
Seulas senyum terurai di bibir pucat Jihan. Masih terlihat jelas letih, lelah dan lemas usai perjuangan yang melibatkan dua nyawa itu. Buliran keringat memenuhi seluruh permukaan wajah cantiknya, bahkan rambutnya pun basah sebagian.
"Tiger, kamu ngapain? Bikin kaget aja," ucap Jihan pelan dengan napas tersengal.
"Dari tadi aku nahan emosi! Ingin kuratakan ruangan ini karena penanganannya lambat! Napasku hampir habis melihat kamu kesakitan seperti itu!" tandas Tiger yang seketika membuat para tim medis menghentikan aktivitasnya dan menoleh pada pria itu.
"Ishh nggak boleh gitu! Kalau nggak ada tim medis, aku dan anak kita belum tentu selamat! Jadi harus ber ...."
Tiger langsung membungkam bibir Jihan, memberikan ciuman lembut di sana hingga Jihan tidak bisa melanjutkan ucapannya. Buru-buru tim medis segera melanjutkan tugas masing-masing. Suara tangisan bayi mereka memaksa Tiger untuk melepaskan pagutannya.
"Maaf, Tuan! Nyonya, permisi. Ini bayinya harus dilakukan inisiasi menyusui dini terlebih dahulu," ucap salah satu bidan yang hanya berdiri di belakang Tiger sembari menggendong bayinya.
Pria itu menegakkan tubuh dan melayangkan tatapan tajam pada sang bidan. Jihan yang masih mengatur deru napasnya mendorong lelaki itu agar menyingkir.
"Beri jalan Tiger!" seru Jihan bersiap menerima sentuhan pertama untuk putranya.
Tiger menyingkir satu langkah. Diletakkannya bayi yang masih merah dengan lengkingan tangis kuat itu di dada Jihan yang sudah terbuka. Kemudian menutupinya dengan selimut.
Haru, sampai menitikkan air mata. Jihan menunduk, menatap lekat putra keduanya disertai senyum merekah.
Napas Tiger sudah tak beraturan. Denyut dadanya semakin kuat kala melihat malaikat kecil yang bersandar nyaman di dada istrinya. Tangannya gemetar, menyentuh kepala yang sudah ditutup dengan topi bayi yang lucu. Tubuhnya menunduk, menyamakan tinggi dengan ranjang.
"Ha ... hai, Boy! Welcome to the world!" ucap Tiger gugup dan sedikit gemetar.
Jihan menatap suami dan putranya bergantian, "Kali ini aku pemenangnya! Semua wajahnya mewarisi genku!" celetuk Jihan bangga di tengah rasa haru.
Bayi laki-laki itu menggerakkan genggaman tangan mungilnya perlahan, mulutnya pun terus mencecap, sepasang matanya berkedip lembut. Keseluruhan wajahnya lebih terlihat asia. Menuruni setiap gen sang mama.
"Iya. Kali ini kamu pemenangnya," Tiger menambahkan. Ia memeluk anak dan istrinya itu, memberikan kecupan sayang pada kening Jihan dan putranya bergantian.
Tak berapa lama, sang bayi harus dibalut dengan pakaian dan bedong agar hangat. Kemudian diletakkan di ranjang bayi. Tiger masih setia di samping istrinya, memberikan minum tatkala rasa haus mulai terasa dari tenggorokannya.
Usai perawatan pasca melahirkan, memastikan tidak terjadi komplikasi, Jihan segera dipindahkan ke ruang rawat inap beserta bayinya. Tiger tentu meminta ruangan terbaik untuk para kesayangannya.
__ADS_1
"Suster, bagaimana cara menggendongnya?" tanya Tiger antusias ketika mereka sudah sampai di ruang rawat.
Suster tersebut tersenyum, memberikan contoh mulai dari mengambil bayi tampan itu, hingga meletakkan di lengannya.
"A ... aku mau coba!" ungkapnya gugup.
"Baik, Tuan. Silakan lengan yang menurut Anda nyaman," pinta suster tersebut.
Perlahan, bayi itu berpindah tangan. Kini berada dalam dekapan sang ayah. Diayunkannya dengan perlahan. Ia menitikkan air mata, rasa bahagia sekaligus sedih karena dulu tidak bisa menggendong Cheryl. Jihan hanya tersenyum, masih mengumpulkan energi yang terkuras habis.
"Papa! Mama!" pekik Cheryl berlari menerobos masuk, diikuti Milano yang masih berpakaian rapi mengurai senyum di bibirnya.
Rico segera menghubungi Milano ketika cucunya sudah lahir dengan selamat. Ia segera menjemput Cheryl dan pengasuhnya untuk menjenguk mama juga adiknya yang baru lahir.
"Hai, Kak!" sapa Tiger berjongkok menyamakan tingginya dengan Cheryl.
Manik mata bulat berwarna biru itu membelalak lebar, bibirnya melengkung membentuk senyum yang sangat lebar. Tampak sangat bahagia dengan kehadiran sang adik.
"Kakak, dedenya laki-laki. Nggak apa-apa 'kan?" ucap Tiger mengusap lembut puncak kepala Cheryl.
"Terima kasih, Kak!" gumam Tiger.
"Cheryl boleh cium dede, Pa?" tanya Cheryl meminta izin.
"Tentu saja, Sayang! pelan-pelan ya," titahnya.
Setelah mendapat izin, gadis itu segera mendaratkan ciuman hati-hati di pipi adiknya. Kemudian memeluk bayi kecil itu sambil tertawa bahagia. "Namanya siapa, Pa?" tanya Cheryl mendongak.
"Damian Axelsen!" sahut Tiger dengan mantap menoleh pada sang istri yang dijawab sebuah anggukan dengan senyum di bibirnya. Dulu, Jihan yang memberi nama untuk Cheryl, sekarang ia menyerahkan penuh nama anak laki-laki mereka pada Tiger.
"Dede Axel!" cetus Cheryl mengusap lembut pipi bayi itu.
"Ayah mendapat kabar dari Leon. Khansa juga hari ini melahirkan bayi kembarnya." Milano bersuara setelah euforia Cheryl bertemu sang adik pertama kali..
__ADS_1
"Loh, baru lahir?" tanya Tiger mendongak. Kali ini ia beranjak berdiri.
"Baby boy memang harusnya lahir 3 minggu lagi, Sayang. Mungkin Sasa mundur dari HPLnya." Jihan menimpali.
Tiger yang tidak begitu mengerti hitung-hitungan seperti itu hanya ber-oh ria saja. Ia menatap putrinya lagi. "Kakak! Selamat! Tiga adiknya udah lahir semua!" seru Tiger antusias.
"Anak-anak aunty mama udah lahir juga, Sayang!" ucap Jihan menambahkan ketika Cheryl nampak kebingungan.
"Yeeeeaayyyy!!!!" teriak Cheryl melompat-lompat kegirangan.
Milano segera meraih tubuh Cheryl dan menggendongnya, menciumi pipi gembilnya yang menggemaskan. Ia sangat menyayangi Cheryl, sekalipun bukan cucu kandungnya.
Tiger sempat ingin meninggalkan kediaman Sebastian. Ia merasa sama sekali tidak berhak berada di sana. Namun Milano melarang dengan keras.
Sejak kecil, orang tua Tiger yang merupakan sahabat Milano, sudah menitipkan amanat pada pria itu untuk merawat Tiger dengan baik. Lagi pula, orang tua Tiger juga turut menanam saham cukup besar di perusahaan Milano.
Sejak pertikaian besar mereka beberapa tahun yang lalu, Milano tersadar akan semua kesalahan dan ketidakadilannya. Rasa sayangnya semakin besar dan sama untuk anak-anaknya.
Sedangkan Leon, putra kandungnya lebih memilih tinggal bersama sang nenek di Palembang dengan keluarga kecilnya. Milani tidak keberatan, karena Leon memang lebih nyaman dan bahagia tinggal di sana.
..._TAMAT_...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Alhamdulilah .... Habis sudah ya Macan Family. Terima kasih banyak supportnya hingga di titik ini. Like, komen dan give votenya.
Extrapartnya memang cuma berisi kelucuan dan kegemasan Macan Family saja. Nggak ada yang greget atau spot jantung 😄
Tolong ambil sisi positifnya saja ya. Jangan tiru sisi negatifnya. Apalagi dua karakter tokoh utamanya sama2 keras. Tapi satu yang aku suka, kesetiaan mereka luar biasa. 🥰
Bulan depan kita ketemu di novel baru Cheryl ya.... Launching tanggal 2 pukul 00:05 WIB 😍 Kenapa tanggal 2 sih? Yaa... mau abisin Khansa Leon dulu sampai lahirnya sikembar. terus, Hansen Emily juga si pengantin baru yang gagal MP-an biar berhasil 🤣🤣🤣
Judulnya Cheryl? Spoilernya? Nanti yaa aku infoin di sini atau di IG. kalau udah launching. Pokoknya lope you sekebon, seluas samudera, sekandang anu, 😂😂🥰🥰😘
__ADS_1
terima kasih om dan aunty semuaa.. jan lupa nanti mampir ke rumah Cheryl ya 😍