
Sesuai rencana, Grey dan bawahannya bergerak mendekati kapal yang sebenarnya kosong. Seolah-olah mereka hendak melakukan transaksi seperti biasanya. Mata mereka memicing tajam dan waspada mengelak serangan.
Dan tak berapa lama, lini pertama mereka diserang beberapa kawanan musuh. Adu otot pun terjadi, saling pukul dan tendang tak terhindarkan. Semakin lama, semakin banyak musuh yang berdatangan. Grey pun memerintahkan lini berikutnya untuk segera turun dan melawan.
"BOOOMMM!!"
Salah seorang musuh melemparkan bom ke arah kapal. Ledakan tidak terlalu besar disusul kobaran api segera melahap kapal tersebut. Dengan sigap shipper jarak jauh anggota Tiger segera membidik dengan tepat sasaran. Mereka melesakkan tembakan sesuai arahan dari para Tim IT.
Curiga karena ledakannya tidak sedahsyat sebelumnya, salah seorang musuh menyelinap untuk memeriksa kapal lainnya. Ia membelalak karena ternyata kosong tidak ada satu orang pun, juga tidak ada barang apa pun di dalamnya.
"Mundur! Ini jebakan!" teriak orang tersebut mengerahkan rekan-rekannya untuk melarikan diri.
Gempuran senjata memekakkan telinga kini pun tengah terjadi pada lewat tengan malam itu. Desing peluru dari segala jenis senjata api saling beradu. Mereka bersembunyi di balik puing-puing box mobil yang sudah tidak terpakai. Melongokkan sedikit kepala untuk melempar serangan.
Beberapa waktu berlalu, musuh berhasil dipukul mundur karena semua anggota Tiger kini turun untuk menyerang. Sebagian ada yang berhasil kabur. Sedangkan sebagian lainnya meregang nyawa dalam pertempuran.
...🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥...
Berada di bawah tekanan tinggi Tiger dan anak buahnya, dua anggota musuhnya itu diserang panik di sekujur tubuhnya. Hingga salah satunya mencetuskan di mana keberadaan sang boss yang seharusnya tidak pernah mereka ungkap sekalipun dalam keadaan terdesak sekalipun.
__ADS_1
Sontak pria yang berucap itu melebarkan kedua matanya. Jantungnya seakan mencuat dari dalam dada mereka. Keduanya saling menatap sembari meneguk saliva dengan berat.
"Bawa yang masih hidup ke markas! Yang sudah sekarat kubur saja bersama mayat yang lainnya." Tiger melenggang pergi meninggalkan mereka semua.
Ia memicingkan mata saat melihat rencana yang disusun berjalan dengan lancar. Napasnya berembus lega melihat mayat musuhnya bergelimpangan.
"Grey! Segera bawa anggota kita yang terluka ke markas! Kubur semua mayat-mayat itu!" titahnya pada sang bawahan.
"Sudah, Tuan. Ada tiga yang tertembak di bagian bahu dan lengan. Dokter sudah bersiap di markas," lapor Grey.
Tiger berdehem sembari menuruni anak tangga dengan langkah kaki yang cepat. Kedua tangan memerikaa kantung celana mencari ponselnya. Namun tak menemukan di manapun. Ia semakin memepercepat langkah hingga kini mencapai mobil dan segera duduk di balik kemudi.
"Shitt!"
Pria itu takut sesuatu yang buruk terjadi dengan istri dan anaknya. Meskipun pernikahannya digelar dengan sederhana dan tertutup, tetap saja rasa cemas mulai memenuhi hatinya.
Sesampainya di markas besarnya, Tiger berlari menuju ruangan tim IT, menanyakan kondisi di Pelabuhan X di mana transaksi sesungguhnya telah terjadi.
"Bagaimana?"
__ADS_1
"Aman, Tuan! Sesuai rencana. Setelah ini segera dipindahkan," tutur salah satu tim nya dengan hormat dan sopan.
Tiger memejamkan mata, menopang kedua lengan di antara kursi timnya itu. Menunduk sejenak dengan tarikan napas panjang lalu berteriak. "Haaaargh!" pekiknya mengepalkan tangan kuat lalu meninju udara. Melampiaskan betapa puasnya ia bisa melalui malam ini dengan lancar.
'Sekali merengkuh dayung, tiga pulau terlampaui!' gumamnya dalam hati.
Teriakannya tentu saja membuat seisi ruangan terkejut. Namun dia hanya menyunggingkan senyum miring lalu bertepuk tangan. "Kerja bagus, Tim. Bonus akan segera diturunkan!" ucapnya membuat semua timnya bertepuk tangan dengan embusan napas penuh kelegaan.
Akhirnya, kerugian yang sempat menguras tenaga, pikiran dan materi yang begitu banyak kini bisa tertutup lagi.
Tiger segera berlari menuju ruangannya. Ia mencari keberadaan ponselnya. Manik indahnya mengelilingi meja, namun tak menemukan di manapun.
Tak putus asa, Tiger terus mencari di setiap tempat yang ia singgahi. Hingga dering disertai vibra yang menggema mulai menelusup indera pendengerannya.
Tiger berlari cepat menuju sumber suara. Tangannya meraba kursi hingga menemukan ponsel di saku jasnya. Keningnya mengernyit karena jam sudah menunjukkan pukul 3.30 pagi. Namun Jihan tengah menghubunginya sekarang.
Pria itu menarik napas untuk meredakan setiap emosi yang membuncah di benaknya. Mencoba agar bersikap setenang mungkin, barulah menggeser slide pada layar benda pipih itu.
"Halo, Sayang!" sapa Tiger semanis mungkin.
__ADS_1
Ia mendengar suara Jihan menangis terisak. Hingga membuatnya tersentak diliputi khawatir. "Jihan! Ada apa?" tanyanya mulai berdebar tak karuan. "Bicaralah! Kamu sakit? Panggil Ayah. Atau Rico! Siapa pun! Jangan diam saja!" serunya dengan panik.
Bersambung~