The Devil Husband

The Devil Husband
EXTRA PART 8


__ADS_3

"Ya ampun, Tiger!" pekik Jihan segera berlutut menyentuh lengan suaminya.


"Tuan!" seru Rico yang juga berniat membantu Tiger.


Tiger segera berdiri tanpa menoleh pada siapa pun diiringi sebuah deheman. Wajahnya memerah meski tanpa ekspresi, deru napasnya teramat kasar. Ia menepis tangan Rico yang membantunya berdiri, namun membiarkan tangan istrinya.


"Aku ... sakit perut. Buru-buru!" ungkapnya beralasan, menyelonong masuk dengan langkah tegapnya.


Semua mata masih tertuju pada Tiger, tampak berkerut kening kebingungan. Kemudian suara rekan Jihan membuyarkan keheningan ruangan tersebut.


"Siapa, Ji?" tanya Arisa, yang datang bersama kekasihnya.


Perempuan itu menoleh, "Dia suamiku," aku Jihan tersenyum sembari menggaruk kepalanya. Ia justru merasa malu atas insiden yang terjadi pada suaminya.


"Oh, harusnya sih kesempatan buat kenalan ya. Tapi sepertinya kondisinya sedang tidak baik. Kalau begitu sampaikan salam saja untuknya. Kami harus segera pergi. Semoga lekas sembuh," ucap Arisa mencium kedua pipi Jihan.


"Terima kasih Arisa," ucap Jihan. Ia juga menjabat tangan kekasih Arisa sebelum pasangan itu pamit.


Rico mengantar mereka ke depan, disusul oleh Lala yang tadi membantu menyambut tamu Jihan. Namun baru hendak melewati pintu, Lala berbalik.


"Nyonya, apa perlu saya carikan obat sakit perut untuk Tuan?" tawar perempuan muda itu.


"Nggak usah, Mbak. Nanti aja kalau perlu aku telepon ya. Makasih," sahut Jihan mengurai senyum.

__ADS_1


"Baik, Nyonya. Saya permisi ke kamar," pamit Lala mengangguk lalu melenggang pergi.


Saat menutup pintu, pandangan Jihan tak sengaja menangkap setangkai bunga mawar merah yang penyok. Kemungkinan tertindih tubuh kekar suaminya.


Jihan memungut bunga tersebut, kelopaknya berjatuhan dalam plastik yang membalut rapi bunga tersebut. Ia terdiam sejenak dengan memutar bola matanya, kemudian tersenyum sendiri.


Jihan mengetuk pintu kamar mandi, "Tiger, kamu baik-baik saja? butuh bantuan nggak?" tanya wanita itu pelan.


"Hmm! Aku baik-baik saja," balas Tiger.


Kening Jihan mengernyit, "Kok nggak keluar? Aku masuk ya," sahut wanita itu lagi.


Baru menyentuh handel pintu, Tiger sudah membukanya. Ia mengintip di belakang punggung istrinya, memastikan sudah tidak ada siapa pun selain mereka berdua.


"Sayang," panggil Jihan dengan suara manja. Matanya menatap mesra.


Tiger menaikkan sebelah alisnya, karena merasa ada yang aneh dengan istrinya itu. Jihan yang tadi menyembunyikan bunga rontok di balik punggung, kini menaikkannya ke hadapan Tiger.


"Ini, untukku?" tanya Jihan masih tersenyum.


"DEG!"


Mendadak tubuh pria itu menjadi kaku. Tenggorokannya pun tiba-tiba mengering. Tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Apalagi, kini bunga itu sudah hancur berantakan.

__ADS_1


Jihan langsung menghambur ke pelukan suaminya, "Aaa ... demi apa aku dikasih bunga sama Papa Macan!" pekiknya menguatkan pelukannya.


"Eee ... tapi, bunganya rusak," balas Tiger dengan suara pelan.


"Nggak apa-apa banget. Aku tetep bakal simpen. Karena ini adalah bunga pertama yang kamu kasih ke aku. Nggak kebayang deh gimana cara kamu belinya tadi." Jihan terkekeh ketika membayangkan suaminya yang kaku tiba-tiba membawakannya setangkai bunga. "Makasih," ucapnya menghargai usaha sang suami.


Jihan mendongak, lengannya beralih melingkar di leher kokoh suaminya. Lalu berjinjit dan mencium bibir sang suami. Tiger pun tak mau menyiakannya begitu saja.


Pria itu menahan tengkuk Jihan, untuk memperdalam ciumannya. Bahkan kini kakinya melangkah mengarah pada ranjang, memaksa Jihan berjalan mundur tanpa melepas tautan bibir mereka.


Tangannya beralih mengusap punggung Jihan sembari membuka reslitingnya. Langkah kaki mereka terhenti ketika membentur tepian ranjang.


Tiger menindihnya, melepas pagutannya dan keduanya saling menatap dalam. Debaran jantung keduanya pun saling berkejaran. Napas yang berembus sudah mulai memanas, seiring dengan gejolak yang membuncah.


"Sayang, maaf jika selama lima tahun ini aku lebih banyak memberimu luka. Sejak pertemuan pertama kita, aku yang dengan brengseknya memaksamu untuk melayani kebejatanku." Tiger mengelus lembut pipi istrinya dengan punggung tangannya. Jihan tersenyum getir meski matanya berkaca-kaca.


"Bahkan setelah pernikahan, aku selalu berlaku buruk padamu. Meragukan anak kita, meninggalkanmu selama bertahun-tahun, mengumpatmu dengan kata-kata tak pantas. Bahkan terakhir, enam bulan yang lalu. Pasti sangat menyakitkan ya?" Suara Tiger terdengar bergelombang. "Maaf!" lanjutnya menangis, menyatukan kening mereka.


Jihan menarik napas dalam-dalam. Menguraikan sesak di dada mengingat masa-masa kelam itu. Lalu menahan tengkuk Tiger dan memagutnya dengan intens.


Bersambung~


selanjutnya 🙈🙈

__ADS_1


__ADS_2