The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 107. JANJI JIHAN


__ADS_3

"Jangan pernah berani menyentuhnya! Seujung rambut pun tidak akan pernah aku biarkan!" ucap Rico penuh penekanan. Pria itu pasang badan demi melindungi Jihan. Meskipun yang ia hadapi jauh lebih kekar dan tinggi darinya, Rico sama sekali tak gentar.


Zero mendengkus, "Ada yang ingin saya bicarakan dengan dia. Ini penting!" balas Zero menoleh ke arah Jihan yang bersembunyi di balik punggung Rico.


"Boleh nggak, ngomongnya jangan sekarang dulu? Aku lagi capek banget," lirih Jihan menunduk.


Suaranya bahkan terdengar samar-samar. Tenggorokannya lagi-lagi terasa tercekat. Ia benar-benar tidak ingin menguras tenaganya untuk hal selain suami dan anaknya.


"Tolong," pinta Jihan memohon. Tangannya sibuk menyeka kedua air matanya.


"Pergi!" sentak Rico menatapnya tajam. Sama sekali tidak memberi celah pada Zero untuk mendekati nyonya nya itu.


Zero pun mengangguk, mengurungkan niatnya. Ia tahu ini sangat berat bagi Jihan. "Baik, saya tunggu waktu itu. Di mana kamu benar-benar siap," ujarnya sedikit membungkuk lalu undur diri dari hadapan Jihan.


Sepeninggalnya Zero, Rico segera mengantar Jihan bertemu dengan suaminya. Jihan menegakkan punggungnya, ia menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan pasokan oksigen sebanyak-banyaknya dalam dada.


Kedua tangannya menggosok sepasang matanya yang basah. Memaksa kedua sudut bibirnya agar membentuk senyuman. Tidak ada suara apa pun selama mereka berjalan menyusuri setiap lorong ruangan. Terdiam dalam pikiran masing-masing.


Rico membantu mengenakan pakaian steril pada Jihan, kemudian membukakan pintu. Suhu dingin yang menguar dari ruangan, langsung menyapa permukaan kulit Jihan, seolah membekukan tubuhnya. Bahkan denyut jantungnya sudah mulai berlarian.


"Jihan! Kamu sudah sadar?" Milano segera beranjak dari duduknya. Memberikan kursi untuk menantunya, ketika melihat kedatangan Jihan.


Tidak bisa mengeluarkan suara, hanya tersenyum paksa dengan anggukan kecil ketika manik matanya bersitatap dengan ayah mertua.

__ADS_1


"Kamu harus kuat, Nak!" ucap Milano menepuk salah satu bahu Jihan yang lagi-lagi hanya dibalas dengan anggukan.


Jihan berdiri dari kursi roda. Melangkah dengan sangat pelan, memperpendek jarak dengan ranjang sang suami. Barulah Jihan memberanikan diri untuk menatap suaminya.


Hampir saja terhuyung namun segera menggenggam erat tepian ranjang, pria yang selalu melindunginya, mendekapnya, memanjakannya kini harus terbaring lemah tak berdaya.


Kepalanya dibebat dengan perban, wajah yang biasanya selalu keras, dingin namun hangat saat menatapnya, kini memucat dengan mata terpejam rapat. Segala jenis alat medis menempel pada tubuhnya.


Jihan menunduk mencium kening suaminya, kemudian berkata, "Hai suamiku, selamat ya. Kamu sudah menjadi ayah," bisiknya di telinga Tiger. "Kamu tahu, ini adalah hari yang paling bahagia untukku, sekaligus hari yang paling menyakitkan. Duniaku runtuh tanpamu." Jihan membelai puncak kepala Tiger.


Melihat itu, Milano dan Rico segera keluar. Mereka ingin memberikan waktu untuk Jihan agar meluapkan perasaannya. Tanpa disadari, Tiger pun menitikkan air matanya.


Jihan berusaha agar tidak menangis, tetap saja air mata membobol kedua netranya. Jihan memeluk leher Tiger, merebahkan kepala tepat di dekat telinga pria itu.


"Beristirahatlah sebentar, jangan lama-lama ya. Baby kita juga membutuhkan kamu. Aku pernah membaca sebuah buku, katanya ayah itu adalah cinta pertama anak perempuannya. Apa kamu tidak ingin memberikan cinta untuknya?" Kini Jihan menjatuhkan tubuhnya di kursi.


Ia meraih jemari Tiger dan mencium punggung tangan lelakinya, hingga basah karena air matanya.


"Terima kasih karena sudah sabar menghadapi semua sikapku, terima kasih karena selalu memelukku saat menangis, terima kasih selalu menuruti apa kemauanku, juga selalu menjagaku! Aku janji, mulai sekarang akan lebih kuat lagi. Aku mencintaimu, Tiger. Aku sangat membutuhkanmu," lirihnya merebahkan kepala di tepian ranjang, memeluk erat suaminya.


Sudah hampir tengah malam, Rico memberanikan diri masuk. Ia melangkah sangat pelan, karena netranya menangkap Jihan tertidur mendekap suaminya.


Rasanya tidak tega membangunkannya, namun tubuhnya sendiri harus banyak beristirahat. Tangannya menyentuh bahu Jihan dengan sangat pelan agar tidak mengejutkannya.

__ADS_1


"Jihan," panggil Rico menggerakkan bahu wanita itu perlahan.


"Ji, bangunlah," lanjut pria itu lagi.


Suara bariton yang menelusup indera pendengarannya, membuat Jihan mengerjapkan mata. Meski berat untuk dibuka, karena kedua matanya sembab.


Jihan menegakkan punggungnya, menatap suaminya terlebih dahulu yang masih dalam posisi yang sama, ia menghela napas berat untuk mengurai sesak di dada. Barulah menoleh pada Rico.


"Tidurlah dulu. Sudah tengah malam. Pulihkan tenagamu," ujarnya pelan.


"Ric, tolong jangan kabari Leon atau Khansa. Aku takut mereka akan mengambil anakku jika tahu kondisi Tiger seperti ini. Kamu tahu sendiri, Khansa sangat mendambakan seorang anak. Dia juga pernah mengatakan, akan merawatnya ketika sudah lahir, karena ... aku sempat ingin bunuh diri dan hampir menggugurkannya," pinta Jihan memohon.


Cukup, Jihan ingin membatasi diri. Ia menyesal pernah bertindak bodoh. Keinginannya saat ini hanyalah keutuhan keluarga kecilnya. Ia yakin, bisa melewati semua ini. Kesedihan yang menderanya akan terganti dengan kebahagiaan yang tak tertira.


Bersambung~


Masih nangis? Enggak ya? 🙏🙈


Tenang aja, aku pecinta happy end. Semua novelku pasti happy end kok. Yah meskipun harus melewati amukan badai, terjangan tsunami, gempa bumi gonjang ganjing terlebih dahulu 🙈


Seperti perjalanan hidup dalam dunia nyata. Kita akan terus ditempa ujian, terkadang sampai dihancurkan mentalnya, ditempa masalah dari segala penjuru. Berbeda-beda tingkatnya, ada yang diuji keuangan, kesehatan, keturunan, pekerjaan. Untuk apa? Tentu saja untuk menjadikan dirimu lebih kuat dari sebelumnya dan lebih mendekatkan diri pada-Nya. Kamu orang-orang terpilih. Tetap berkhusnudzon pada Sang Pencipta.


Semangat ya, kamu, yang mungkin saat ini sedang berada di titik terendah atau sedang melewati fase-fase terberat dalam hidup. Itu tandanya Allah sayang sama kamu, supaya kamu lebih dekat dengan-Nya dan terus merayu-Nya. Pesanku, jangan pernah berharap pada manusia. 🥰

__ADS_1


__ADS_2