
Sempat tersentak kaget, 'Bagaimana dia bisa tahu? Aku sudah melenyapkan semua bukti bahkan orang yang mengeksekusinya!' gumam Rexo dalam hati.
"Sepertinya Anda salah sasaran. Karena nyawa saya lebih dari satu," sambung Tiger.
"Hahaha!" tawa Rexo seketika menggema di seluruh ruangan. Tiger masih tetap dengan ekspresi datar sambil menatap waspada. "Ternyata, kau cukup cerdas! Padahal banyak sekali korban ledakan itu. Dan aku sangat berharap kamu salah satunya. Aku salah terlalu meremehkanmu!" Kini Rexo mulai membuka wajah aslinya.
Dua pria itu saling menatap penuh permusuhan. Bahkan mata mereka saling bertaut dalam ketajaman masing-masing. Tiger diam mendengarkan meski kedua tangannya terkepal dengan kuat.
"Kau tahu, gara-gara kamu tidak mengirim barang tepat waktu, aku mengalami kerugian besar. Padahal aku sudah menyelesaikan pembayaran 75%. Dan kamu tidak mau mengembalikannya! Perusahaanku sampai diblacklist dari negara tetangga gara-gara kelalaian kamu!" pekik Rexo berbicara non formal sembari menunjuk Tiger.
"Bukankah sudah jelas di surat kontrak kerja kita? Semua DP yang sudah masuk tidak bisa dikembalikan apapun yang terjadi! Karena saya akan mengirimnya kembali pada periode berikutnya. Apalagi kejadian ini bukan sepenuhnya kesalahan saya. Anda pikir cuma Anda saja yang mengalami kerugian? Saya bahkan rugi puluhan kali lipat dari Anda!" balas Tiger dengan nada tak kalah dinginnya.
"Itu karena kamu sendiri yang tidak becus mengkoordinasi tim kamu! Sebelum banyak yang mengalami kerugian gara-gara kamu lebih baik, kamu mati!" sentak Rexo berdiri dan berlari ke meja kerjanya.
Kerja sama dalam dunia mereka, tidak mengenal toleransi. Sedikit saja melakukan kesalahan, kawan bisa langsung menjadi lawan saat itu juga untuk tetap mempertahankan eksistensi mereka.
Sebenarnya, Rexo memang sudah lama mengincar Tiger. Menunggu waktu yang tepat untuk menghancurkannya. Karena mereka awalnya adalah teman seperjuangan ketika tinggal di negara tetangga. Mereka berdua berasal dari klan yang sama.
__ADS_1
Namun ketika ketua mafia mereka hampir meninggal, ia menyerahkan jabatannya pada Tiger yang memang saat itu menjadi kepercayaannya. Tidak semua anggota menerimanya dengan baik. Apalagi usia Tiger saat itu masih tergolong sangat muda.
Hingga terjadilah perpecahan sampai saat ini dan menargetkan Tiger sebagai musuh bebuyutan. Banyak cara yang mereka lakukan untuk menumbangkan king of devil yang tidak pernah mengenal kata ampun.
Terdengar bunyi senjata api yang siap dilesatkan. Tiger masih duduk dengan tenang, meski sebuah pistol kini mengarah tepat pada kepalanya.
Mata Tiger sudah menemukan titik merah yang mengarah pada jantung Rexo. Seorang penembak jitu bersiap untuk membidik pria tua itu dari atap gedung yang berseberangan.
"Finger and leg!" seru Tiger yang langsung didengar oleh anak buahnya.
"Siap!"
Ia hendak meraih gagang telepon, namun dengan gerakan cepat Tiger menarikya hingga kabelnya terputus, lalu melemparnya ke dinding.
"Anda yang memulai duluan, Tuan. Padahal saya mau menyelesaikannya secara baik-baik. Tapi ternyata, Anda menolaknya mentah-mentah dengan menodongkan senjata pada saya!" tegas Tiger berjongkok sembari mencengkeram kerah kemeja pria itu.
Kemudian Tiger beranjak berdiri, meraba tepian meja kerja Rexo lalu menempelkan sesuatu di bawah meja tersebut. Terdengar denting waktu yang berjalan membuat jantung Rexo berdetak berkali-kali lipat. Napasnya tersengal-sengal, selain merasakan nyeri dan panas pada tangan juga kakinya, Rexo panik ketika meyakini Tiger meletakkan sebuah bom di ruangan itu.
__ADS_1
Tiger tertawa, lalu kembali menghampiri rivalnya tersebut. "Saya sudah mempercepat perjalanan Anda ke neraka. Selamat bersenang-senang Tuan Rexo!" gumamnya lalu berdiri, menendang pistol milik Rexo dan melenggang menuju balkon gedung tinggi tersebut.
Di sana, Tiger sudah disambut anak buahnya. Membantu mengenakan safety belt, lalu pria itu melompat turun ke lantai dasar dengan seutas tali yang menjuntai hingga tanah. Dengan gerakan teratur dan tenang, Tiger melompat tiap dinding kaca yang dilaluinya.
Dua orang anak buahnya segera turun setelah memastikan sang boss mendarat di tanah dengan sempurna. Tiger segera melepas semua tali yang melilit tubuhnya, menepuk-nepuk telapak tangannya lalu berjalan santai seolah tidak terjadi apa-apa menuju pelataran gedung. Ia segera mengendarai mobilnya meninggalkan lokasi.
"Duarrr!"
Sebuah ledakan kecil terdengar dari lantai teratas gedung tersebut. Para karyawan segera keluar dari gedung dalam keadaan panik. Sengaja Tiger memasang bom kapasitas rendah agar tidak menimbulkan ledakan dahsyat yang memakan banyak korban, hanya sang CEO lah targetnya. Tiger tidak akan mengusik siapapun jika mereka tidak mengusiknya lebih dahulu.
Tentu saja semua kinerjanya bersih dari penyelidikan. Karena Tiger dan para bawahan handalnya sudah mengatur jika kejadian itu merupakan korsleting listrik. Tidak akan ada bukti yang mengarah pada pria devil itu.
Di tengah perjalanan, Tiger menatap kosong ke depan. Namun masih tetap fokus pada jalan dan mobilnya. Tiba-tiba, dering ponsel menyadarkannya. Ia segera menerima panggilan dari tangan kanannya itu.
"Tuan! Kami sudah menemukan mobil Rico!" lapor Dylan di seberang.
"Good job! Segera kirim ke email saya!" tegas Tiger menyeringai semakin dingin.
__ADS_1
Bersambung~
Okeyy.. cukup yaa untuk tripel hari ini. like komennya di semua bab, biar gak kapok crazy up.. makasiih bestiee 😘