
Dua lengan kekar menangkap tubuh Jihan yang hampir saja terjatuh ke lantai jika telat sedetik saja. Dua pasang manik mata mereka saling bertumbukan, terdiam sesaat namun seketika Jihan tersadar dan berusaha bangun kemudian dibantu oleh pengawal setianya itu.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Rico setelah membantu Jihan berdiri.
"Seperti yang kamu lihat!" jawabnya mengurai senyum di bibir manisnya.
"Cih! Sudah punya laki masih aja gatel. Dasar pelayan tidak tahu diri!" cibir salah satu perempuan di hadapan mereka yang masih memperhatikan setiap pergerakan Jihan.
"Iya! Dasar pelayan tidak punya harga diri!" balas perempuan satunya dengan tatapan sinis. Dagu mereka terangkat dengan tangan dilipat depan dada.
Tanpa mengeluarkan suara apapun, Rico menarik lengan Jihan dan menyembunyikannya di belakang punggung kekarnya. Mata pria itu menatap tajam layaknya busur panah yang siap menancap pada target bidikannya.
"Siapa yang kalian bilang pelayan?!" sembur Rico berjalan dengan langkah tegas tanpa berkedip.
Tidak peduli pria ataupun wanita, semua yang menyakiti Jihan akan dia libas tanpa ampun. "Beraninya kalian menyebutnya pelayan! Mau kuledakkan mulut kalian, hah?!" sentaknya dengan mata memerah dan rahang yang mengeras.
Dalam sekali gerakan kasar, Rico mendorong dia perempuan itu hingga terjatuh. Refleks keduanya bergelayut pada rak snack single di belakangnya. Tidak bisa menahan beban, rak tersebut roboh dan hampir menimbun tubuh perempuan itu jika saja keduanya tidak segera merangkak menjauh.
"Rico!" seru Jihan terkejut menutup bibirnya yang terbuka.
Rico masih menatap nyalang dan tanpa ampun pada dua wanita yang sudah gemetar hebat karena ketakutan di lantai.
"Kumpulkan semua belanjaan dia! Masukkan kembali ke keranjang!" tegas Rico sedikit merunduk.
Mendengar gemuruh di suatu lorong, beberapa karyawan dan costumer lain bergegas menghampiri ke sumber suara. Rico segera menoleh, masih dengan tatapan nyalang menatap satu per satu orang-orang yang berdiri di sekelilingnya. Tubuh kekarnya tampak menegang dengan tangan masih terkepal kuat, menahan amarahnya.
"Jangan ada yang berani ikut campur!" Suara lantang dan tegas disertai tatapan mematikan membuat semua orang bergidik ngeri.
__ADS_1
Seketika mereka semua terpaku dan hanya menjadi penonton saja. Tidak ada yang berani mendekat atau sekedar menolong. Apalagi tidak ada yang tahu kejadian sebenarnya.
Kembali Rico pada dua perempuan yang masih terduduk di lantai. "Ayo kumpulkan! Atau kalian ingin dengan cara kasar?" Rico meraih sesuatu dari dalam saku jasnya.
Suasana pun semakin menegangkan, ketika pria tampan itu memegang desert eagle berwarna hitam dan memainkan moncong pistolnya itu. Semua orang mundur menjauh, karena ketakutan.
Jihan maju beberapa langkah, ia meraih ujung jas Rico dan menariknya dengan pelan. "Rico, apa yang kamu lakukan?" bisik Jihan di punggung kekar pengawalnya itu.
"Memberi mereka pelajaran. Agar tidak berani menyentuhmu lagi!" sahut Rico tegas tanpa melepas pandangan dari dua perempuan yang gemetar ketakutan melihatnya.
"Jangan berlebihan," bisik Jihan lagi menarik-narik ujung jas pria itu. Ia sendiri takut jika Rico lepas kendali.
Rico berbalik menangkup kedua bahu Jihan dan memundurkan langkahnya. "Tunggu di sini dan tenanglah. Ini tugasku!" ujarnya menepuk-nepuk bahu Jihan.
Pria itu memutar langkah, berdiri tepat pada dua perempuan yang sudah hampir berdiri. Lengannya terulur menodongkan senjata api di tangannya, "Mau kemana?" tanya Rico.
Gerakan mereka terhenti, menaikkan kedua tangan di atas kepala dan kembali duduk saat melihat Rico menggerakkan pistolnya ke bawah.
"Cepat bereskan belanjaan dia! Rapikan kembali ke dalam keranjang!" perintah Rico.
"Ba ... baik!" sahut mereka terbata. Mulai merangkak memunguti belanjaan Jihan tadi.
Rico berjalan santai dan menginjak tangan putih mulus yang hendak mengambil satu batang cokelat di lantai. Diinjaknya kuat-kuat hingga perempuan itu memekik kesakitan. Bahkan cokelat tersebut sampai ikut tak berbentuk.
"Aaaarghh!" jeritnya diiringi tangis.
"Tangan kotormu ini tidak pantas menyentuh atau bahkan menyakitinya. Ini pertama dan terakhir. Jika saja kamu berani melakukannya lagi, aku tidak segan memotong tanganmu itu!" ancam Rico dengan sadis.
__ADS_1
Jihan meringis ngilu. Ia segera menarik lengan Rico, "Ric, udah cukup. Jangan buat masalah. Nanti kamu bisa berurusan dengan hukum," bisiknya tidak mau sang pengawal mendapat masalah nantinya.
"Tidak akan ada berani yang menghukumku, kecuali tuanku!" jawabnya tersenyum misterius.
"Haissh! Udah ayo. Aku yakin mereka kapok. Bayar tuh kerugian toko! Kamu hancurin satu rak itu." Jihan menarik pengawalnya untuk meninggalkan lokasi. Ia sudah kehilangan mood untuk belanja.
Rico masih tidak rela, dia belum puas memberi mereka pelajaran. Namun Jihan terus menariknya menuju kasir. "Ayo bayar!" sentak Jihan memaksa pria itu membayar ganti rugi.
Dengan santai, Rico mengeluarkan dompetnya dan meraih puluhan lembar seratus ribuan. Menyerahkannya pada pelayan yang berjaga. "Ini uang ganti ruginya!"
"Maaf ya, sudah membuat keributan!" ucap Jihan lalu menarik lengan pria itu keluar dari sana.
"Padahal aku masih mau bermain dengan mereka. Memang mereka siapa sih? Kenapa seperti punya dendam sama kamu?" tanya Rico setelah duduk di balik kemudi. Menatap Jihan yang masih cemberut di kursinya.
"Mereka tuh cabe-cabeannya Tiger!" cetus Jihan masih mengerucutkan bibirnya.
Rico terkejut, kedua matanya membelalak lebar lalu tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Oh, yaampun selera Tuan! Tapi ... memang cantik dan sexy sih!" ujar Rico mendesis sembari membayangkan saat tak sengaja dia melihat belahan dada dua wanita tadi.
"Ambil aja sana! Biar nggak ganggu Tiger lagi! Ke bar aja nanti malam pasti ketemu mereka tuh!" geram Jihan membuang mukanya yang terlihat kesal.
Sambil melajukan mobil, Rico tertawa terbahak-bahak. "Oh, jadi Nyonya cemburu nih?" sindirnya melirik kaca spion.
'Hah! Cemburu?' gumamnya tersentak saat Rico menggodanya. "Cemburu apanya!" semburnya tidak terima.
Bersambung~
__ADS_1
Masaa?