The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 117. TEKAD YANG KUAT


__ADS_3

Lengkingan tangis dari Cheryl mengejutkan Jihan dari tidurnya. Ia terperanjat gugup karena tertidur di atas meja kerja, matahari sudah menyingsing dari peraduannya.


"Astaga! Aku ketiduran!" gumamnya mengusap wajah dengan kasar.


Buru-buru Jihan beranjak menghampiri putrinya yang tengah menangis. Jihan segera meraihnya, mengayunkannya dalam dekapan hangat. "Pagi kesayangan mama, cintanya mama dan hidupnya mama," sapanya mencium pipi sang bayi yang sudah mulai terlihat gembil.


Ia beralih keluar kamar untuk membuatkan susu untuk Cheryl. Sedikit kesulitan karena sembari menenangkan bayi cantik itu dengan satu tangannya.


"Loh, Neng. Kok nggak nungguin saya?" ucap Bi Inem yang baru kembali dari buang sampah.


"Nggak apa, Bi. Aku bisa kok," sahutnya tersenyum lalu memberikan botol kecil yang sudah penuh berisi susu.


Semenjak tinggal sendiri, Jihan selalu berusaha agar tidak bergantung pada orang lain, selalu melakukan pekerjaan apa pun seorang diri. Hidupnya lebih berprinsip, lebih teratur dan bertujuan.


"Sarapan sudah siap ya, Neng. Sini dedeknya sama saya dulu," ujarnya mengulurkan kedua tangan.


"Nanti saja, Bi. Aku mandiin dulu. Tadi aku kesiangan bangun. Hehe," elak Jihan menatap putrinya dengan sayang.


Setelahnya ia kembali ke kamar, terus mengajak bersenda gurau sang baby di atas ranjang sembari memberikannya susu. Usai habis, ia segera menyiapkan air hangat, pakaian ganti untuk Cheryl, lalu memandikannya dengan semangat dan hati-hati.

__ADS_1


"Ah, anak mama udah cantik!" puji Jihan mencium pipinya gemas. "Juga wangi sekali!" lanjutnya mengurai senyum lebarnya. Cheryl sesekali tersenyum lebar memperlihatkan gusinya. Sangat menggemaskan, membuat luka di hati Jihan perlahan memudar.


Wanita itu kembali menggendong putrinya, lalu duduk di kursi panasnya semalam. Ia meraih tiga lembar kertas yang tercipta hasil karyanya semalam.


Ada kebanggaan tersendiri dalam benaknya. "Mama memang nggak pandai dalam akademis. Tapi kalau membuat gambar seperti ini, hmmm ... mama juaranya!" pamernya pada sang bayi yang hanya menatap wajah cantiknya.


Tiga buah desain gaun dengan konsep yang berbeda, namun dengan suasana yang sama. Jihan yang sedari dulu fashionable tentu memunculkan banyak ide di kepalanya.


"Doain mama semuanya lancar ya, Sayang! Biar kita bisa berdiri sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain!" gumamnya dengan tekad yang kuat.


Jihan ingin menunjukkan pada semua orang, bahwa dia bukan perempuan manja, lemah, kekanak-kanakan. Setiap masalah yang terus mencecarnya, mampu mengubah Jihan menjadi wanita tangguh.


Jihan membuat akun baru tanpa ada unsur namanya sama sekali, agar tidak mudah dilacak oleh orang-orang yang mencarinya. Setelah itu, Jihan mendaftarkan hak cipta secara online. Semangat dan rasa percaya dirinya sangat tinggi, demi kebahagiaannya bersama buah hatinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jauh di kota Jakarta, Tiger masih belum ada perubahan. Leon yang dijadwalkan terbang ke Indonesia minggu lalu, ternyata harus ditunda. Karena sedang menangani masalah serius dengan perusahaannya di Korea. Ditambah lagi, kondisi Khansa yang sedang drop, sehingga tidak memungkinkan meninggalkan istrinya.


Rico tentu saja bisa bernapas dengan lega. Meskipun harus menerima kemarahan Leon via suara setiap harinya, karena belum berhasil mendapat kabar baik dari Jihan maupun Tiger.

__ADS_1


"Bagaimana, Ric? Sudah ada kabar mengenai Jihan?" tanya Bian ketika mereka berada di depan ruangan Tiger.


"Belum! Tim kamu juga belum ada kabar, masih menyusuri hingga pelosok kota. Bahkan aku kesulitan meretas jejaknya!" keluh Rico.


Dua pria itu berpikir keras, keduanya berada di posisi yang sama. Bersandar pada dinding, menatap lurus ke depan dengan serius. Mengira-ngira ke mana perginya istri tuannya itu.


"Tuan masih belum ada perubahan. Rencananya akan dipindahkan ke markas. Di sana akan ditangani dokter-dokter spesialis khusus berdedikasi tinggi. Peralatan medisnya juga lebih canggih," papar Bian.


Rico mengerutkan dahinya. Menyandarkan punggung, sekedar untuk mengurangi lelah walau hanya sedikit.


"Menurutku lebih baik sih. Karena kalau di sini masih diganggu perempuan itu! Mungkin Tuan jengah kali denger rengekan dia tiap hari." Rico setuju dengan rencana rekan kerjanya itu.


"Bisa jadi. Masih nyalahin Tuan! Eh tapi, kemarin waktu aku bayar semua biayanya sudah ada yang tanggung. Bahkan jadwal operasi plastik di wajahnya yang rusak, juga sudah dilunasi," papar Bian yang sempat ditunjuk oleh Milano untuk mengurus semua biaya perawatan Erent.


Namun tak disangka ternyata semua sudah ditanggung seseorang yang tidak bisa disebutkan namanya. Rico menoleh dan menatap serius. "Siapa?"


"Sepertinya Zero. Entahlah! Ini dugaanku saja. Bukankah semua berawal dari dia?" tanggap Bian mengurutkan semua kejadian.


Rico memutar bola matanya, kerutan di dahinya semakin dalam. Sepersekian detik, ia pun menyimpulkan sesuatu. "Sepertinya aku harus ketemu sama Zero itu!" tegasnya menaruh curiga.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2