The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 133. WELCOME BACK


__ADS_3

Jarum jam terus berputar, waktu terus berjalan. Tidak ada yang sia-sia selama terus berusaha. Roda kehidupan selalu berputar, yang terkadang kita berada di atas, kadang berada di bawah. Semua harus dijalani. Ikhlas dan kerja keras akan membuahkan hasil yang maksimal.


Setiap dua minggu sekali, Jihan selalu datang menemani suaminya. Memberi support dan kekuatan, berharap berhasil melewati setiap tahap pengobatan yang dilalui.


Kabar tak mengenakan lagi-lagi menerjangnya. Usai operasi tulang belakang, Tiger harus menjalani cuci darah rutin untuk mengembalikan fungsi ginjalnya yang telah rusak akibat selama puluhan tahun ia selalu mengkonsumsi minuman keras dengan kadar alkohol tinggi.


Jihan terus menguatkan kedua kakinya agar tetap berpijak, berdiri tegak memberi kekuatan pada suami dan juga anaknya. Tidak mudah memang, tapi sekali lagi, ini adalah proses kehidupan yang harus dia lewati.


Enam bulan kemudian, Tiger baru bisa memulai pengobatan fisioterapinya. Tentu saja ini bukan hal yang mudah. Butuh waktu paling sedikit 6 bulan, tak menutup kemungkinan membutuhkan waktu yang lebih dari itu. Apalagi, kerusakan syarafnya memang terhitung sangat parah.


"Sayang, maaf." Tiger menggumam pelan ketika Jihan baru saja datang seperti biasanya.


"Kenapa minta maaf?" tanya Jihan membelai kepala suaminya.


"Aku sangat merepotkanmu, kamu pasti sangat lelah. Aku lelaki yang tidak berguna!" desah Tiger dengan suara bergetar.

__ADS_1


Jihan langsung mencium bibir Tiger dan melum*tnya, untuk menghentikan ucapan pria itu. Beberapa saat melepasnya, menatap lembut, "Jangan pernah bilang seperti itu lagi. Aku nggak mau denger. Yang mau aku lihat dan denger cuma semangatmu sembuh. Kamu pasti bisa! Demi aku, demi Cheryl! semangat Macanku!" tegas Jihan menatap serius.


Tiger memejamkan mata, rasa bersalah sekaligus haru menyeruak. Jihan bergerak memeluk suaminya, memberikan kekuatan untuk lelakinya itu. Sedangkan Tiger menarik napas dalam-dalam, menyerap semua ketulusan dan cinta dari wanita itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satu tahun kemudian, Tiger sudah bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Ia sudah bisa berdiri meski kedua kaki masih belum terlalu kuat menopang tubuhnya. Masih harus terapi untuk bisa berjalan.


Jihan masih sering berkunjung setiap dua minggu sekali. Namun kali ini ia meminta izin, karena harus mempersiapkan fashion show yang akan diselenggarakan butiknya. Acara yang diadakan untuk lebih memperkenalkan brand-brand hasil desainnya pada khalayak umum.


Sehingga, selama Tiger melakukan terapi berjalan, mereka hanya berkomunikasi melalui panggilan telepon atau video call saja.


Tinggal menunggu beberapa tes terakhir untuk memastikan kondisinya sudah benar-benar stabil. Dan menunggu keputusan dokter kapan dia boleh pulang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Degub jantung Tiger berdegub dengan sangat kuat, ketika kakinya menginjak kembali tanah Jakarta. Ia tengah menunggu kedatangan Bian untuk menjemputnya di Bandara setelah melalui perjalanan panjang di udara.


Tubuhnya menjulang tinggi menatap hamparan luas di area tunggu. Banyak sekali orang berlalu lalang, namun tak sedikit pun mengganggu pandangan kosong pria itu.


"Tuan! Selamat datang kembali. Senang sekali Anda sudah sembuh," sapa Bian di belakang Tiger, mengambil alih kopernya.


Tiger memutar tubuhnya, ia mengangguk sedikit membalas sapaan Bian. Tanpa berucap apa pun. Sengaja, ia tidak memberitahu kepulangannya pada Jihan karena ingin memberinya kejutan.


"Di mana Jihan sekarang?" tanya Tiger mulai melenggang pergi diikuti sang assisten.


"Di butik, Tuan. Masih sibuk mempersiapkan acaranya satu minggu lagi," balas Bian membukakan pintu mobil, mempersilahkan untuk masuk.


Tiger mendudukkan tubuhnya dengan nyaman. Bian memasukkan koper lalu beralih duduk di balik kemudi.


"Langsung saja ke butik!" titah Tiger yang sebenarnya dadanya bergemuruh karena hendak bertemu dengan istri tercintanya.

__ADS_1


"Baik, Tuan!" sahut Bian mulai melajukan mobilnya.


Bersambung~


__ADS_2