
"Huh! Bicara apa kamu?!" dengkus Tiger kesal memicingkan mata.
Jihan hanya diam saja, tanpa mau menanggapi ucapan suaminya. Karena tenggorokannya serasa tercekik menahan tangis agar tidak pecah. Hatinya mudah sekali rapuh.
Sedangkan pria tidak peka itu justru semakin bingung. Ia membuka dua kancing kemejanya untuk memudahkannya bernapas. Karena saat ini, ia tengah mengalami serangan panik. Bahkan lebih panik dari pada gencatan senjata dengan musuhnya.
Tiger mengembuskan napas berat sembari menyugar rambutnya yang rapi hingga tampak sedikit berantakan. Kepalanya semakin pusing ketika mendengar isakan kecil dari istrinya. Pria itu kini tengah gusar, dia sama sekali tidak ahli dalam menangani wanita yang menangis.
"Kamu maunya apa? Jangan hanya menangis. Aku tidak bisa membaca isi kepalamu!" ucap Tiger yang justru semakin membuat Jihan menangis.
'Dasar nggak peka! Lagian aku juga kenapa cengeng banget sih! Biasanya kemana-mana sendiri juga biasa aja! Tapi ... mumpung lagi bersama, 'kan juga pengen dimanja!' gerutunya dalam hati sembari menyeka air matanya.
"Haahh!" Desah Tiger kasar merengkuh bahu Jihan dan memeluknya. Tangannya menepuk-nepuk bahu wanita itu sesekali memberi kecupan pada puncak kepalanya.
Ia tidak mengerti harus mengatakan apa. Jadi hanya tindakan saja yang ia lakukan, berharap bisa sedikit menenangkan sang istri. Dan benar saja tak lama setelahnya Jihan terdiam, menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada bidang Tiger.
__ADS_1
Aroma cool dan maskulin yang menyeruak dalam hidungnya seperti aroma terapi yang seketika menenangkan. Ditambah sentuhan sang suami, membuat Jihan merasa diperhatikan.
Tidak terjadi percakapan apapun setelahnya. Hingga mereka sampai di pelataran salah satu rumah sakit swasta terbesar di Jakarta. Tiger memutar tubuh tegapnya hingga saling berhadapan. Ia memegang kedua pipi Jihan, menghapus sisa-sisa air matanya.
"Udah puas 'kan nangisnya?" tanya Tiger menaikkan kedua alisnya.
Jihan hanya mengerucutkan bibirnya. Tiger sedikit tersenyum dan merapikan rambut pendek istrinya. "Kalau udah, ayo turun!" ajak Tiger dan dibalas dengan sebuah anggukan.
Keduanya bergegas masuk ke bagian pendaftaran. Tiger pusing karena harus bolak balik melihat Jihan mengurus pendaftaran dari bilik satu ke bilik yang lain.
"Kenapa harus bolak-balik gitu sih?" tanya Tiger setelah Jihan menerima berkas untuk menemui dokter spesialis kandungan.
Begitu sampai di lantai 3, pandangannya langsung tertuju pada ibu-ibu hamil bersama pasangannya duduk berjajar rapi di kursi, menunggu giliran.
Mata Jihan mencari-cari kursi kosong. Ia mendapatkannya di salah satu sudut ruangan. Sayangnya hanya ada satu tempat duduk kosong.
__ADS_1
Tiger melangkah dengan tegas namun pelan menyusul istrinya. Terpaksa pria itu berdiri menyandar pada dinding sembari menatap serius layar ponselnya. Jihan tak berkedip melihat perut-perut buncit di depannya, ia tersenyum samar sembari menyentuh perutnya sendiri.
"Sebentar lagi aku juga kayak gitu," gumam Jihan pelan.
Mendengar ucapan itu, Tiger beralih menatap Jihan. Lalu mengarahkan tatapannya pada para pria di depannya yang sedang seru bermain dengan perut istri masing-masing. Seolah sedang bercakap dengan calon bayi mereka.
'Apa aku harus seperti mereka?' batin Tiger dalam hati. Ia menjulurkan lengan perlahan, hendak menyentuh perut wanita itu.
Jihan yang masih tersenyum lebar, kini menoleh. Karena merasa diperhatikan sejak tadi. Secepat kilat, pria itu menarik kembali tangannya. Lalu menoleh ke arah lain dan menjadi salah tingkah.
Salah satu alis Jihan terangkat, "Kenapa sih? Kamu aneh dari tadi?" tanyanya meraih tangan Tiger dan menggenggamnya.
Tiger menepuk keningnya dengan tangan yang lain. "Ah yaampun! Aku lupa!" tandasnya melebarkan kedua mata.
"Apa? Kenapa?!" tanya Jihan ikut terkejut. Takut terjadi apa-apa.
__ADS_1
Bersambung~
Bapak Macan, wkwkwkwk... Kaku amat, Pak ðŸ˜