
Jihan memasukkan beberapa helai rambut tersebut ke dalam sebuah plastik lalu menyimpannya. "Beres! Tunggu sampai kamu cukup umur ya, Nak. Mama yakin nanti papamu pasti sayang sama kamu," gumamnya mengusap perut seolah mengajak anaknya berbicara.
Jihan memakai gaun tidurnya lagi, hanya membersihkan sisa percintaannya saja. Rasa kantuk tiba-tiba menghampiri. Ia pun bergegas menuju ranjang dan meringkuk di bawah selimut.
Sedangkan Tiger kembali lagi ke ruang kerja. Jemarinya dengan lincah bergerak di atas keyboard. Sesekali menyesap kopinya yang sudah dingin buatan sang istri. Semangatnya kembali tersulut setelah mendapat asupan dari istrinya yang semakin menduduki tahta tertinggi di hatinya. Hingga mampu mematahkan ego dan gengsinya karena takut kehilangan.
Dingin dan kerasnya hati perlahan mulai melunak, sejak Jihan selalu meminta untuk melepasnya. Tidak, Tiger tidak akan bisa melepas wanita itu begitu saja. Hatinya sudah terpaut bahkan sejak pertama kali melihatnya. Getaran di dada yang dapat dirasakan setelah sekian lama ditinggal kekasihnya.
Tepat pukul 3 pagi, Tiger beranjak menuju kamar. Mencari kenyamanan melepas penat dan lelah usai bergelut dengan semua pekerjaan hitam maupun putihnya. Tiger segera merebahkan tubuhnya di belakang sang istri. Merapatkan dadanya pada punggung wanita itu dan memeluknya dengan posesif.
Jihan yang merasakan seperti terhimpit pun segera mengerjapkan mata. Matanya menunduk, tampak lengan kekar suaminya melingkar sangat erat. Embusan napas hangat pria itu terasa di puncak kepalanya. Detak jantung suaminya pun terdengar jelas di telinganya. Senyum tipis tersungging di bibirnya.
"Tiger," ucap Jihan menyentuh lengan pria itu.
"Hmm!" sahutnya bergumam masih memejamkan mata.
__ADS_1
"Lepasin dulu, lengan kamu berat!" desis Jihan yang merasa perutnya tertindih.
Pria itu membuka mata, menaikkan lengannya sehingga Jihan bisa bergerak bebas. Ia melihat sang istri beralih menghadapnya. Netra mereka pun saling beradu, Jihan tersenyum lalu menelusupkan kepala pada dada bidang suaminya. Mereka pun tidur saling memeluk satu sama lain.
'Aku tidak pernah berani bermimpi bisa berada di fase ini. Rasa sakit itu memang tidak akan pernah terlupakan. Tapi aku banyak belajar dari Khansa, melepaskan semua dendam, sakit hati dan ikhlas menjalani takdir akan membawa kita pada kebahagiaan. Hidup terus berputar, semua fase sudah pernah aku rasakan bahkan saat berada pada titik terbawah sekalipun. Terima kasih Tuhan, atas semua pelajaran hidup yang aku terima!' gumam Jihan menitikkan air mata semakin merapatkan tubuhnya.
Mentari perlahan merangkak naik, menyembul dari peraduannya. Kenyamanan Tiger di alam mimpi mulai terusik ketika mulutnya terasa hambar dan sesuatu seolah mendesak keluar dari tenggorokannya. Semakin ia abaikan, gejolak dari perutnya semakin terasa.
Pria itu pun segera turun dari ranjang, gerakan tiba-tiba membuat Jihan tersentak. Tiger berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya yang hanya berupa cairan saja.
Jihan memang sudah tidak mengalami mual muntah. Hanya sesekali pusing saja. Namun ternyata itu semua berpindah pada suaminya. Ia segera bangun dan mengikat rambutnya asal. Melangkahkan kaki jenjangnya menyusul sang suami.
Tangannya bergerak lembut pada tengkuk Tiger. "Apa kamu juga muntah ketika di kantor?" tanya Jihan.
Tiger menggeleng masih menuntaskan mualnya yang selalu menyerang setiap bangun tidur. Pria gagah itu tampak terkulai lemas setiap pagi.
__ADS_1
"Enggak, anehnya setiap bangun tidur saja. Sudah periksa dokter perusahaan. Tapi hasilnya semua baik-baik saja. Atau mungkin dokter itu bodoh. Tidak melakukan pemeriksaan dengan benar!" gerutunya setelah berkumur dan mencuci muka.
"Aku rasa bukan dokter yang bodoh. Hanya saja, kamu mengalami morning sickness. Minggu lalu aku yang merasakannya. Tapi setelah beralih ke kamu, aku sama sekali tidak merasakannya lagi. Sepertinya anak kita ingin berlaku adil," gumam Jihan berucap dengan pelan dan hati-hati.
Tiger masih menopang kedua lengannya pada wastafel. Buliran air kran masih membasahi wajah tampannya yang pucat. Kepalanya yang tertunduk, kini perlahan terangkat.
Pria itu menatap istrinya melalui pantulan kaca besar di depannya. Keningnya mengernyit, "Morning sickness? Apa itu?" tanya Tiger tidak mengerti.
Bersambung~
Jelasin Jii... pake bahasa manusia kalo ga paham pake bahasa macan.. raaawrrr!!! 😆😆
kaboorrr... takut digigit 🏃♀️🏃♀️
__ADS_1
Bestie ... yang lagi mudik, hati-hati di jalan ya. Semoga lancar dan selamat sampai tujuan, bisa berkumpul dengan keluarga, aamiin. 🤗🤗