The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 69. HIDDEN IDENTIFY


__ADS_3

Jihan mengerutkan dahinya, ia menatap tajam sang suami yang kini bungkam, terkejut dengan seruan Jihan. Wanita itu memukul salah satu bahu Tiger dengan mata berkaca-kaca, "Jawab, Tiger! Kamu membunuh orang?!" pekiknya lagi dengan getaran pada suaranya.


'Bagaimana kalau dia tahu siapa aku sesungguhnya? Tidak! Jihan tidak boleh tahu,' batin Tiger menyelami kedalaman manik Jihan.


Ia mengembuskan napas berat, menyentuh kedua bahu Jihan. "Dengar, dia salah satu pengusaha yang bergerak dalam dunia hitam. Membangun perusahaan hanya untuk menutupinya. Dia tipe orang yang akan melakukan segala cara untuk mencapai puncak kejayaan. Salah satunya, membunuh. Bahkan banyak orang-orang tak bersalah yang sudah dia habisi, Jihan," papar Tiger bersuara lembut.


"Aku tidak peduli! Yang aku tanyakan, apa kamu membunuhnya?" teriak Jihan yang pandangannya memburam.


"Tidak!" jawab Tiger menundukkan pandangan. 'Tidak secara langsung,' lanjutnya dalam hati.


Terdengar embusan kelegaan dari Jihan. Wanita itu memejamkan mata hingga bulir bening meleleh di kedua pipinya. Tiger menyeka dengan kedua ibu jarinya lalu menarik kepala wanita itu semakin mendekatinya.


"Aku mencintaimu. Jangan tinggalkan aku apapun yang terjadi ke depannya, kelak," ujar Tiger mencium kening Jihan sangat lama.


"Aku hanya takut. Takut jika kamu terlibat dalam dunia menyeramkan itu," gumam Jihan menyandarkan kepala di dada bidang Tiger.


Dengan lembut, pria itu membelai kepala Jihan. Menumpukan dagu pada puncak kepala wanita itu. "Hei, kapan kamu potong rambut?" Tiger pun sadar jika sekarang istrinya itu sudah tidak berambut panjang lagi. Ia mencoba mengalihkan pembicaraan. Selain takut kembali sedih dengan kepergian ibunya, Tiger juga takut identitas aslinya terbongkar.


Jihan mendongak, keduanya saling bersitatap lembut. "Baru siang tadi," sahutnya mengerutkan bibir yang membuat Tiger tidak tahan untuk mengabaikannya. Ia langsung menyambar bibir itu dengan kecupan singkat.

__ADS_1


"Kenapa dipotong?" tanya Tiger memainkannya.


"Biar nggak bisa kamu jambak lagi," celetuknya membuat hati Tiger seperti tersengat listrik tegangan tinggi.


Nyeri dan kebas secara bersamaan. Pria itu segera mengeratkan pelukannya. Mengurai sesak di dadanya kala mengingat perlakuannya dulu. "Maafkan aku! Tapi, tetep cantik. Justru semakin terlihat imut," gumamnya mencubit salah satu pipi chubby Jihan.


"Demi apa Tuan Macan ngegembel?" pekik Jihan melebarkan kedua mata sipitnya.


Tiger mengernyitkan alisnya, "Ngegembel?" tanyanya.


"Gombal! Aaaa!!" pekiknya histeris melempar kembali tubuhnya ke pelukan pria itu. Tiger tertawa lepas mendengar plesetan Jihan yang terdengar menggelitik.


"Kamu lapar?" tanya Jihan meregangkan pelukan yang hanya dibalas anggukan oleh Tiger.


"Sebentar aku ambilin makanan," sahutnya segera beranjak dari ranjang.


Pria itu tersenyum melihat perhatian Jihan. Sempat khawatir Jihan tidak bisa memaafkannya. Ia lega karena kini perempuan itu kembali ke pelukannya. Apalagi kebahagiaannya semakin bertambah sejak tahu bahwa ia akan segera menjadi seorang ayah. Bukti akurat yang meruntuhkan pikiran buruknya pada Jihan.


Namun senyuman itu pudar seketika, tatkala mengingat identitas yang ia sembunyikan. Baru mendengar bahwa pria itu membunuh orang saja, Jihan sudah tampak syok dan marah. Apalagi jika Jihan mengetahui semuanya. Ketakutan semakin merayap di hatinya.

__ADS_1


"Semoga setelah ini, tidak akan ada lagi penyerangan-penyerangan yang membahayakan kalian berdua," gumam Tiger menyandarkan kepala sembari memejamkan mata.


Jihan kembali dengan beberapa makanan yang sudah dipesan online oleh Rico. Dia bingung, bagaimana caranya mengucapkan terima kasih pada pengawalnya tersebut.


"Kamu memasaknya?" tanya Tiger ketika Jihan menyusun satu per satu piring di atas nakas. Ada bubur ayam, chicken filled, nasi kebuli daging, burger, dan dua cup jus alpukat. Sungguh sangat menggugah selera makan Jihan malam itu.


"Tidak, delivery semuanya." Jihan meraih mangkuk berisi bubur lalu mendaratkan bokongnya di tepi ranjang.


"Sudah kuduga," ucapnya pelan disertai kekehan ringan.


Jihan hanya tersenyum, ia mulai menyuapi Tiger seperti menyuapi bayi besar.


"Kamu makan juga," ucap Tiger hendak meraih nasi dan menyuapi istrinya.


"Tidak! Kamu habisin dulu baru aku makan!" tegasnya menepis tangan Tiger.


"Oh iya, jadi ... kamu nggak marah sama Rico 'kan?" tanya Jihan menggigit bibir bawahnya.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2