
"Jihan!" teriak Tiger menggelegar, suaranya menyita perhatian semua orang yang ada di street food tersebut. Namun pria itu tentu saja tidak peduli.
"Jihan, tunggu!" teriaknya sekali lagi saat dirasa wanita yang dicarinya semakin menjauh.
Tiger berlari di antara kerumunan orang-orang. Matanya terus tertuju pada perempuan yang kini semakin menjauh, sampai pada akhirnya Tiger berhasil menangkap pergelangan tangan perempuan itu, lalu menariknya ke dalam pelukannya.
"Sayang! Aku kangen banget sama kamu! Please, maafin aku. Kita pulang ya, Sayang. Aku bakal jelasin semuanya! Aku bisa buktiin bukan aku yang menyebabkan musibah yang menimpa ibumu. Aku mohon, Sayang kita pulang ya!" rengek Tiger memeluknya erat.
Bahkan perempuan itu kini memberontak agar bisa terlepas dari lilitan tangan Tiger, dan ....
"Plak!"
Sebuah tamparan justru melayang di pipi Tiger. Tatapan kemarahan kini memancar dari kedua mata wanita yang ada di hadapannya. "Apa-apaan, lo?! Dasar gila!" pekik wanita itu dengan keras.
Tiger membeku ketika sadar bahwa wanita itu bukan istrinya. Tubuhnya melemas, kedua kakinya mulai tidak bisa menopang berat badannya. Ia terduduk lemah di atas trotoar. Kepalanya menunduk dalam sambil menyeka kedua sudut matanya. Bahunya bahkan sampai bergetar karena menangis, ia benar-benar frustasi.
Di sisi lain, Jihan menutup mulutnya tak percaya. Ia berjongkok di belakang gerobak penjual ketoprak. Air matanya pun mulai berjatuhan ketika mendengar ucapan Tiger.
Malam itu, Jihan yang merasa sangat lapar memutuskan untuk jalan-jalan keluar. Memilih beragam makanan yang terlihat begitu menggiurkan di sebuah street food tak jauh dari tempatnya tinggal. Sudah beberapa bungkus makanan yang ia dapatkan, namun tiba-tiba tersentak saat mendengar teriakan seseorang yang tidak asing baginya.
__ADS_1
Refleks Jihan pun bersembunyi saat menunggu ketopraknya siap dibungkus. Ia berlari ke balik gerobak dan berjongkok di sana. Sang penjual pun tampak kebingungan, namun diam saja membiarkan Jihan di sana.
Perlahan Jihan menjulurkan kepalanya untuk mengintip keberadaan Tiger. Sontak dia terkejut, rasanya tidak percaya pria itu kini rapuh. Lelaki yang kejam dan penuh ancaman, kini menangis.
"Bi, ada air mineral?" tanya Jihan dengan suara pelan.
"Ada, Neng. Ini yang ukuran tanggung," jawab penjual ketoprak sembari menyerahkan satu botol air mineral yang masih bersegel.
"Sekalian ketopraknya ya, Bi."
Jihan lalu bangkit dan mencari-cari seseorang sambil menggenggam air mineral tersebut. Hingga akhirnya, dia menemukan seorang anak laki-lali yang sedang mengamen dari satu gerai ke gerai lainnya.
Anak lelaki itu berlari dengan semangat menghampiri Jihan. "Mau aku nyanyiin, Kak?" ucapnya bebinar.
"Enggak, aku mau minta tolong," ucap Jihan memutar tubuh anak lelaki itu menghadap pada Tiger. "Kamu lihat om-om yang menangis di bawah pohon besar itu 'kan?" tanya Jihan menjulurkan jari telunjuknya.
"Iya, Kak. Yang pake baju hitam itu 'kan?" sahut sang anak.
"Betul, tolong kasih air ini ya. Bilang jangan nangis lagi, Om. Nah ini buat kamu," ucap Jihan mengulurkan uang dan air tersebut.
__ADS_1
"Terima kasih, Kak!" seru anak tersebut menerimanya lalu berlari ke arah Tiger.
Sedangkan Jihan menyeka air matanya yang tidak sengaja terjatuh. Ia segera berbalik menunggu ketopraknya yang masih dalam antrian.
"Om! Jangan sedih, jangan nangis lagi," ucap pengamen cilik itu mengulurkan sebotol air mineral.
Tiger menegakkan tubuhnya, ia justru memicingkan mata waspada. Namun raut wajah menyeramkannya sama sekali tidak menakutkan anak itu. Karena baginya semua orang sama saja. Ia sudah sering bertemu dengan berbagai macam watak orang.
"Ini dikasih sama kakak cantik. Katanya, Om nggak boleh nangis. Masa nggak malu sama aku!" celetuk anak itu menepuk-nepuk dadanya.
Tiger mengernyitkan alisnya, "Kakak cantik? Siapa?" tanya Tiger penasaran.
Anak itu berbalik lalu menunjuk, "Nah, itu yang rambutnya pendek lagi antri ketoprak."
Tiger mengarahkan pandangannya sesuai dengan arah jari telunjuk kecil di depannya. Matanya menyipit untuk memperjelas pandangan.
"DEG!"
Tiger mengusap kedua mata dan memastikannya lagi. Ia melebarkan sepasang manik abunya sambil beranjak dari duduknya.
__ADS_1
Bersambung~