
"Aaarrghh!! Bullshiit kalian berdua!" Tiger menepis tangan Jihan lalu menendang perut Zero hingga pria itu tersungkur.
Bian yang mendengar keributan menerobos masuk, ia segera menahan bossnya yang tidak terkendali lagi.
Bima, asisten Zero pun segera membangunkan bossnya yang memang sama sekali tidak melakukan perlawanan sama sekali. Belum sempat berucap sepatah kata pun, ia hampir kehilangan kesadaran. Wajahnya penuh luka lebam, dan juga darah.
"Tuan, sebaiknya Anda berobat dulu," ucap Bima memapah pria itu.
"Aku ... harus bicara," ucapnya tersengal-sengal.
"Persetan dengan apa yang mau kamu ucapkan!" teriak Tiger hendak menghajarnya lagi. Namun Bian dengan sigap menahan tubuh sang boss.
Bian mengedikkan kepala, mengisyaratkan agar Bima segera membawa keluar bossnya. Jika tidak, mungkin Tiger akan menghajarnya sampai mati.
Semua penjelasan akan sulit diterima ketika orang sudah dipenuhi emosi. Karenanya Bian meminta agar Zero pergi terlebih dahulu. Diikuti semua orang yang berada dalam ruangan itu.
Jihan berusaha berdiri, ia tahu hari ini pasti tiba. Tapi bukan seperti ini yang ia inginkan. Jihan bermaksud menjelaskannya pelan-pelan ketika Tiger sudah benar-benar sembuh. Karena takut akan menghambat pengobatannya.
__ADS_1
"Kamu salah paham!" Jihan menghambur ke pelukan suaminya.
Jihan menangis dalam dada yang begitu ia rindukan selama ini. Bian melepas pegangan tangannya. Ia yakin, Jihan mampu menjelaskan semuanya.
Deru napas Tiger masih berembus kasar, dadanya naik turun dengan hebat. Tak disangka, Tiger bukannya membalas pelukan Jihan, namun justru melepas dan menghempaskannya ke lantai.
"Aaauuw!" rintih Jihan menahan sakit di lengan kanannya. Sedikit melesat ketika menahan beban tubuhnya saat terjatuh.
Mata Tiger menatap nyalang, giginya bergemeletuk dengan kuat. Matanya sudah dibutakan dengan api cemburu.
"Begini ternyata kelakuan kamu?! Sudah tahu dengan jelas siapa Zero dan kamu justru bekerja bersamanya. Apa yang ada di otak kamu, hah? Oh, jangan-jangan kamu bahagia ketika aku berobat di luar negeri. Agar kamu bisa menikmati kebersamaanmu dengan pria lain yang bahkan adalah musuh terbesarku, kau tahu itu, Jihan!" bentaknya membungkuk hingga sangat dekat dengan telinga Jihan.
"Apa lagi yang mau kamu jelaskan?! Perselingkuhan kamu dengan lelaki brengsek itu? Apa saja yang kalian lakukan selama ini, hah? Sudah sejauh mana hubungan kalian?" cecar Tiger masih dengan nada tinggi.
Tubuh Jihan gemetar, bukan karena takut. Lelah yang menderanya, ditambah Tiger tidak mau mendengar setiap penjelasannya, membuat Jihan semakin pusing dan melemah.
Tiger mencengkeram dagu Jihan dan mendongakkannya, "Tidak bisa menjawab? Dasar murahan!" desis Tiger mendorongnya hingga membentur dinding di sampingnya.
__ADS_1
Jihan tersenyum getir, ia sudah tidak menangis. Dadanya masih berdetak kuat, kini menatap suaminya.
"Tiger, pulanglah dulu. Tenangkan dirimu. Aku tidak akan pulang sebelum kamu bisa tenang. Karena setiap apa pun yang aku katakan, tidak akan bisa kamu terima saat emosi masih menguasaimu. Pikirkan baik-baik sebelum kamu menyesal," ucapnya pelan, matanya memerah.
"Aku menyesal karena terlalu berekpektasi tinggi tentangmu. Aku pikir kamu berbeda dengan kebanyakan wanita. Ternyata sama saja! Kamu terlalu gampangan! Tidak bisa menjaga harga dirimu! Murahan, brengsek!"
"Cukup!" teriak Jihan memejamkan matanya. Ia berdiri meski kedua kakinya gemetar, tangannya menopang dinding kaca tebal di sampingnya.
"Jika aku memang murahan, aku sudah menjual diri sejak memutuskan pergi jauh darimu. Jika aku gampangan, aku dengan mudah menikah lagi dengan lelaki yang aku mau. Jika aku tidak mencintaimu, aku tidak akan mau bolak-balik setiap 2 minggu sekali terbang selama 24 jam pulang pergi hanya untuk menemanimu!"
Sakit? Ya tentu saja. Perjuangannya selama ini seolah tak berarti apa-apa di mata suaminya. Membagi waktu untuk pekerjaan, putrinya dan sesekali menemaninya. Semua lenyap tak bersisa.
"Tanpamu, aku bisa membesarkan putriku seorang diri. Jika memang aku berniat meninggalkanmu, aku tidak akan pernah mau kembali! Aku sedang menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya. Agar tidak menghambat proses pengobatan kamu. Tapi percuma. Kamu tidak bisa melihat semua perjuangan dan pengorbananku!"
Jihan menatap Tiger dengan tajam. "Pergi dan jangan pernah temui aku atau putriku lagi!"
Bersambung~
__ADS_1
Sudah yaa.... mmm abis ini episod terakhir aah 😄