
"Rico! Bagaimana kondisi Jihan? Lalu gimana Cheryl?" Khansa segera menyerobot ponsel suaminya ketika mendengar kepulangan Jihan.
"Nona Cheryl di Jakarta, sedangkan Nyonya Jihan baru saja tiba di Palembang usai opening butiknya tadi malam, Nyonya," papar Rico sejelasnya.
"Apa?! Bagaimana bisa dia meninggalkan Cheryl di Jakarta?" teriak Khansa frustasi. Ia langsung beralih menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. "Kita pulang ya, aku ingin ketemu dengan Cheryl," pintanya dengan air mata mulai mengalir.
Leon memilih mematikan sambungan teleponnya, menangkup kedua bahu Khansa dan menghadapkan padanya. "Sayang," panggil Leon menarik napas panjang.
"Dengarkan aku, Jihan meninggalkannya pasti bersama orang kepercayaannya. Dan lagi, di Jakarta 'kan ada ayah? Jika tahu keberadaannya, ayah pasti akan mengirim orang-orangnya untuk menjaga mereka."
Khansa menunduk dalam dengan tangis yang semakin menyesakkan dada. Ia masih ingin merawat anak itu dengan tangan terbuka. Kehilangan calon anak mereka memang masih menjadi luka terdalam yang tidak bisa hilang begitu saja.
Leon menarik kepala Khansa ke dalam dekapan hangatnya. Ia sangat paham dengan yang dirasakan istrinya saat ini. Ia sendiri tidak pernah bisa melupakan kejadian tragis yang disebabkan oleh Tiger.
"Apa kamu tega memisahkan mereka? Jihan pasti dalam kondisi tertekan, Sayang. Suaminya hampir meregang nyawa. Dan kamu masih tega mengambil anaknya? Mereka sudah menuai semua karmanya. Jadi, aku mohon, ikhlaskan, Sayang," ucap Leon dengan suara yang bergelombang.
Deru tangis Khansa semakin keras. Ia menggenggam kuat kedua tangannya di belakang punggung kekar suaminya. Menyembunyikan wajahnya pada dada bidang pria itu.
__ADS_1
"It's Ok, menangislah. Tuntaskan semua sampai hatimu lega. Lalu ingatlah, di sini kamu masih harus menyelesaikan pendidikan. Fokus dan yakin, suatu hari nanti kita punya kebahagiaan sendiri," ujar Leon mengusap lembut punggung istrinya yang bergetar hebat. Lalu mencium puncak kepalanya, memberikan pelukan hangat hingga istrinya benar-benar tenang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dua jam kemudian, terdengar lenguhan dari bibir Jihan. Ia mengerjapkan kedua matanya, menatap langit-langit sejenak sembari mengumpulkan tenaga dan ingatannya.
"Tiger!" pekiknya terperanjat hingga dalam posisi duduk.
"Sayang," sahut Tiger menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman.
Jihan kembali menelusup ke dada suaminya. Memeluknya dengan sangat erat, menumpahkan tangis kerinduan di sana. Tiger juga menitikkan air mata. Apalagi saat ini raganya sama sekali tidak bisa bergerak. Ia merasa benar-benar tidak berguna.
Jihan baru bergerak merebahkan tubuhnya di sebelah Tiger, memiringkan tubuhnya dan menatap lekat suaminya. Tampak Tiger susah payah menggerakkan kepalanya agar mereka saling berhadapan.
"Cheryl di Jakarta sama Mbak Lala. Pengasuhnya sejak berusia 3 bulan. Cheryl sudah bisa lari-larian, sudah bisa memanggil mama dan papa. Dia anak yang luar biasa. Sangat pengertian, tidak pernah rewel, dia seolah menggantikan posisimu untuk menguatkanku." Jihan melingkarkan lengannya di perut Tiger. Merebahkan kepala pada bahu suaminya.
"Aku nggak sabar ingin bermain dengannya. Tapi, kondisiku tidak memungkinkan. Dokter menyarankan agar aku dirujuk ke rumah sakit di Inggris. Di sana, dokter dan alat medis untuk terapi lebih mumpuni."
__ADS_1
Jihan mengeratkan pelukannya. "Kita baru saja bertemu. Haruskan berpisah lagi?" lirih wanita itu sendu.
"Demi kebaikan kita semua, Sayang. Sayang sekali markasku ini belum dilengkapi dengan kecanggihan fisioterapi. Kalau tim bedah, sudah lengkap. Eh ...." Tiger tersentak saat menyebutkan markas. Dia pun baru sadar posisinya saat ini.
Jihan mendongak merasakan ketegangan suaminya. "Kenapa?" tanyanya.
"Kamu ... sudah tahu identitasku yang sebenarnya?" tanya Tiger dengan dada berdegub kencang.
"Tahu," sahutnya mengangguk.
"Jadi, kamu tahu kalau aku seorang ...."
"Mafia!" cetus Jihan menyerobot ucapan Tiger.
Ketakutan kembali melingkupi hati Tiger. Ia takut Jihan akan pergi lagi setelah tahu siapa dia sebenarnya. Napasnya berembus pendek-pendek. "Lalu ...." Tiger tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
Bersambung~
__ADS_1
Aduuhh ngerti banget sih perasaan khansa😭
Sekali lagii yang masih nanyain masa lalu mereka berempat, kok nggak nyambung, blablablaa... kisah mereka HANYA ADA DI PENGANTINKU, LUAR BIASA 😩 dimana thor? Klik saja profil author. Lo kok? Sudah jangan bnyak nanya. di sana, ujung Bab 1, udah aku jelasin semuanya. sekian dan terima gaji 🙏