The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 82. ANTARA BODOH DAN POLOS


__ADS_3

Melihat aura keseriusan dari wajah Rico, Jihan menegakkan duduknya. Dia tidak bisa meragukan kemampuan Rico. "Ehm! Jadi, sebelumnya aku nggak kenal sama dia."


"Apa?! Jihan! Kau gila ya! Bagaimana kalau dia bukan orang baik, hah?" pekik Rico memotong penjelasan Jihan.


Sayang sekali Rico tidak bisa menahan diri. Sehingga menyemburkan amarah karena kecerobohan Jihan. Dia tidak bisa membayangkan seandainya waktu itu tidak bisa menemukannya. Rico adalah orang yang penuh komitmen. Melakukan tanggung jawab tidak setengah-setengah melainkan sepenuh hati.


Mata Jihan berkaca-kaca saat tiba-tiba mendengar teriakan Rico. Ia sempat terlonjak. "Kenapa? Kamu mau bilang aku bodoh?" gumam Jihan, suaranya mulai bergelombang.


"Kamu nggak tahu apa yang aku rasakan? Aku seperti burung dalam sangkar yang harus menuruti semua ucapan para orang-orang berkuasa. Aku ingin hidup bebas, lepas, tanpa beban. Apa pun resikonya akan aku hadapi sendiri. Tapi takdir tidak membiarkanku. Lagi-lagi harus berkaitan dengan kalian." Jihan menyeka air matanya.


Rico sadar telah salah berucap. Jika dalam keadaan tertekan, dia yakin Jihan tidak akan mengatakan semuanya. Kali ini Rico menghela napas panjang. "Maaf, aku hanya khawatir. Tidak bermaksud merendahkanmu, Jihan," ucap Rico menurunkan nada suaranya.


"Aku sudah terbiasa. Tenang saja." Wanita itu beranjak berdiri. Meraih berkas dalam sebuah stop map yang rapi dan menyerahkannya pada Rico.


"Itu adalah surat kerja sama. Aku salah. Kebetulan saat itu mereka sedang menunggu seseorang. Aku mengaku sebagai wanita itu."


Rico mulai mengeluarkan lembaran kertas itu. Ia membaca dengan teliti kata demi kata. Telinganya masih mendengar pengakuan Jihan.

__ADS_1


"Bima, yang sering ke sini itu asistennya. Dia memperlakukanku dengan baik. Setelah bertemu dengan bossnya, dia langsung tahu bahwa aku berbohong. Lalu aku mengatakan yang sejujurnya, keadaan, kondisi dan status. Aku kira dia akan memberiku hukuman. Ternyata tidak, katanya tertarik padaku dan menawarkan kerja sama yang harus aku kerjakan setelah melahirkan nanti," papar Jihan tanpa ada yang ditutupi.


Lembaran demi lembaran perlahan dibaca habis oleh Rico. Ia memeriksanya dengan teliti. Tidak ingin terlewatkan satu huruf pun. Lalu tiba-tiba menghempaskannya dengan kasar di atas meja. Jihan terkesiap sampai memejamkan mata.


"Enam bulan harus menjadi model iklan tanpa gaji? Ini keterlaluan, Jihan! Enam bulan itu bukan waktu yang sebentar!" Rico menyugar rambutnya ke belakang. Bahkan sampai menjambaknya dengan kuat saking gemasnya dengan wanita itu. "Ya Tuhan! Udah dikasih enak kamu malah nyari hidup yang susah! Heran! Antara bodoh dan polos!" celetuknya menggelengkan kepala.


"Daripada aku dipenjara? Kasihan nanti anakku," cetus Jihan.


"Lalu bagaimana dengan Tuan Tiger?" sanggah Rico menatapnya serius.


"Bukankah kamu sudah bertemu Tuan Tiger saat menandatangani nya?" seru Rico memicingkan mata.


"Ya, tapi sebelumnya sudah berucap janji waktu pertemuan dengan bossnya! Lagipula, ini impianku sejak dulu. Aku bahkan sering ikut kelas model diam-diam waktu sekolah dulu. Sayangnya, nggak didukung oleh ibu. Jadi harus berhenti begitu aja," sahut Jihan santai.


Untuk saat ini Jihan memang tidak ingin terlalu banyak berpikir berat. Karena hanya ingin fokus pada pertumbuhan bayi dalam kandungannya. Masalah yang akan ia hadapi kelak, akan dipikirkan nanti jika sudah tiba waktunya. Termasuk, kemarahan dari sang suami.


"Anggep aja sebagai latihan gratis," lanjut perempuan itu.

__ADS_1


Setidaknya untuk saat ini, dia ingin menikmati masa-masa kehamilan tanpa stress dan beban pikiran berat.


"Selain itu apa lagi?" selidik Rico masih membaca ada yang disembunyikan oleh Jihan.


"Oh ya! Waktu itu aku mengaku semua kartu identitasku hilang. Lalu, mereka meminta aku mengirimkan identitas, tanda tangan digital dan foto? Bahkan aku mendengar untuk dibawa ke catatan sipil," jelas Jihan dengan ragu.


"Apa?! Dan kau memberikannya?" tanya Rico sedikit panik.


Jihan menggeleng, "Sampai sekarang belum! Kira-kira buat apa ya?"


"Jangan dulu. Kemungkinannya cuma dua. Pertama, dia mendaftarkan kamu sebagai pengantinnya. Kedua, dia ingin menelusuri identitas aslimu, termasuk siapa suami kamu!" papar Rico menatapnya serius.


Rico kembali membuka berkas di hadapannya. Memotret lembar pertama, untuk mencari tahu pria yang telah mengikat kontrak Jihan tanpa gaji.


"Zero Anderson?" Rico bergumam sembari mengernyitkan dahinya.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2