The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 86. TAMBAH BONUS


__ADS_3

Rico menegakkan tubuhnya. Menahan rasa nyeri yang mendera akibat serangan dari Tiger. Ia mendesis sembari menggelengkan kepala untuk tetap berada pada kesadarannya.


"Ini, berhubungan dengan pria yang membawa Nyonya ke sini."


Tiger langsung menepis kedua tangan Bian yang menahannya, manik matanya memicing dengan tajam memperhatikan setiap ucapan yang akan keluar dari bibir anak buahnya itu.


"Saya mengikuti diam-diam, karena ... maaf, Nyonya terlalu polos jika dilepas dari kandang. Mudah percaya dengan orang, sekalipun tidak dikenalnya." Baru menarik napas hendak melanjutkan cetusannya, Tiger langsung memotongnya.


"Jangan berbelit!" sentak Tiger.


Sedikit terkejut, ia mengangguk dengan pandangan saling bertautan dengan netra elang Tiger. "Sudah beberapa kali saya memergoki orang itu masuk ke Perusahaan Anderson. Dan yang membuat saya terhenyak, saya melihat seperti ada pasukan khusus berpakaian serba hitam sedang berbaris rapi di rooftop. Entah apa pun itu, saya khawatir suatu hari nanti, Nyonya dituntut untuk balas budi karena kebaikan mereka," lanjut Rico.


Pria itu sengaja tidak mengungkit surat kontrak. Mengingat emosi Tiger yang mudah sekali meledak, dan Jihan yang tengah mengandung. Ia takut Tiger akan menyakitinya, yang akhirnya hanya akan menimbulkan penyesalan.


Seketika Tiger melebarkan kedua matanya, begitu juga dengan Bian yang terkejut bukan main. Dua pria itu menoleh dan saling menatap kuat.


"Lalu?" Nada suara Tiger sudah menurun.

__ADS_1


"Mmm ... untuk sementara, saya sarankan agar Nyonya stay di rumah demi keamanannya. Saya sudah pernah bertemu dengan pria itu, namun sepertinya sedang terburu-buru. Jadi, saya kurang bisa mengupas identitasnya, Tuan!" jelas Rico meski dengan napas tersengal-sengal.


Tiger melangkahkan kakinya, hingga semakin dekat dengan Rico. Bawahannya itu menelan saliva dan membusungkan dada seandainya akan kembali mendapat serangan dari sang boss.


Satu tangan Tiger menepuk bahu Rico dan meremasnya cukup keras. Rico hanya diam dengan debaran jantung yang hebat. Netra tajam sang atasan kini seolah menusuk pandangannya.


Beberapa saat kemudian, "Bian!" teriak Tiger tanpa menoleh, masih menatap dalam pria di hadapannya.


"Saya, Tuan!" Bian mendekat. Rico mengerjapkan matanya dengan gugup.


"Tambah bonus untuk Rico! Telepon dokter untuk menangani lukanya. Lalu, beri tim keamanan agar dia pimpin untuk melindungi istriku. Kita akan mulai penyelidikan dua hari lagi," sambung Tiger yang seketika membuat Rico membelalakkan mata.


"Sejak kapan saya suka bercanda?!" pekik Tiger memukulkan kepalan tangan pada bahu Rico.


Rico membungkukkan setengah tubuhnya, "Terima kasih banyak, Tuan!" ucap pria itu baru bisa bernapas lega.


"Hmm!" sahutnya singkat lalu melenggang pergi meninggalkan para bawahannya.

__ADS_1


Bian pun terhenyak dengan ucapan Tiger. Bossnya yang suka bertindak sembarangan itu, justru memberi bonus, pengobatan usai dihajar juga dipercaya menjadi pemimpin bodyguard untuk sang istri. Padahal tadi kemarahannya seperti api yang tengah berkobar.


"Kenapa?" Rico menyenggol lengan Bian yang masih bengong dengan lamunannya.


"Aneh!" jawab Bian menggelengkan kepala heran.


"Tidak ada yang aneh bagi orang yang sedang jatuh cinta!" celetuk Rico duduk sembarangan di atas meja sekretaris yang sudah ditinggalkan sang pemilik sejak sore tadi.


Bian hanya tersenyum miring. Ia lalu menelepon dokter untuk mengobati Rico, menghubungi beberapa staff keamanan juga memberikan bonus kepada Rico.


"Thanks, Bro. Kalau nggak ada kamu mungkin aku udah masuk rumah sakit," ucap Rico pada Bian.


"Hmm. Kusebut kamu hebat dan pemberani," puji Bian mengajaknya ke ruang kesehatan di perusahaan tersebut.


Rico hanya tertawa, ia melingkarkan lengannya di bahu Bian saat berjalan, seolah mereka teman yang akrab. Bian memicingkan mata tanpa suara. Rico segera melepas tangannya sambil cengar-cengir.


Sementara itu, Tiger mempercepat laju mobilnya agar segera sampai di rumah. Hatinya berkecamuk kembali mendengar bahwa Jihan sempat ditolong lelaki asing. Apalagi seharian ini, ia sama sekali tidak sempat menghubungi wanita itu. Kerinduan bercampur kesal kini mulai meledak di benaknya.

__ADS_1


Tak berapa lama, mobil yang dikendarai Tiger berhenti di pelataran kediaman Sebastian. Ia langsung melempar kunci mobil pada salah satu penjaga untuk diparkirkan. Kaki panjangnya melangkah cepat menuju kamar.


Bersambung~


__ADS_2