
Tepat saat kepulangan Tiger, Rico baru beranjak dari kediaman besar atasannya itu. Ia bermaksud untuk membersihkan diri di apartemen terlebih dahulu. Beberapa stel pakaian kerjanya masih tersimpan rapi di sana.
Dengan langkah santai, Rico menyusuri lorong apartemennya. Tiba-tiba Rico bergegas memutar langkah dan mencari tempat untuk bersembunyi saat menemukan sekelompok pria kekar berdiri di depan pintu apatemen yang sempat disinggahi Jihan. Ia mengintip di balik tembok, memasang pendengarannya dengan seksama.
"Sial! Kenapa hari itu rekaman CCTVnya bisa hilang? Kita harus segera lapor ke Tuan Zero!" seru salah satu pria. Suaranya tidak asing di telinga Rico. Karena ia sempat berseteru dengannya. Ya, dia adalah Bima bersama beberapa bawahannya.
"Hmm, syukurlah. Tidak terlambat!" gumam Rico menghela napas lega. Jihan sudah berada di samping suaminya. Ia juga berhasil menghilangkan jejak CCTV saat kedatangan Tiger hari itu.
Buru-buru ia berpindah tempat saat mendengar derap langkah kaki dan bisik-bisik dari para pria itu. Bisa mati sia-sia jika sampai dikeroyok sekelompok orang itu, karena saat ini ia tengah sendirian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tiga bulan kemudian ....
Kandungan Jihan sudah semakin membesar. Selama itu pula, dia tidak pernah diperkenankan keluar dari rumah tanpa didampingi Tiger. Jihan menurut karena memang semakin besar kandungannya, ia semakin malas untuk keluar rumah. Untuk belanja saja dia sering membelinya secara online, dari store ternama pastinya.
Pagi ini merupakan jadwal pemeriksaan kehamilannya. Jihan sudah mendaftar secara online, dan juga sudah siap berangkat untuk menunggu kedatangan suaminya. Sejak pagi tadi, pria itu sibuk di kantornya.
__ADS_1
"Ric! Kok Tiger belum juga pulang sih?" gumam Jihan yang berjalan-jalan di teras sekedar melenturkan otot-otot kakinya.
"Sabar," Hanya itu yang terucap dari mulut Rico.
"Apa dia lupa?"
"Tidak mungkin, selama ini juga selalu jadi prioritas," jawab Rico.
"Ya sih, tapi kali ini perasaanku nggak enak deh, Ric. Aku takut terjadi apa-apa," gumam Jihan yang merasa sesak sedari tadi.
Rico pun terus meyakinkan wanita hamil itu bahwa suaminya baik-baik saja. Namun Jihan justru semakin panik dan berpikiran yang tidak-tidak.
Jihan segera mencari benda pipih dalam tas kecilnya. Lalu menghubungi Tiger, masih terus berjalan mondar mandir. "Ric, nggak diangkat!" dengusnya semakin panik. Bahkan kini perut besarnya juga ikut menegang hingga membuatnya meringis sembari menyentuhnya.
Rico yang sedari tadi duduk kini segera beranjak. Dua pengawal lainnya juga turut mendekat, karena Jihan merintih kesakitan.
"Duduk dulu! Tenang, jangan panik," ucap Rico membantu Jihan duduk.
__ADS_1
"Gimana aku bisa tenang kalau nggak ada kabar apa pun dari Tiger! Selama ini dia nggak pernah ingkar. Dia juga selalu menelepon kalau ada halangan!" pekiknya duduk meluruskan kedua kakinya.
Rico menoleh pada dua rekannya. Dengan isyarat mata, mereka pun langsung mengerti untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.
"Tolong ambilkan minum!" seru Rico pada pelayan yang turut keluar mendengar rintihan Jihan.
"Baik, Tuan!"
"Jangan berpikiran yang tidak-tidak, Jihan. Kasihan bayi kamu juga ikut stress. Dia ikut ngerasain!" seru Rico bingung harus bagaimana menenangkan ibu hamil itu.
Jihan segera meneguk air putih dalam gelas, seteguk demi seteguk. Membuang napas beratnya, mengatur emosi yang tiba-tiba muncul.
"Gimana?" tanya Rico menatap dua lelaki yang sebaya dengannya.
"Bos dalam bahaya!" cetusnya, lupa dengan Jihan yang masih berada di dekat mereka.
Sontak, wanita itu segera berdiri tegak dengan dada yang berdenyut nyeri. Tubuhnya gemetar seketika. "A ... apa yang terjadi?" lirih Jihan dengan suara bergetar. Rico menajamkan tatapannya pada pria itu karena kelepasan bicara.
__ADS_1
Bersambung~