The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 47. MENJAGA TANPA MENYENTUHNYA


__ADS_3

Satu tangan pria itu terulur di hadapan Jihan. Masih terlihat jelas wajah Jihan sembab dipenuhi air mata. Cairan bening dari hidungnya pun meleleh dan diseka kasar dengan punggung tangannya. Namun sama sekali tak memudarkan kecantikannya.


"Mau sampai menangis darah sekalipun, kamu tidak akan bisa membuat ibumu bangun lagi. Teruslah hidup dan menjadi berguna bagi orang-orang di sekelilingmu!" cetus pria itu masih menggantungkan telapak tangan lebarnya di udara.


Jihan menghela napas panjang, perlahan ia menyambut uluran tangan itu dan berusaha bangun dengan kondisi yang lemas. Matanya kembali mengembun menatap batu nisan ibunya.


"Sudah dua jam kamu di sini. Tubuhmu butuh istirahat. Kasihan bayi dalam perutmu!" kata pria itu lagi seketika membuat Jihan tersadar.


Dengan gemetar, tangannya menyentuh perut dan mengusapnya perlahan. Dadanya kembali sesak, karena ibunya belum sempat melihat cucunya.


"Ric, aku nggak pengen pulang," rengek Jihan dengan suara seraknya.


"Lalu mau ke mana?" desah Rico masih setia berdiri di sebelah Jihan dalam keadaan basah kuyup.


"Nggak tahu!" jawabnya menggeleng pelan sembari menunduk.

__ADS_1


Rico mengembuskan napas berat. Ia melirik ke samping, menemukan pria tampan berbalut pakaian mahal berwarna serba hitam. Pria itu mengangguk sembari mengibaskan tangannya, seolah memberi kode.


"Mandi dulu lah. Aku malu kalau jalan-jalan seperti gembel kaya gini!" sahut Rico menatap Jihan dari ujung kepala hingga kakinya.


Pandangan Jihan pun kini memindai tubuhnya yang lusuh dan basah. Ia mengangguk, "Pulang ke rumah ayah saja," gumamnya pelan yang segera diangguki oleh Rico.


Jihan melangkah lebih dulu, diikuti Rico di belakangnya masih setia melindungi Jihan dari hujaman air hujan, lalu membukakan pintu dan mempersilahkan Jihan masuk.


"Tunggu sebentar. Aku harus mengembalikan payung ini! Jangan ke mana-mana!" ujar Rico menutup pintu setelah mendapat sebuah anggukan dari Jihan.


Pengawal itu melangkah tegap sedikit menjauh dari mobil menghampiri pria yang sedari tadi mengawasinya dari kejauhan. Rico membungkuk sedikit ketika berdiri di hadapan pria itu di balik sebuah pohon beringin yang sangat besar.


Sengaja ia meminta Rico membujuk Jihan, karena tahu saat ini hati dan pikiran wanita itu sedang kalut. Kehadirannya justru memperburuk suasana hatinya. Menurutnya, orang yang marah, tidak akan bisa berpikir jernih dan tidak mau mendengar penjelasan apa pun. Tiger ingin tetap menjaga wanita itu, meski tidak berada di sampingnya. Menjaga, tanpa menyentuhnya.


"Turuti saja apapun inginnya. Jangan biarkan dia sendirian. Aku takut dia akan nekat. Aku sudah berpesan pada para pelayan agar terus mengawasinya selama di rumah," papar Tiger dengan tegas.

__ADS_1


"Baik, Tuan!" sahut Rico patuh.


"Katakan padaku jika keadaannya sudah membaik. Aku akan datang menjemputnya," gumam Tiger menoleh ke arah mobil meski terhalang ranting besar.


"Baik, Tuan!" Hanya itu yang keluar dari bibir Rico.


Tanpa berucap lagi, Tiger melangkah pergi bersama sekelumit rasa kecewa. Wajahnya dingin tanpa ekspresi. Rico pun segera berbalik dan kembali ke mobilnya.


Ia segera duduk di balik kemudi, menyalakan mesin mobil dan menjalankannya. Matanya melirik Jihan yang menyandarkan kepala pada sandaran kursi, membuang pandangannya ke luar.


'Biasanya bawel, sekarang pendiem. Aneh rasanya!' gumam Rico pandangannya fokus ke depan.


Dering ponsel yang menggema mengejutkan Rico dari lamunan. Satu tangannya meraih alat komunikasi itu dari saku jasnya. Tertera nama 'Big Boss' dari layar benda pipih itu.


Rico menelan saliva sembari melirik pada Jihan yang masih menatap kosong keluar jendela. Ia bingung bagaimana menerima panggilan itu.

__ADS_1


Bersambung~


Terima kasih banyak supportnya, Bestie 😘 like dan komen kalian bikin semangat!! Lope you sekebon 🌶


__ADS_2