
"Ceklek!"
Pintu terbuka dengan sedikit kasar, Jihan segera mengalihkan pandangan ke sana. Ia tersenyum menyambut kedatangan sang suami. Hendak menurunkan kedua kakinya dari ranjang, namun Tiger segera mencegahnya dengan melangkah cepat mendekati wanita itu.
"Tetap di situ!" titah Tiger melangkah panjang, mendaratkan bokongnya di tepi ranjang.
Keduanya saling menatap lekat. Jihan menunduk, tidak berani menatap pancaran manik abu suaminya. Apalagi pria itu hanya menatap lekat tanpa suara.
"Kenapa belum tidur?" tanya Tiger mencondongkan tubuhnya dengan kedua lengan mengungkung tubuh Jihan.
Jihan mundur hingga membentur sandaran ranjang, ia mengangkat kedua tangan, menunjukkan sebuah buku seputar kehamilan yang ia pelajari sedari tadi. "Lagi baca ini," ucapnya.
Manik elang Tiger menunduk, keningnya mengernyit lalu kembali menatap istrinya yang kini tampak tersenyum lebar. Napasnya berembus berat, sorot mata wanita itu semakin menggetarkan dada Tiger.
Wanita yang berhasil membuatnya kalang kabut ketika meninggalkannya. Wanita yang membuatnya cemburu buta saat dekat dengan lelaki lain. Wanita kedua yang berhasil mengobrak abrik hati dan perasaannya. Meski ia tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya dengan baik.
"Apa yang kamu dapat?" tanya pria itu lagi semakin merapat.
"Ba ... banyak! Ini 'kan kehamilan pertama aku. Banyak hal yang harus aku perhatikan demi keselamatan kami," jelas Jihan terbata saat jarak mereka hanya beberapa inch saja.
Keringat bercampur parfum kuat suaminya, membuat dada Jihan berdenyut. Ia menghirup oksigen dalam-dalam, lalu tak kuasa menahan diri. Wanita itu menghambur ke dada suaminya. Mencari kehangatan dan kenyamanan pada pelukan itu.
__ADS_1
Tiger membeku, sejak ditinggalkan kekasihnya, ia terbiasa digelayuti wanita malam pilihan di bar. Namun, tidak pernah bisa merasakan apa pun lagi. Ia seolah mati rasa. Berbeda dengan Jihan, seolah ada magnet yang menariknya kembali, bisa menghidupkan hatinya yang telah lama mati.
"Apa kamu merindukanku?" tanyanya menunduk.
Sebuah anggukan merupakan jawaban Jihan, lalu menggeleng dengan cepat karena enggan mengakuinya. 'Bisa besar kepala nanti dia!' gumamnya dalam hati menutup wajah dengan buku yang ia baca tadi.
Tiger tersenyum kecil, ia meraih buku itu dan menyingkirkannya dari wajah sang istri. "Kalau kangen bilang saja. Kenapa malu-malu," ejeknya lalu memeluk tubuh Jihan dengan sangat erat.
"Bukan aku. Tapi anakku yang merindukanmu!" elak Jihan menggunakan anaknya sebagai tumbal.
"Anak kita!" sanggah Tiger menekankan kalimatnya, menumpukan dagu pada puncak kepala Jihan.
Hati Jihan terasa menghangat. Tiger benar-benar sudah mengakui anak dalam kandungannya. Mungkin karena dia tidak tahu bahwa Tiger sudah membaca hasil test DNA yang pernah ia lakukan diam-diam. Justru membuatnya sangat bahagia.
"Jihan, lusa aku berangkat ke Palembang. Ada pekerjaan mendadak. Kamu di sini saja," pamit Tiger setelah beberapa saat.
Seketika senyum Jihan memudar. Ia melonggarkan pelukan dan menatap tajam suaminya. "Kenapa? Kenapa aku nggak boleh ikut?" protesnya dengan mata berkaca-kaca.
"Bukankah kamu ingin melupakan hari-hari kelam di masa lalu? Aku janji akan kembali secepatnya." Tiger meraih kedua jemari Jihan dan menciumnya. "Aku sudah meminta Rico untuk menjagamu. Jangan pernah keluar rumah tanpa dia," lanjutnya lagi.
"Ri ... Rico? Kamu sudah bertemu dengannya?" Jihan terkejut dan melebarkan kedua matanya. Dia panik, takut jika Rico dihajar oleh Tiger.
__ADS_1
"Ya!" sahutnya singkat.
"Apa kamu menghajarnya? Dia nggak salah, tapi aku!"
Tiger menatapnya dengan tajam, Jihan merasa serba salah. "Aku membunuhnya!" tuturnya bernada dingin.
"Apa?! Tiger ...." Suara Jihan tercekat.
"Ya jelas tidaklah! Kalau aku membunuhnya tidak mungkin bisa menjaga kamu!" elak Tiger mengacak rambut Jihan. "Sepertinya harus aku tukarkan dengan pentium yang lebih tinggi! Biar nggak lemot!" ucapnya membuat Jihan mengerucutkan bibirnya.
Tiger langsung menyambar bibir ranum Jihan. Rasa rindunya sudah semakin membuncah. Kedua tangannya sibuk membuka jas dan juga kemejanya, melempar ke sembarang arah. Namun sama sekali tak melepas tautan bibirnya.
Jihan mendorong dada Tiger saat merasakan napasnya hampir habis. Lelaki itu segera merebahkan tubuh Jihan dan tangannya bergerak cepat menyusuri kancing piyama yang dikenakannya.
"Berapa lama kamu di sana?" tanya Jihan bernapas tak beraturan.
"Paling lama dua hari!" balas Tiger kembali membenamkan ciuman pada bibir Jihan.
"Jadi, beri aku suntikan semangat lebih!" lanjutnya saat menjeda ciumannya.
Jihan mengangguk, keduanya sudah polos tanpa sehelai benang pun, lengannya melingkar di bahu kokoh sang suami. "Tetap hati-hati walaupun sudah masuk trimester kedua," desah Jihan ketika sang suami mulai menyusuri leher jenjangnya.
__ADS_1
Dan malam itu pun menjadi pertempuran panas bagi pasangan itu. Seolah mereka akan berpisah sangat lama. Ranjangnya sudah porak poranda akibat pertempuran hebat yang saling mengimbangi dan memberikan kenikmatan yang tiada tara.
Bersambung~