
Malam ketika Jihan melarikan diri dan bersembunyi di mobil Bima, Rico memang sudah melaju mendahului mobil tersebut. Ia sudah memberi laporan pada Leon mengenai hilangnya Jihan.
Matanya yang tajam terus memindai kedua sisi jalan. Ia mengemudi dengan kecepatan yang sangat rendah. Hingga ketika Bima mulai menjalankan mobilnya, Rico bisa menangkap bayangan Jihan pada kaca tembus pandang mobil tersebut.
Segera ia mengikutinya sampai melalui beberapa kota. Rico tak begitu mengamati ruas jalan. Ia hanya fokus pada Jihan agar tidak kehilangan jejak, meski mengikuti dari jarak aman.
Berjam-jam kemudian, sampailah Jihan di sebuah apartemen. Tak ingin sedikitpun Jihan menghilang dari jangkauannya, dia mengenakan topi menutup wajahnya dan berdiri di belakang Bima dan Jihan.
Sampailah di sebuah apartemen yang dituju, Rico masih mengamatinya. Ia mendesah lega ketika tak lama kemudian Bima kembali keluar dan membiarkan Jihan seorang diri.
Sejak saat itu, Rico selalu mengikuti kemanapun Jihan pergi tanpa diketahui wanita itu. Ia sudah memberi laporan pada Leon, namun salah satu bossnya itu meminta agar memantau dari jauh saja. Takutnya Jihan akan kembali pergi. Hingga saat Jihan membutuhkan bantuan, barulah ia terjun untuk menanganinya.
Dia sudah dibekali CCTV dari lorong apartemen Jihan, yang berhasil diretas tim Leon dan Assisten Gerry untuk memudahkan akses penjagaan Jihan di sana. Selain itu, Leon juga menyewakan apartemen di lantai yang sama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"BRUGH!"
Bahu Rico dan Jihan saling bersinggungan keras karena mereka hendak berlari berlawanan arah. Kepanikan melanda keduanya. Jihan terduduk di sofa sembari meringis menyentuh bahunya. Begitupun Rico yang terjengkang ke belakang.
"Aih! Maaf! Maaf. Jihan, please jangan tumbalkan aku sama suamimu! Aku pergi dulu!" bisik Rico menepuk bahu Jihan sembari menatapnya penuh harap.
Segera pria itu melangkah pergi keluar dari apartemen dengan terburu-buru. Jihan mengernyitkan keningnya, menghela napas panjang lalu bangkit menuju kamar.
__ADS_1
Langkahnya sangat pelan mendekati ranjang. Jihan terus menundukkan kepala sembari menggigit bibir bawahnya. Hingga terhenti tepat di sebelah Tiger.
Bibir pucat lelaki itu kini menyunggingkan senyum tipis. "Sini!" ucapnya lirih melambaikan tangan.
Jihan menelan salivanya, sesekali melirik ke arah suaminya. Entah mengapa dirinya menjadi gugup sekarang. Kakinya bergerak satu langkah.
"Lagi dong!" ujar Tiger masih dengan senyumannya.
Justru membuat Jihan bergidik. Ia kembali melangkah mengikis jarak antara keduanya. Tiba-tiba, Tiger menjulurkan lengannya dan menarik Jihan hingga terjatuh di dadanya. Tiger memeluk wanita itu dengan erat. Matanya terpejam dengan tarikan napas panjang, menikmati aroma tubuh istrinya yang begitu ia rindukan.
Mereka terdiam beberapa saat, menikmati alunan detak jantung masing-masing yang sudah antah berantah.
"Bagaimana keadaanmu? Bagaimana keadaan anak kita? Kalian baik-baik saja 'kan? Lalu bagaimana kamu bisa ada di sini? Apa Rico pengawal sialan itu yang membawamu sejauh ini dariku, hmm?" Sederet pertanyaan tanpa jeda kini terdengar dari mulut Tiger.
Jihan menegakkan duduknya di tepi ranjang. Tiger menautkan jemari besarnya di sela jari-jari lentik Jihan, lalu menggenggamnya erat. Tangan satunya terangkat merapikan rambut Jihan.
"Semuanya!" tandas Tiger.
"Janji enggak marah?" ucap Jihan.
Tiger menautkan kedua alisnya, "Tergantung!"
"Yaudah, enggak jadi cerita. Nanti kamu marah-marah lagi," ujarnya mengerutkan bibir dan kembali menunduk.
__ADS_1
Tiger menaikkan dagu Jihan hingga kini keduanya saling bersitatap. Sorot mata yang dulu menakutkan dan menyeramkan kini berubah lembut.
"Aku tidak akan marah denganmu. Aku mengerti perasaan kamu. Tapi, aku marah dengan pengawal sialan itu. Berani-beraninya dia membawamu kabur!" geram Tiger dengan serius.
"Rico nggak salah! Aku sendiri yang melarikan diri. Ini beneran, dia ... dia juga sebenarnya pasti kalang kabut nyari aku. Dan dia juga takut pulang ke rumahmu karena tidak membawaku. Aku juga membuang ponselnya. Jadi please, tolong jangan hukum Rico!"
"Kenapa? Sebegitu inginnya kamu ingin menyiksaku? Sampai lari sejauh ini?" tanya pria itu dengan nada rendah.
Tiger berusaha duduk meski kepalanya masih berdenyut nyeri, tanpa melepaskan tautan tangannya. Manik mata pria itu mulai berembun.
"Tidak ada sedikitpun niat untuk menyiksamu. Aku menjauh karena ...." Ucapan Jihan terhenti kala Tiger memangkasnya.
"Oiya, tentang ibumu, aku sudah mengetahui dalangnya. Sebenarnya target utama pelaku itu adalah aku. Karena kerja sama kami yang mengalami kendala. Dia memasang bom kapasitas besar di restoran tempat kami melakukan pertemuan. Tahu sendiri restoran itu sangat berdekatan dengan lapas," jelas Tiger yang ingin membersihkan namanya di benak Jihan.
"A ... apa?" Jihan tersentak saat mendengarnya.
"Maaf, mungkin memang gara-gara aku karena sebenarnya targetnya adalah aku."
Jihan kembali menitikkan air matanya. Ingatak kehilangan sang ibu kembali muncul di benaknya. Pria itu segera menarik kedua bahu Jihan dan memeluknya erat.
"Aku sudah membalaskan sakit hatimu. Tersangkanya juga sudah mati dengan cara yang sama!"
DEG!
__ADS_1
"Kamu membunuhnya?" Jihan menjauhkan tubuhnya, menatap Tiger penuh tanya.
Bersambung~