The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 116. SEMANGAT BARU


__ADS_3

Berbeda suasana yang tengah dihadapi Rico, ia memang bisa menemukan bus yang ditumpangi Jihan. Namun sayangnya tidak bisa menemukan perempuan itu. Terlambat, dia kehilangan jejak.


Rico berhenti di tengah jalan, melaporkannya pada Bian dan juga memberanikan diri untuk menghadapi kemarahan Leon, karena gagal menjalankan tugasnya.


Dia menceritakan kejadian yang dialami oleh Tiger dan kepergian Jihan yang disebabkan karena orang ketiga. Kemurkaan Leon bertubi-tubi, terlambat memberikan laporan, dan bahkan kecolongan hingga perempuan itu menghilang.


"Saya akan ke sana besok!" Kalimat terakhir yang terucap setelah Leon menyumpah serapahi salah satu andalannya itu.


"Terlanjur! Terima saja apa pun resikonya," desahnya mengembuskan napas kasar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan paginya, Jihan terbangun ketika mendengar tangisan putrinya. Bersamaan dengan suara ketukan yang menggema. Ia meraih Cheryl dalam gendongannya. Sadar, jika tubuh bayi itu pasti merasa gerah.


"Sebentar ya, Sayang. Nanti kita mandi," ucapnya mencoba menenangkan sembari berjalan ke depan untuk membuka pintu.

__ADS_1


Keningnya mengernyit saat menemukan seorang perempuan paruh baya dengan membawa banyak belanjaan di tangannya. "Maaf, cari siapa?" tanya Jihan.


"Saya Inem, Neng. Yang akan membantu Anda selama tinggal di sini," sahut wanita itu ramah.


Jihan masih bergeming, "Tapi saya...."


"Jangan khawatir, Neng. Saya sudah digaji sama Tuan dan ini semua kebutuhan untuk Eneng sama bayinya," tukas Inem mengangkat dua kantong plastik berukuran besar di tangannya.


"Oh," ucapnya lalu menyingkir, mempersilakan asisten rumah tangga itu masuk.


Jihan pun segera memandikan putrinya. Ia melakukannya dengan sangat pelan dan hati-hati. Karena ini memang pengalaman pertamanya. Awalnya memang kaku dan takut, namun berkat arahan dari Bi Inem, Jihan mampu melakukannya sendiri sampai menggantikan baju untuk tubuh ringkih bayi kecil itu.


"Ternyata sangat menyenangkan menjadi ibu," ucapnya mencium putrinya yang sudah cantik dengan aroma khas bayi.


Beberapa hari kemudian, Jihan merasa sedikit bosan berdiam diri. Ia sudah melepas semua alat komunikasinya. Sesuai janjinya, Zero selalu mencukupi kebutuhan Jihan dan anaknya. Meski melalui Bi Inem, yang ia percaya untuk membantu meringankan pekerjaan Jihan.

__ADS_1


Satu minggu berlalu dengan cepat, ia cukup bisa beradaptasi dengan lingkungan baru, juga status yang baru. Selama itu pula ia baru tahu jika selama ini dia tinggal di Bandung. Itu pun karena baru menanyakannya pada Bi Inem yang menemani kesehariannya.


Jihan sangat menikmatinya, perlahan sifat keibuannya muncul. Ia pun berubah menjadi open minded. Menerima setiap masukan Bi Inem yang selalu ia tanyai, apalagi mengenai perkembangan juga perawatan putrinya.


Jihan berusaha menghibur diri dengan kelucuan putrinya. Walaupun sesekali pasti teringat sang suami. Apalagi bayi mungil itu sangat mirip dengan suaminya.


"Semoga kamu cepat sembuh, Tiger. Dan kamu pun bahagia di sana!" ucapnya dengan sangat pelan membelai pipi Cheryl dengan lembut.


Usai Cheryl terlelap di malam hari, Jihan beranjak mengitari kamarnya. Baru sadar di sana ada sebuah laptop, dilengkapi sebuah printer dan alat tulis di sebuah meja.


Jemarinya meraba lembut tepian meja. Lalu duduk di kursi putar dan mulai menyalakan laptop itu. Sebuah ide pun muncul di benaknya.


"Masih berfungsi," gumamnya tersenyum dengan semangat. Jihan mulai berselancar dengan perangkat tersebut. Apalagi setiap perumahan itu dilengkapi dengan wifi.


Beberapa waktu berlalu, ia beralih meraih sebuah kertas HVS dan sebuah pensil. Tangannya mulai bergerak dengan lentur dan terarah. Bahkan sampai tidak sadar, waktu sudah lewat tengah malam karena terlalu asyik dan menikmati coretannya.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2