
"Ayo ngomong!" ucap Rico tanpa suara. Namun sangat jelas pergerakan bibirnya sekaligus semakin mendekatkan ponselnya pada bibir Jihan.
Jihan menarik napas panjang, meredam debaran dadanya yang antah berantah sedari tadi. "Ha ... Halo, Sa," sapa Jihan terbata-bata.
"Jihan! Hai, apa kabar? Kemana aja kamu selama ini, hah? Gimana kondisi Baby Cheryl?" cecar Khansa bersemangat di balik telepon.
"Aku ... mmm, kami baik-baik saja," Jihan membalas masih dengan sedikit nada ketakutan sekaligus tidak enak hati.
"Syukurlah, boleh aku video call sama Cheryl? Aku pengen banget lihat perkembangannya, pengen lihat kelucuannya, boleh ya Jihan?" pintanya dengan nada pelan.
Tidak terdengar balasan dari Jihan, perempuan itu menatap Rico dengan was-was. Cukup lama mereka saling terdiam.
"Jihan, aku mengerti perasaanmu. Aku yakin kamu sudah mencintai Cheryl. Bahkan cintamu pasti lebih besar dari pada aku. Karena kamu yang bertaruh nyawa untuk melahirkannya. Tenang saja, aku tidak akan mengambilnya darimu. Aku bakal ngadon sendiri sama Leon, pasti nggak kalah lucu sama Cheryl, haha." Khansa terkekeh untuk memecah ketegangan yang dirasakan Jihan.
Barulah terdengar embusan napas lega dari Jihan. Matanya tampak berkaca-kaca. Betapa beruntungnya dia mempunyai saudara seperti Khansa, padahal bukan saudara kandung. Tapi dia merasakan ketulusan dari wanita itu.
"Semoga segera launching ya, Sa. Makasih banyak, kamu sungguh mengerti aku. Makasih juga, mungkin jika dulu nggak ada kamu, aku nggak bakal pernah bisa lihat Cheryl dan nggak punya kekuatan sebagai pijakan hidup. Sasa, kamu memang penyelamat kami," papar Jihan dengan menahan tangisnya.
"Nanti kalau aku sampai jakarta aku langsung hubungi kamu buat video call sama Cheryl," lanjutnya setelah sedikit lebih tenang.
"Oke, ditunggu banget. By the way, selamat ya atas keberhasilanmu. Nggak nyangka sekarang kamu dah bener-bener berubah. Udah dulu ya, aku mau berangkat kuliah nih," pamit Khansa.
"Iya, Sa."
Sambungan terputus. Jihan tersenyum lebar menatap ponsel Rico. Beban yang menghimpit dadanya selama ini seolah terangkat, lega, sungguh hatinya penuh kelegaan hingga tak bisa dijabarkan dengan kata-kata.
__ADS_1
"Aaaaa!" pekik Jihan meluapkan tawa bahagianya sembari menghentak kedua kaki, dengan kedua tangan mengepal kuat.
"Dih! Tadi mau lari, kabur, sekarang senyum-senyum sendiri, teriak-teriak nggak jelas," cebik Rico memicingkan mata.
Jihan mengabaikannya, menyerahkan kembali ponsel Rico lalu beranjak sembari senyum-senyum ke ruangan Tiger. Langkahnya semakin terasa ringan.
"Sayang, gimana? Dokter bilang apa?" Jihan kembali duduk di tepi ranjang Tiger.
"Aku harus segera berangkat. Jika tidak, akan terjadi komplikasi yang lebih berat," ujar Tiger jujur.
Jihan menunduk sedih, kali ini ia berada di posisi yang berat. Usahanya baru saja dirintis. Tidak akan semudah itu ditinggalkan. Apalagi Cheryl masih terlalu kecil jika harus diajak bolak-balik dengan perjalanan udara yang sangat panjang.
"Sayang, kamu tunggu di rumah saja. Kasihan Cheryl, lagi pula bukankah butik kamu baru saja buka? Jangan sampai para costumer kecewa. Kasihan juga Cheryl kalau harus wara-wiri perjalanan jauh," ucap Tiger yang mengerti kegundahan istrinya.
"Tapi kamu gimana?" ungkapnya khawatir.
"Nggak apa-apa, justru jika kita berjauhan akan semakin memupuk semangatku untuk sembuh. Sesekali boleh lah jenguk. Tapi nggak perlu kamu tinggal di sana juga. Nanti aku malas untuk sembuh," celetuk Tiger.
Sedih memang, baru saja bertemu dan merasakan bahagia karena suaminya sadar, kini cinta mereka harus diuji kembali dengan jarak yang membentang antar negara.
Jihan merebahkan kepalanya di dada Tiger yang sudah terbalut kemeja khas pasien. Memeluknya begitu erat. "Janji ya kamu harus cepat sembuh," lirih perempuan itu enggan beranjak.
"Iya! Nanti transit di Jakarta dulu. Bisa nggak ketemu Cheryl di bandara?" tanya Tiger menurunkan pandangannya.
Jihan mengangguk beberapa kali, menghapus air matanya agar tidak terlihat Tiger. Barulah kembali mengangkat kepala dan menatap lekat suaminya. "Iya! Berangkat sekarang? Aku siapin apa buat kamu?"
__ADS_1
"Tidak perlu. Cukup antar aku sampai Jakarta saja. Semua sudah diurus tim medis!" sahut pria itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kemuning jingga membias di langit Jakarta. Pesawat yang ditumpangi Tiger kini transit di Jakarta terlebih dahulu, sebelum melanjutkan perjalanan. Kini mereka menunggu kedatangan asisten bersama putri kecilnya.
Sudah lima belas menit berlalu, Jihan terus mondar mandir tidak tenang. Hingga akhirnya derap langkah kaki kini menghampirinya. Cheryl tampak tertawa memekik ketika melihat ibunya. Tak hanya Cheryl dan pengasuhnya, Milano juga turut mendampingi.
Jihan semakin tenang, karena sang ayah mertua turut serta menjaga putri kesayangannya. Ia segera meraih tubuh gembul Cheryl dalam gendongannya. Mengecup pipinya berkali-kali melepas kerinduan.
"Ayah!" panggil Jihan tersenyum lebar.
Pria itu mengangguk dengan untaian senyum, lalu segera menghampiri Tiger, berbincang sebentar sebelum akhirnya terputus karena perhatian Tiger yang tersita pada Cheryl. Sepasang mata jernih bayi cantik itu menyorot tenang dan gembira manik abu ayahnya.
Hati pria itu terenyuh, melihat sambutan senyum manis dan lebar dari putrinya. Matanya tampak berkaca-kaca.
"Itu papa, Sayang." Jihan menunjuk pada Tiger.
"Mamma," Cheryl mendongak menatap mamanya.
"Pa--pa," ulang Jihan menunjuk Tiger.
"Pappa," ucap Cheryl lalu tertawa hingga keempat giginya terlihat jelas, kembali menoleh pada Tiger.
Bersambung~
__ADS_1