan? Perut kamu semakin besar, lalu makan atau ke salon? Terserah kamu, yang penting kamu bahagia," sahut Tiger.
Jihan mengerjapkan mata berulang dengan mulut terbuka. Sampai-sampai ia menyelipkan rambut dan memasang telinganya baik-baik.
"Ap ... apa?" Jihan ingin memastikan. Takut salah mendengar.
__ADS_1
"Lakukan sesuka kamu, Jihan. Asalkan kamu bahagia," ucap Tiger membuat Jihan menelan ludahnya.
"Hah? Apakah bumi ini akan baik-baik saja, kamu mengajakku ke mall?" celetuk Jihan membuat Tiger mengernyitkan dahinya.
"Apa maksudmu?" seru Tiger.
Jihan menghambur ke pelukan Tiger, memekik kegirangan. "Aaaa! Demi apa kamu mau mengajakku ke mall?" pekiknya memeluk Tiger dengan erat.
Tentu saja, dia sangat bahagia. Untuk pertama kalinya, pria itu menawarkan hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Tiger membeku melihat reaksi Jihan. Ia memang harus mulai belajar untuk membuat istrinya bahagia.
Tak berapa lama, keduanya sampai di sebuah mall besar di kota tersebut. Jihan tampak sangat antusias. Rasanya tentu sangat berbeda ketika ke mall sendiri dan bersama pasangan.
Jihan melupakan sikap menjengkelkan Tiger di rumah sakit tadi. Kali ini dia lebih posesif, menggamit lengan kekar Tiger saat berjalan bersisian. Walaupun pria itu tak menampilkan ekspresi apapun. Sesekali membalas chat pada ponselnya dengan tangan lainnya.
Mereka berkeliling sampai waktu beranjak senja. Jihan membeli banyak pakaian yang nyaman untuk ia pakai. Itupun atas perintah Tiger, setiap wanita itu menyukai satu model, ia langsung meminta berbagai warna. Begitu seterusnya, sampai tak sadar belanjaan mereka terlalu banyak.
Tak hanya itu, Tiger juga meminta Jihan untuk membeli sepatu atau sandal yang aman dan nyaman. Karena ketika perutnya semakin membesar nanti, tentu saja akan kesulitan dan membahayakan jika mengenakan heels.
"Coba ini!" Tiger turut memilih, ia berjongkok untuk membantu memasangkan flat shoes di kaki Jihan. Wanita itu menyentuh salah satu bahu Tiger untuk berpegangan. Itu dilakukan selama beberapa kali untuk menemukan model yang aman dan cocok di kaki Jihan.
Jihan mengembuskan napas berat untuk mengurai dadanya yang mengembang dan mengempis dengan cepat. Ia sangat terharu dengan perhatian Tiger. Meski pria itu irit bicara, kurang peka, tapi dalam diamnya Tiger ternyata begitu perhatian bahkan dari hal terkecil sekalipun.
__ADS_1
'Sweetnya orang dingin itu memang beda. Aku juga harus terbiasa,' gumam Jihan dalam hati menyeka sudut matanya yang basah.
Bersambung~