
Tiger menatap nanar punggung wanita itu. Sangat berbanding terbalik penampilannya dengan Jihan. Rambut pendek, celana casual panjang dan cardigan berlengan panjang. Namun, Tiger bisa merasakan getaran dalam dadanya.
"Te ... terima kasih," ucap Tiger terbata meraih air mineral tersebut.
Tiger berjalan sempoyongan, semakin dekat dengan perempuan itu, semakin kuat pula debaran jantungnya. Bahkan dadanya sampai terasa sesak juga kepala yang terasa semakin berat. Tapi dia menguatkan diri.
Tubuh kekar lelaki itu menjulang tinggi di belakang wanita tersebut. Matanya terpejam, menarik napas dalam saat aroma wangi yang sangat ia kenal kini menyeruak di hidungnya. Tiger terdiam tanpa kata dan tanpa gerakan apapun.
Hingga beberapa saat kemudian, wanita berambut pendek itu berbalik setelah menyelesaikan pembayaran dan menerima makanannya.
"BRUGH!"
Tidak tahu jika ada seseorang di belakangnya, dia menabrak dada bidang Tiger. Pria itu menunduk lalu dengan gerakan cepat, segera merengkuh wanita yang ternyata adalah istrinya.
Tidak ada kata yang terucap, hanya isak tangis haru, bahagia juga sesal yang bercampur aduk menjadi satu. Jihan terkejut, semua makanan yang ada di genggamannya terjatuh, kedua lengannya pun menggantung ke bawah.
__ADS_1
Napas Jihan memburu, tenggorokannya mulai sakit karena menahan tangisnya. Namun, gagal. Karena air matanya berhasil membobol pertahanannya, sangat deras mengalir di kedua pipinya. Jihan menumpahkan semua kesedihan dan kesakitan pada dada bidang yang selalu memberinya kenyamanan itu.
Dunia seolah berhenti, hanya ada mereka berdua yang tenggelam dalam pelukan kerinduan. Begitu erat, begitu kuat tanpa ingin melepaskan lagi.
"Jangan pergi lagi. Sungguh aku mau mati rasanya tanpamu," ucap Tiger di sela tangisnya. "Maafkan aku," lanjutnya menghujani ciuman dalam pada kening Jihan.
Wanita itu memejamkan mata, membiarkan bulir beningnya meluruh dengan sempurna dari sudut matanya. Merasakan hangatnya ciuman dari sang suami, yang mengalir hingga menggetarkan jiwanya.
"Kita pulang ya, Sayang?" ajak Tiger setelah melepaskan ciumannya. Menangkup kedua pipi Jihan.
Masih terdiam membisu, hanya pancaran penuh luka dari sorot manik Jihan. Pria itu berlutut di tengah jalan, di tengah keramaian, Jihan sungguh terkejut.
Kemudian Tiger mencium perut Jihan, beralih memeluk pinggang Jihan dan menempelkan telinganya di sana dengan mata terpejam, seolah melimpahkan kasih sayang pada calon penerusnya.
Jihan terhenyak, pertama kalinya Tiger mengakui keberadaan anaknya. Perlahan tangannya terangkat, menyentuh belakang kepala Tiger dan mengusapnya perlahan. Tangisnya tak terbendung, isakannya semakin keras.
__ADS_1
Dan pada akhirnya, Jihan pun mendekap kepala Tiger yang masih bersandar nyaman di perutnya. Mereka tidak sadar dengan orang-orang yang kini berdiri melingkar dan menonton sebuah drama pasangan tersebut. Bahkan beberapa di antaranya ikut menangis haru meskipun tidak mengerti jelas permasalahannya. Namun pertemuan mereka benar-benar menguras emosi dan membuat mereka menitikkan air mata haru.
"BRUGH!"
Tak lama setelahnya, Tiger terjatuh tergeletak di tanah. Kelelahan, emosi yang membuncah membuat psikisnya sangat terguncang. Ditambah sama sekali tidak ada asupan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya, benar-benar membuatnya drop.
"Tiger! Tiger bangun! Kamu kenapa?" teriak Jihan berjongkok dan memangku kepala Tiger.
Lelaki itu tidak sadarkan diri. Kedua matanya terpejam erat. Jihan panik dan ketakutan. Ia mengguncang tubuh pria itu sembari terus berteriak memanggil namanya. Ia terjingkat saat menyentuh pipi Tiger yang terasa sangat panas.
Sungguh, kehilangan belahan jiwanya membuat Tiger jungkir balik. Hancur berkeping-keping.
"Tolong! Siapapun tolong suamiku!" teriak Jihan menatap orang-orang di sekelilingnya dengan deraian air mata.
Seorang pria berpakaian rapi, kini berdiri di hadapan Jihan. Ia meminta bantuan orang-orang sekitar untuk mengangkat Tiger ke mobilnya. Jihan terkejut sampai membeku ketika melihat lelaki yang menolongnya itu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nangis nggak? Kalau iya aku ada temennya 😄