
Kilat tajam dan berair dari sepasang manik Jihan menyorot tepat pada mata Tiger. Satu kedipan saja, bulir bening terjatuh membasahi kedua pipinya.
Namun Jihan berusaha menutup kesakitannya. Dia menegakkan kepala, tidak mau terlihat lemah di hadapan lelaki yang dicintainya sekaligus menghancurkan harga dirinya.
Bibirnya tak ingin berucap banyak hal. Diam dengan gerakan mata penuh luka dan kekecewaan. Hancur sudah mimpi-mimpi yang ia rajut selama bertahun-tahun. Runtuh sudah pondasi yang ia bangun selama ini.
Kesetiaannya diragukan, pengorbanannya diabaikan bahkan tanpa mau mendengar apa pun yang ingin ia jelaskan. Percuma, baginya semua ucapannya hanya akan semakin menorehkan luka.
Jihan meraih tasnya, memungut ponsel dan segera menelepon pengasuh Cheryl sedari bayi. Ia berjalan gontai keluar ruangan. "Mbak, bawa Cheryl ke apartemen sekarang juga!" titahnya sembari berjalan keluar.
Tiger masih mematung, masih mengatur deru napasnya. Kepalan tangannya belum juga memudar, tatapannya enggan beranjak dari punggung istrinya. Cara berjalannya yang tertatih, seakan terlihat betapa rapuhnya wanita itu. Namun dia berusaha tegar.
"Aku akan minta Rico untuk mengantarnya. Tolong gendong Cheryl ya, Mbak. Sekarang! Tunggu aku di apartemen," perintahnya tegas yang segera diiyakan oleh orang kepercayaannya.
Jihan segera meminta Rico menjemput Cheryl. Sedangkan dia memesan taksi online menuju apartemen.
Sementara itu, Tiger mengamuk di ruang rapat Jihan. Ia berteriak sembari menendang semua kursi yang berjajar hingga bergelimpangan. Cemburu dan takut terulang kejadian yang sama membuat Tiger hilang kendali. Bahkan tanpa sadar telah menorehkan luka begitu dalam di hati istrinya.
"Tuan, maaf jika saya lancang. Tapi sebaiknya Anda mendengar penjelasan Nyonya atau Tuan Zero terlebih dahulu. Saya juga tidak tahu bagaimana awalnya, namun yang saya tahu mereka hanya sebatas partner kerja." Bian menelan ludahnya kasar saat masih melihat kedua bahu Tiger menegang.
__ADS_1
"Tuan Zero adalah produser sekaligus pemegang saham tertinggi. Sudah banyak butik-butik ternama yang ia tangani, ini adalah apresiasi untuk peserta yang memenangkan kompetisi. Bukankah Nyonya menjadi salah satu juaranya?" lanjut Bian berusaha menjelaskan.
Tiger menoleh, menatap tajam dengan ekor matanya. "Apa kau tidak tahu bagaimana liciknya musuh dalam menjatuhkan lawannya?" desis Tiger.
"Maaf, Tuan. Jika memang Anda berpikiran seperti itu, hanya Tuan Zero yang patut Anda pertanyakan. Sedangkan Nyonya...." Bian menarik napas dalam-dalam. Lalu melanjutkan pendapatnya.
"Maaf sekali lagi, Tuan. Selama ini Nyonya tidak pernah neko-neko. Beliau selalu dalam pantauan saya. Mereka jarang sekali bertemu, kecuali ada event tertentu. Waktunya hanya digunakan untuk bekerja seharian penuh, bermain dengan Nona kecil, itupun hanya sebentar. Sisanya, menemani Anda berobat. Saya rasa tidak ada waktu bagi Nyonya untuk bertindak seperti yang Anda tuduhkan."
Penjelasan Bian membuat kedua bahu Tiger merosot. Tubuhnya melemas seolah tak bertulang. Ia terduduk di salah satu kursi putar menutup wajah dengan kedua tangannya. Hancur sekali ketika mengingat betapa tajamnya kalimat-kalimat yang menghunus jantung sang istri.
Tak lama kemudian, bahu kokoh itu bergetar hebat. Tiger menangis, dihujam kesakitan. Tak bisa membayangkan bagaimana sakit hatinya sang istri, semua umpatan kasarnya, tuduhannya. Astaga! Tiger benar-benar sesak.
Buru-buru dia berlari keluar menuju pelataran. Berharap masih belum terlambat mengejar istrinya. Namun saat tubuhnya berputar di pelataran luas itu tak menemukan siapa pun.
"Ke rumah sekarang juga. Cheryl pasti masih di rumah!"
'Semoga Anda tidak terlambat, Tuan. Kenapa tempramen Anda sama sekali tidak berubah?' batin Bian melesatkan mobil dengan kecepatan tinggi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Sedangkan Jihan, ia tidak langsung ke apartemen. Melainkan berhenti di sebuah taman yang sudah sepi. Ia berjalan dengan tatapan kosong di bawah remang cahaya rembulan. Lalu duduk di depan sebuah air mancur.
Seketika air mata yang sedari tadi ia tahan menganak sungai membasahi pipinya, hatinya terkoyak. Sekuat-kuatnya Jihan, dia tetap wanita biasa. Jika hanya dibentak, mungkin ia sudah terbiasa. Tapi ketika direndahkan, dicaci, tidak dihargai dan bahkan diabaikan kesetiaan juga pengorbanannya, rasa sakit itu begitu membekas.
Jihan meraih ponselnya, menghubungi Khansa. Tidak peduli di seberang sana sudah lewat tengah malam. Ia sudah tidak kuat.
"Sa," panggilnya dengan suara serak. "Aku udah nggak kuat," lanjutnya menunduk dengan isak tangisnya.
Khansa terperanjat. Mendengar tangisan Jihan segera terbangun dari tidurnya. "Apa maksudmu? Apa yang terjadi?" tanyanya.
"Aku mau cerai saja, Sa," ucap Jihan to the point.
"Apa?" pekik Khansa.
Selama ini Jihan tidak pernah mengeluh apa pun mengenai Tiger. Bahkan Khansa mengetahui apa pun yang terjadi berdasar laporan dari Rico. Namun tiba-tiba Jihan menangis tersedu-sedu, dan mengatakan ingin bercerai.
Bersambung~
Jadiii.... maksudnya kmren aku bilang ini episod terakhir... adalah....
__ADS_1
hari ini aku crazy up sampai episod terakhir. Biar nangisnya juga sekalian nggak terputus-putus.
Jangan lupa crazy komen dan likenya juga 😆