The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 118. PANTANG MENYERAH


__ADS_3

Bian pun tampak berpikir sejenak, lalu kedua bawahan Tiger itu saling pandang beberapa detik dilanjutkan saling menepuk bahu mereka. Seolah satu pemikiran dan satu hati.


"Nah! Buruan! Aku harus segera mengurus penerbangan Tuan ke Palembang. Kalau nyonya sudah ketemu langsung antar saja ke markas," titah Bian bersuara.


"Ok!"


Detik itu juga, mereka bergerak cepat saling berbagi tugas. Rico beranjak menuju Perusahaan Anderson. Sedangkan Bian mengurus perpindahan perawatan medis ke Kota Palembang, karena sudah mendapat izin dari Milano.


Mobil yang dikendarai Rico, berhenti di pelataran gedung pencakar langit Anderson Group. Ia menatap lekat tingginya gedung itu.


Pria itu turun dan segera masuk menuju lantai teratas gedung tersebut. Bersamaan dengan lalu lalang karyawan lain, sehingga tidak ada yang menatapnya curiga.


"Tuan Anderson ada di ruangan?" tanya Rico di depan meja sekretaris.


"Tuan sedang ...."


Belum sempat membalas, sudah terdengar suara pintu terbuka. Seketika menarik perhatian Rico, manik matanya langsung bertabrakan dengan mata elang Zero.


Terdiam selama beberapa saat dan hanya saling menautkan pandangan, Rico berjalan pelan mengikis jarak di antara mereka sembari memasukkan tangannya ke dalam saku celana.


"Tuan Anderson!" sapanya tanpa memalingkan wajah dengan ekspresi dingin.


Zero menautkan kedua alisnya. Ia kembali duduk di kursi kerjanya ketika wajah Rico tidak asing di matanya.


Rico menghela napas panjang, menopang kedua lengannya pada tepian meja dengan mata menyorot tajam pria di hadapannya. "Saya tidak mau basa basi. Katakan di mana Anda menyembunyikan istri Tuan Tiger?" tanya nya penuh penekanan.

__ADS_1


Pria itu bergeming, meski dalam hati tersentak kaget. Raut wajahnya berusaha untuk tetap tenang, menutupi kegugupannya. Manik matanya saling bertaut menantang tatapan Rico.


"Apa maksud kamu?" balasnya tak kalah dingin.


"Tidak usah berpura-pura, Tuan Anderson!" tekan Rico menyipitkan mata.


"Apa buktinya kalau saya menyembunyikannya?" tantang Zero menyandarkan punggung pada kursi kebesarannya.


Rico mendaratkan bokongnya pada kursi, "Tidak ada! Tapi selama ini feelingku tidak pernah meleset. Sejak awal kamu juga menginginkannya bukan? Kontrak kerja sama kalian tidak sah. Karena yang tertera bukan nama asli Jihan sesuai dengan identitasnya!" terang pria itu dengan tegas.


Zero menarik laci mejanya, menunjukkan sebuah berkas yang ternyata surat kontraknya bersama Jihan. "Maksud kamu ini?" ujarnya. Tak berapa lama, Zero justru merobek-robek berkas itu lalu menghamburkannya ke udara.


Pria itu berdiri dengan tatapan tak bersahabat. "Aku sama sekali tidak membutuhkannya!" tegasnya. "Sudah jelas? Sekarang pergilah. Aku masih banyak urusan!" ucapnya kembali duduk, lalu menghubungi office boy untuk membersihkan ruangannya.


"Oke! Aku akan segera membawa buktinya! Jika sampai itu terjadi, jangan kaget kalau aku menggila di ranahmu!" Rico beranjak berdiri dengan kesal. Apalagi melihat raut wajah Zero yang terkesan santai saja sembari mengedikkan kedua bahunya.


Dengan segenap kecewa dan kesal, Rico keluar melangkah panjang lalu membanting pintu begitu keras. Zero mengembuskan napas lega setelah kepergian Rico. Setidaknya, tidak ada yang curiga dengannya. Sungguh pria itu benar-benar sangat rapi mengerjakan semua.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seoul, Korea Selatan.


"Sayang, gimana? Jihan sudah ditemukan? Gimana dengan bayinya?" rengek Khansa dengan penuh kekhawatiran.


Bagaimana tidak, wanita itu sudah begitu menyayanginya sejak masih beruba segumpal darah. Bahkan ketika kedua orang tua kandungnya tidak peduli, Khansa sangat memperhatikannya. Dan dia sangat frustasi ketika mendengar kabar Jihan menghilang bersama bayinya.

__ADS_1


"Tenanglah, Sayang. Aku sudah menyebar orang-orangku di Palembang dan Jakarta. Siapa tahu, dia pulang ke kota asalnya. Dia pasti segera ditemukan," ucap Leon memeluk istrinya yang terus kepikiran. Bahkan kuliahnya menjadi terganggu karena memikirkannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dua bulan berlalu begitu cepat. Kebahagiaan menyelimuti hati Jihan, karena ini pertama kalinya Baby Cheryl berhasil menegakkan kepalanya sendiri tanpa harus ditahan lagi.


"Cheryl!" seru Jihan tertawa membuat bayi cantik itu balas tertawa kegirangan dalam pangkuan Bi Inem, yang menemaninya menggambar di ruang tengah.


Support system wanita yang mulai memaksakan diri untuk mandiri. Kebahagiaan tersendiri melihat keceriaan bayi yang begitu menggemaskan. Sehingga, ia pun berjuang mati-matian demi terus membahagiaan kesayangannya.


Beberapa gambar yang sudah resmi terdaftar hak cipta, segera ia kirimkan CV pada beberapa butik yang masih terjangkau di lingkungannya. Namun, seringkali harus menelan kecewa, karena desainnya ditolak tanpa ada proses wawancara untuk menjelaskan detail setiap gambarnya.


Seperti sore ini, Jihan mengembuskan napas berat untuk mengurai kekesalan di dadanya. Karena lagi-lagi menerima email penolakan dari salah satu butik.


"Ditolak lagi!" desahnya kesal.


"Sabar ya, Neng," ucap Bi Inem.


Jihan menoleh dengan senyum getir, beralih meraih putrinya, meluapkan kekecewaannya dengan bermain bersama Cheryl. Ia mengayunkan bayi itu ke atas lalu menggerakkan ujung hidungnya pada perut Cheryl.


Sehingga bayi cantik itu tertawa cekikikan. Cukup mampu mengurai kesedihannya. Dan kembali membangkitkan semangatnya agar tidak pernah menyerah.


"Demi Cheryl, aku nggak akan nyerah, Bi!" seru Jihan memeluk erat putrinya.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2