
Di sebuah apartemen kota metropolitan, Jihan mulai mengerjapkan kedua matanya ketika terik mentari menanjak tinggi dan mulai menyusup di antara celah jendela.
Ia memaksakan diri untuk bangun, meregangkan otot-ototnya yang kaku. Lalu segera menyeret kedua kakinya untuk bergegas ke kamar mandi.
"Huft! Gimana nanti ngomongnya ya," gumamnya ragu dan diliputi ketakutan.
Dua hari yang lalu, ia asal memasuki sebuah mobil yang tidak ia kenal. Ternyata mobil tersebut memang sedang menunggu kedatangan seseorang yang akan bekerja sama dengan sebuah perusahaan di Jakarta.
...🍂...
...🍁...
...🍂...
...🍁...
...Flashback~...
"Hei! Siapa kamu?" teriak seorang pria berpakaian rapi yang baru saja masuk ke mobil usai melakukan panggilan telepon.
"Eee ...." Jihan masih meringkuk dengan sedikit mengintip ke belakang, mengarah pada mobil Rico yang berjalan dengan sangat lambat.
Kemungkinan besar pengawalnya itu memang sedang mencarinya. Jihan bahkan mengabaikan pria yang duduk di hadapannya. Sampai sebuah sentakan kembali menggelegar.
"Nona! Siapa kamu? Tunggu! Apa kamu Nona Valencia?" tebak lelaki itu menunjuk Jihan.
Wanita itu mengerjapkan mata sembari menelan salivanya. Demi keselamatannya saat itu, Jihan hanya mengangguk saja. Walaupun terlihat sekali seluruh gestur tubuhnya menegang.
"Ooh ya ampun! Aku bahkan meneleponmu sampai gila. Ternyata kamu memberi kejutan dengan langsung masuk ke mobil! Ckckck!" decak pria itu menggeleng lalu tertawa kecil.
__ADS_1
"Ma ... maaf, saya habis dirampok," sahut Jihan bersuara lirih dan terbata-bata.
Jujur saja, saat ini dadanya sudah seperti genderang mau perang. Selain tegang karena takut ditangkap oleh Rico, dia juga takut ketahuan oleh pria di depannya itu.
"Yaampun, kasihan sekali. Yasudah! Kita langsung berangkat saja. Dua hari lagi Tuan Zero baru sampai di Indonesia, kunjungannya kali ini sekaligus untuk membicarakan kontrak kerja sama kita," terang lelaki itu lalu segera menyalakan mesin mobil dan mulai melajukannya.
Kedua bola mata Jihan melebar seketika. Ia memeluk erat tas yang dikenakannya saat ini. Sedikit panik namun Jihan mencoba menenangkan diri. 'Kerja sama apa nih? Apa gue akan dijual?' pekiknya dalam batin.
"Nona Valen? Apa Anda mendengarkan saya?" tanya pria itu menatap Jihan dari kaca di depannya.
"I ... iya! Tuan ...." Jihan menjeda ucapannya.
"Bima. Nama saya Bima," tukas pria itu, Jihan mengangguk lalu menyandarkan tubuhnya.
...🍁...
...🍂...
...🍂...
...🍁...
Keluar dari kamar mandi, Jihan segera mengenakan pakaian yang ia beli kemarin. Hanya beberapa helai, karena ingin berhemat. Saat menyisir rambut, Jihan tiba-tiba menghentikan gerakannya. Menatap wajah cantiknya dari pantulan cermin pada meja rias tersebut.
"Kalau memang mau dijual, berarti harus siap-siap kabur lagi nih. Kayaknya nggak seketat anak buah Tiger, kemungkinan besar nggak bahaya. Berharap cuma dikasih kerjaan. Nggak apa deh kalau disuruh jadi pembantu," gumamnya.
Tak berapa lama, terdengar bunyi bell apartemen yang ditempati Jihan. Ia bergegas keluar dan membukanya. Bima yang memakai kacamata hitam segera melepasnya. Ia terpesona dengan kecantikan yang berpendar dari wajah Jihan. Sampai-sampai wanita itu harus menjentikkan jarinya agar Bima kembali pada kesadarannya.
"Tuan!" panggil Jihan.
__ADS_1
"Aahh! Iya. Ayo berangkat, jangan sampai terlambat. Tuan bisa marah besar walau telat satu detik saja," ucap Bima gelagalan, mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ayo! Aku udah siap," balas Jihan menenteng sebuah tas dan mengurai senyum di bibirnya.
'Ya ampun, spek bidadari. Malam itu 'kan gelap, nggak terlalu kelihatan,' batin pria itu memimpin jalan lalu kembali mengenakan kacamatanya.
Setelah melalui perjalanan selama 30 menit, mereka sampai di sebuah gedung yang sangat besar dan tinggi. Debaran di dada Jihan semakin meningkat, panik mulai melandanya.
'Diajak ke perusahaan sebesar ini nggak mungkin dijadiin sugar baby 'kan? Beda lagi kalau diajak ke club. Aduh, semangat Jihan. Selamat membuka lembaran baru, kehidupan baru bersama orang-orang baru!' tekadnya dalam hati.
"Ayo masuk!" ajak Bima menyadarkan Jihan dari lamunan.
"Huuhhh!" Jihan membuang napas berat lalu mengekori langkah Bima. Pertama kali menginjakkan kaki di sebuah perusahaan asing, tak seorang pun dikenalnya. Ia juga sama sekali tidak memiliki pengalaman apa pun di sebuah perusahaan. Keinginan dan tekad yang tinggi membuatnya gigih menghadapi apa pun yang akan dikerjakannya nanti.
Dalam hati Jihan terus berdoa, kepalanya tertunduk dalam. Sesekali meraba perutnya yang sedikit menonjol namun belum terlalu tampak. Apalagi sekarang tertutup blazer hitam yang membalut gaunnya.
Pintu lift terbuka entah di lantai berapa, Jihan tidak begitu memperhatikannya. Ia mengikuti langkah Bima sembari memperhatikan sekitarnya. Lorong yang tampak estetik dan banyak sekali sampel-sampel produk kecantikan yang tertata rapi pada akrilik yang unik.
Bima mengetuk pintu dengan perlahan, hingga terdengar sahutan dari dalam ruangan. Mereka segera masuk dan berdiri di depan meja kerja sang boss.
"Selamat pagi, Tuan Zero. Saya datang bersama Nona Valencia," ucap Bima.
Pria yang duduk di balik meja memutar kursinya hingga berhadapan dengan sang bawahan. Keningnya mengernyit ketika matanya bersitatap dengan Jihan. Wanita itu hanya mengurai senyuman. Zero memindai penampilan Jihan dari ujung kepala hingga kakinya.
"Siapa kamu?" sentak pria yang bernama Zero itu.
"Sa ... saya, Jihan. Eh maksud saya Jihan Valencia," sahutnya gugup dan sedikit ketakutan.
Bersambung~
__ADS_1
Nah! Weeh Jihan kau nyemplung ke mana itu?