
Tepat pukul 10 malam waktu setempat, mobil yang ditumpangi Tiger berhenti di depan gedung berlantai 3. Terlihat berkelas dan cukup mewah. Sudah ada beberapa banner dan karangan bunga sebagai ucapan selamat atas pagelaran fashion show kelas atas satu minggu lagi.
Dari sepasang manik abu Tiger juga menangkap pergerakan banyaknya karyawan dan team tengah wara wiri mempersiapkan tempat.
Setelah menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan, Tiger keluar dari mobil. Berdiri gagah dengan tatapan lurus ke depan.
"Sudah selarut ini, Jihan belum pulang juga?" tanya Tiger ketika Bian sudah berdiri di sebelahnya.
"Belum, Tuan. Sudah hampir satu bulan Nyonya pulang larut. Ini acara pertamanya, untuk memperkenalkan karya sekaligus memperluas jangkauan costumer terutama di kalangan atas," lapor Bian merasa was-was.
Tiger terdiam, dalam benaknya merasa tidak tega ketika harus melihat istrinya pontang-panting sendirian. Kini ia mulai melangkah masuk ke gedung itu.
Pandangannya menyebar, dari lantai pertama sudah berdiri patung-patung dengan balutan gaun yang indah. Masih ada beberapa karyawan yang melakukan finishing pada baju-baju tersebut.
"Di mana Jihan?" Tiger bergumam masih mengedarkan matanya.
__ADS_1
Bian menunjukkan jalan menuju ruangan Jihan yang ada di lantai tiga. Namun ternyata, ia tidak sendiri, melainkan bersama seluruh staff dan manajemen. Tengah mengadakan meeting terakhir sebelum acara digelar.
Bian mengetuk pintu lalu membukanya meskipun tidak ada sahutan dari dalam. Sontak, semua mata tertuju pada dua pria gagah di ambang pintu.
Jihan melebarkan kedua matanya, dokumen di tangannya sampai terlepas. Seolah tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. Jantungnya bertalu kuat ketika manik indahnya saling menatap lekat dengan mata suaminya.
"Ti ... Tiger," gumam Jihan dengan bibir bergetar.
Saking terkejut sekaligus bahagianya, kedua kakinya sampai melemas, tak mampu beranjak. Hanya air matanya yang menyeruak, pandangannya memburam.
Namun, pandangan Tiger berubah tajam bagai tombak api ketika menoleh pada seorang pria yang berada tepat di samping Jihan. Tubuhnya menegang, hingga urat-uratnya muncul. Gemuruh di dadanya sudah meledak-ledak di dalam sana.
Zero segera beranjak berdiri menghampiri pria itu. Keduanya saling berhadapan dengan tatapan yang berbeda. Tiger menatapnya penuh amarah, sedangkan Zero penuh sesal dan rasa bersalah.
Namun Tiger tidak dapat melihatnya. Kabut emosi sudah mulai meliputi sekujur tubuhnya, kepalan di tangannya semakin kuat. Lalu mengayunkannya hingga mendarat tepat di pipi Zero.
__ADS_1
"Aah! Tiger!" teriak Jihan segera berlari menghampiri.
Orang-orang yang berada di ruangan itu pun beranjak kaget. Mereka saling melempar pertanyaan yang tidak ada satu pun dari mereka mengetahui jawabannya.
"Zero, kamu nggak apa-apa?" Jihan berjongkok membantu Zero berdiri.
Hal itu semakin membakar habis hati Tiger. Ia meraih kedua kerah kemeja Zero, Jihan terjengkang. Lalu Tiger memukuli wajah Zero membabi buta. "Brengsek! Bajingan kamu!" umpatnya menendang perut dengan lututnya.
Amarahnya tak terbendung lagi. Semua kejadian yang menimpanya akibat ulah Zero. Dan sekarang, dia menemukan istrinya bersama musuh bebuyutannya. "Harusnya aku membunuhmu waktu itu. Harusnya aku tidak membiarkanmu hidup!" berangnya tak memberi jeda. Memukul telak wajah Zero hingga babak belur.
"Tiger cukup!" teriak Jihan menangis histeris.
Mendengar suara Jihan, Tiger menoleh, matanya memicing begitu tajam. "Kamu mau membela bajingan ini, hah?!" geramnya mencekik Zero.
"Cukup Tiger aku bisa jelasin semuanya. Ini salah paham!" seru Jihan menyentuh lengan Tiger yang terasa begitu keras.
__ADS_1
Bersambung~