The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 37. KETAKUTAN SEMU


__ADS_3

Senyum tersungging di bibir tipis Tiger. Ia menunduk lalu menurunkan tangan Jihan hingga manik mereka saling berbenturan. Kedua alis Tiger terangkat untuk meminta penjelasan.


"Ka ... kamu!" Jihan menyelipkan rambut di belakang telinga untuk mengusir kegugupannya.


"Apa?" Tegas, berat, namun terdapat kelembutan dalam nada suara Tiger.


Wajah cantik nan menggemaskan wanitanya itu, membuat hasrat Tiger semakin menanjak. Apalagi pipi chubby sang istri yang memerah tak tahan rasanya ingin menggigitnya.


"Tiger, mandilah dulu!" ujar Jihan menahan dada Tiger, berusaha lepas dari kungkungan pria itu.


'Gila aja ini di mana? Nanti kalau tiba-tiba anak buahnya masuk gimana coba! Dasar macan mesum, nggak tahu tempat!' umpat Jihan dalam hati.


Manik biru seperti samudera milik Tiger malam ini terlihat berbeda. Begitu meneduhkan dan memancarkan kehangatan. Tidak ada tatapan bengis dan kejam seperti awal pernikahan mereka. Jihan meneguk salivanya, jantungnya masih seperti genderang. Apalagi telapak tangannya masih menempel pada dada bidang sang suami.


Pandangan Tiger bergerak ke bawah menelisik hidung Jihan, juga bibir yang sedikit bervolume menariknya dalam sebuah cumbuan hangat. Bibir keduanya saling bertautan. Jihan pun tidak dapat mengelak, karena ia pun sangat merindukan ciuman rakus sang suami.


Hampir kehabisan napas, Tiger melepasnya. Napas mereka memburu. Ibu jarinya menyeka bibir Jihan yang basah dan sedikit membengkak karena ulahnya. Ia segera beranjak lalu memunguti pakaian yang berserakan.


Bibirnya menyeringai tipis, sembari melenggang pergi meniti anak tangga menuju kamar untuk membersihkan diri.

__ADS_1


"Tunggu!" seru Jihan menghentikan langkah Tiger.


Pria itu menoleh, Jihan berlari kecil lalu memeluk erat suaminya itu. Menghirup dalam-dalam aroma yang menguar dari tubuh sang suami. Ah, rasanya puas dan bahagia. Sepertinya bayinya memang sangat menginginkan dekat dengan sang ayah.


Tiger terpaku, ia bahkan sampai bingung harus bersikap bagaimana. Beberapa saat kemudian, Jihan melepasnya dengan wajah memerah. Ia sangat malu. Segera kembali duduk ke sofa. "Mandilah!" serunya tanpa berani menatap Tiger.


Hanya senyuman kecil yang tersungging di bibir tipis Tiger. Sembari menggeleng pelan ia menaiki tangga. Heran dengan sikap Jihan.


Jihan menyandarkan kepala pada sandaran sofa sembari menyentuh dadanya berdebar kuat. "Hah! Kamu susah sekali ditebak. Aku takut semakin terperosok dalam pesonamu, Tiger. Aku takut nggak sanggup pergi darimu ketika kamu membuangku!" gumamnya dengan mata berkaca-kaca.


Tak ingin semakin larut dalam perasaannya, Jihan beranjak memanaskan masakannya bersama Bibi Sari tadi. Dengan gerakan lambat, satu per satu ia hidangkan makan malam untuk pertama kalinya dalam satu meja.


Sedikit lelah, ia duduk sejenak sambil menunggu kedatangan Tiger. Perutnya akan semakin membesar, beberapa bulan ke depan bayi kecil akan menghiasi kehidupannya.


"Mikirin apa?" Jihan tersentak ketika Tiger melingkarkan lengannya di leher Jihan. Bibir sexy Tiger tepat berada di telinga wanita itu.


Air matanya tiba-tiba menyeruak dari sepasang manik indahnya. Kelembutan Tiger justru membuatnya semakin takut. Jihan tak kuasa menahan isak tangisnya.


Tiger terkejut, ia memiringkan kepala lalu berjongkok di hadapan Jihan. Menggenggam erat jemari Jihan di pangkuan wanita itu.

__ADS_1


"Jihan, ada masalah apa?"


Lagi-lagi Tiger bersuara pelan, terdengar lembut dan menggoyahkan hati Jihan. Ia semakin sesenggukan.


"Tiger, tolong jangan bersikap seperti ini!" ucap Jihan disela tangisnya dengan suara bergelombang. Tubuhnya bergetar hebat.


Lelaki itu berlutut, menarik Jihan ke dalam dekapan dadanya. Jihan mengepalkan kedua lengannya. Ia memukul-mukul dada sang suami. "Kalau kamu terus bersikap seperti ini, aku takut, Tiger!" ucapnya dengan air mata yang semakin deras.


Tiger terdiam, menyerap apa yang dimaksud istrinya. Telapak tangan lebarnya membelai lembut kepala Jihan. Sedangkan wanita itu terus meluapkan perasaannya.


"Jangan membuatku bergantung padamu. Aku takut tidak bisa lepas darimu ketika kamu bosan denganku kelak. Aku takut kamu mengusirku ketika aku sudah melahirkan anakku! Jadi tolong, bersikaplah seperti sebelum-sebelumnya. Jangan begini," seru Jihan tanpa bisa menghentikan laju air matanya.


Mendengar hal itu Tiger mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Ia berdiri dan menarik Jihan, mendorongnya hingga menghimpit kulkas dua pintu di belakangnya. Jihan tersentak tanpa berani menatap suaminya. Ia menunduk dengan pipi yang basah.


Mata Tiger menyalang merah, kedua tangannya mencengkeram bahu Jihan dengan kuat. "Apa kamu bilang? Kau mau pergi dariku iya?" berang Tiger melotot tajam.


Jihan memejamkan matanya kuat, terulas senyum getir di bibirnya. Namun ini yang dia inginkan. Karena semakin hari, ia merasa sesuatu berbeda menjalar di hatinya jika berhubungan dengan Tiger.


Bersambung~

__ADS_1


Weehh Jiii... kamu ngapaiinn? Bangunin macan tidur????



__ADS_2