
Enam bulan kemudian, Jihan selalu ceria ketika bermain dengan Cheryl. Meski waktu mereka terbatas, namun Jihan selalu menyisakan waktunya untuk tumbuh kembang putrinya.
Namun ketika sedang sendiri, tak jarang ia menangis sembari menuangkan imajinasinya dalam bentuk desain gaun yang indah.
Selama itu pula, Tiger kelimpungan. Segala cara ia lakukan untuk meluluhkan hati Jihan. Namun hati Jihan seolah membeku. Tiger frustasi, ia juga tidak bisa menemui Cheryl bagaimana pun caranya.
Mereka mendapat undangan dari Leon untuk menghadiri peresmian Rumah Sakit Sebastian di Palembang. Rumah sakit yang dibangun oleh Leon untuk istrinya yang sudah resmi menjadi seorang dokter.
Bukan hanya pengobatan tradisional saja yang ia kuasai, kini gelar dokter secara resmi sudah berhasil diraih oleh Khansa setelah menempuh pendidikan di luar negeri.
"Cheryl, udah siap belum?" teriak Jihan di ruang tengah.
"Ma! Dijemput om papa sama aunty mama nggak?" tanya Cheryl berlari mendekat.
"Enggak, Sayang. Kita naik pesawat bisnis. Buruan nanti terlambat!" ucapnya merapikan kepang dua anak gadisnya.
Cheryl mencebikkan bibirnya. Ia sangat merindukan om dan tantenya itu. Jihan tersenyum menangkup kedua pipi Cheryl yang menggembung. "Nanti kita ketemu di sana, Sayang. Mereka sibuk, mau ada acara besar! Yuk!" ajak Jihan lembut menarik lengannya.
Sebelum acara dimulai, Jihan menginap di hotel untuk beristirahat sebentar. Tepat pukul 8 malam, dia bergegas ke acara tersebut. Ternyata semua keluarga besar sudah berkumpul.
Ketika acara dimulai, Jihan yang awalnya berkumpul dengan keluarga besar itu, terkejut mendengar suara yang tidak asing di telinganya menggema melalui mic.
Matanya segera mencari keberadaan suara itu. Wajahnya tampak frustasi, meminta maaf dengan tulus kepada Leon atas semua kesalahannya di masa lalu. Juga merasa putus asa.
Jihan berusaha agar tidak menangis. Ia mengalihkan perhatian. Ketika Tiger, Milano dan Leon yang sudah lama bersiteru kini sudah berdamai. Keluarga itu kembali berkumpul setelah sekian lama terpecah belah.
"Mama, aku ngantuk!" Cheryl menarik-narik gaun Jihan.
"Pulang dulu sama mbak ya, Sayang. Besok baru ketemu om papa dan aunty mama. Tuh mereka masih sibuk," tunjuk Jihan.
"Masih mau di sini. Tapi ngantuk!" ucap Cheryl mengucek matanya.
"Yaudah yuk!"
Jihan mengajaknya duduk di tempat yang sepi. Menatap indahnya gemerlap malam, memeluk tubuh kecil itu dalam pangkuannya, mengusap lembut kepalanya, sampai Cheryl tertidur.
"Mbak, tolong!" pinta Jihan. Kini Cheryl beralih di pangkuan Mbak Lala. Sedangkan Jihan kembali ke tengah acara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Selamat ya, Sa!" ucap Jihan mencium kedua pipi Khansa.
"Makasih ya, Ji. Cheryl mana?" tanya Khansa celingukan.
"Tidur, capek mungkin. Dari tadi nanyain kalian terus." Jihan meraih sebuah gelas dan meminumnya sedikit.
__ADS_1
"Ah yaampun, kangen banget sama si gemoy itu. Oh ya, bagaimana kamu sama Tiger?"
Jihan terdiam. Selama enam bulan ini, dia berusaha menata hatinya yang hancur. Membangun kembali perasaan yang porak poranda.
"Pikirkan juga Cheryl, aku nggak mau mentalnya terganggu. Yang kamu lihat memang baik-baik saja. Tapi, sebenarnya tidak." Khansa yang memang seorang dokter spesialis psikiater itu, mencoba memberi pencerahan. Ia sempat bertemu dengan Cheryl saat wisuda, dari sana lah dia tahu seberapa beratnya Cheryl tanpa ayah.
"Dia juga butuh seorang ayah. Aku tahu kasih sayangmu memang luar biasa. Tapi tetap tidak bisa mengcover figur ayah yang selama ini belum pernah ia dapatkan. Sebentar lagi dia sekolah, apa kamu nggak kasihan jika nanti dia iri dengan teman-temannya yang punya orang tua lengkap? Dia juga akan menjadi minder dan tidak percaya diri."
Jihan masih terdiam, pandangannya lurus ke depan. Sesekali berkedip lembut memikirkan apa yang diucapkan saudaranya itu.
Khansa menggenggam lengan Jihan, "Aku yakin, kamu pasti bisa membuat keputusan terbaik demi Cheryl, kesampingkan egomu. Kamu lihat bagaimana Leon memaafkan Tiger? Yang bahkan dia pernah menghancurkan segalanya milik Leon." Khansa melepasnya dan menatap ke wajah Jihan.
"Aku harap, kamu juga bisa melakukannya. Tidak ada orang yang sempurna. Apalagi memang watak Tiger keras, tempramen, kamu yang harus menjadi peredam semua amarahnya. Bukan malah menghindar yang justru semakin memperburuk tempramennya. Begitulah kinerja pasangan, saling melengkapi. Tidak ada salahnya memberi kesempatan," lanjut Khansa menepuk bahu Jihan lalu melenggang pergi karena Leon sudah memanggilnya.
Jihan meremas gelas dalam genggamannya. Ya, dia membenarkan semua ucapan Khansa. Setelah beberapa lama berdiam diri, Jihan menarik napas panjang dan membuangnya kasar.
Pandangannya mengedar. Tubuhnya terpaku saat melihat Tiger duduk di kursi sendirian. Yang membuatnya terhenyak adalah, sudah ada beberapa botol minuman di hadapannya. Dan bahkan Tiger masih terus menenggak minuman beralkohol itu.
Jihan melangkahkan kaki jenjangnya dengan cepat. Merebut gelas yang hampir menyentuh bibir Tiger dan membuangnya. Matanya menajam menatap pria itu.
"Kau ingin bunuh diri?" ketus Jihan.
Tiger membeku, hatinya menghangat ketika melihat Jihan yang mulai memperhatikannya. Bahkan menegurnya setelah 6 bulan lamanya. Meskipun dengan suara ketus seperti itu.
"Sudah tidak ada lagi yang membuatku hidup. Jiwaku sudah mati sejak anak dan istriku menjauh!" Kedua matanya yang memerah, kini menatap Jihan dengan lekat.
"Segitu saja usahamu? Kamu ingin menyerah begitu saja? Hei, Tuan Tiger! Usahamu belum ada apa-apanya dan kau sudah menyerah?!" geramnya mengepalkan kedua tangannya.
Tiger mengerutkan keningnya. Dadanya berdegub menunggu kalimat Jihan selanjutnya. Memang, jika dibandingkan usaha Jihan selama bertahun-tahun, ini masih belum seberapa.
Jihan membalikkan tubuhnya, "Aku rasa kamu tidak pantas mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki semuanya," ucap Jihan melangkah maju.
Dengan cepat Tiger beranjak berdiri, memperpanjang langkah kakinya dan menangkap lengan Jihan. Menariknya ke dalam dekapannya, memeluknya sangat erat sekali.
"Pergi sana! Aku nggak butuh orang yang mudah menyerah. Aku saja bisa bertahun-tahun memperjuangkan kamu, memperjuangkan cinta kita. Tapi kamu dengan mudahnya menyerah seperti ini. Pergilah yang jauh!" teriak Jihan dengan isak tangisnya.
Tiger tersenyum samar. Ia mengeratkan pelukannya, ini pertanda jika Jihan akan memberinya kesempatan. Tiger tentu tidak akan menyia-nyiakannya. Marahnya seorang wanita, apa yang diucapkannya biasanya berbanding terbalik dengan apa yang diinginkannya.
"Sayang! Aku mencintamu. Aku mau mati rasanya hidup tanpamu. Maaf, Sayang. Aku sungguh tersiksa tanpamu, tanpa Cheryl. Aku janji, ke depannya akan lebih mempercayaimu. Jangan minta aku untuk pergi lagi!" papar Tiger dengan suaranya yang bergetar. Air matanya berjatuhan mengenai puncak kepala Jihan.
Mereka terdiam beberapa saat, hanya isak tangis yang saling bersahutan. Hingga beberapa waktu berlalu. Kedua tangan Jihan terangkat dan melingkar erat pada punggung kokoh pria itu. Menyandarkan kepalanya pada dada bidang Tiger.
"Aku juga mencintaimu Tiger, hanya kamu. Tapi kata-katamu sangat menyakitiku! Sakit, Tiger! Kamu tidak melihat bagaimana aku menguatkan kaki ketika kamu rapuh? Kamu tidak merasakan bagaimana aku berdiri sendiri untukmu dan juga Cheryl. Kamu seperti menghempaskan aku dari langit hingga ke perut bumi!" Jihan mengeluarkan semua isi hatinya.
"Iya, aku salah." Tiger berlutut dan hampir bersujud di kaki Jihan. Namun dengan cepat Jihan ikut berlutut, menahan kedua bahu Tiger lalu memeluk lehernya.
__ADS_1
"Jangan ulangi lagi. Aku nggak akan kuat!" ucap Jihan menangis tersedu-sedu.
"Iya, Sayang! Ingatkan aku jika aku salah. Tegur aku dengan keras jika aku melakukannya lagi. Kalau perlu pukul aku! Asalkan jangan pernah pergi meninggalkanku lagi." Tiger pun menangis terisak. Seperti bukan Tiger. Jiwanya luluh lantak karena kehilangan separuh napasnya.
Dua orang itu saling berpelukan erat, larut dalam tangis kerinduan dan penyesalan. Meluapkan rasa cinta yang terus ditempa ujian tanpa jeda. Hingga menciptakan ikatan yang semakin kuat dan tak tergoyahkan.
"Jangan bentak aku jika aku salah, tegurlah secara baik-baik. Jangan datang padaku disaat kamu marah, datanglah setelah kamu bisa tenang. Karena kemarahan itu bisa menghancurkan hubungan kita. Aku sudah banyak belajar dari semua kesalahanku dulu, kamu pun juga harus seperti itu," ucap Jihan lirih di telinga Tiger.
Pria itu mengangguk. "Aku janji!" ujarnya menciumi puncak kepala Jihan bertubi-tubi. Meregangkan pelukannya dan menyatukan kening mereka. Jemari mereka saling menyeka air mata pasangannya. Lalu saling tertawa dan hendak menyatukan bibir mereka.
Namun sebuah suara membuyarkannya. "Mama!" Cheryl terbangun dan mencari keberadaan sang mama. Sehingga pengasuhnya berkeliling membantu mencarinya. Namun ternyata Cheryl yang menemukan lebih dulu karena posisi mereka yang berlutut.
Sontak Tiger dan Jihan menatap ke arahnya, menjauhkan tubuh mereka dan segera beranjak memeluk tubuh Cheryl di kedua sisi tubuh kecilnya.
"Cheryl, mulai sekarang kamu dan mama akan tinggal bersama papa ya," ajak Tiger antusias.
Cheryl menoleh pada Jihan yang kini menangguk dengan senyuman lembut. Gadis kecil itu selalu percaya penuh dengan keputusan ibunya. Cheryl beralih lagi pada Tiger. "Nggak mau. Papa jahat. Suka bikin mama nangis!" tolak Cheryl berkacak pinggang.
Tiger menjewer kedua telinganya sendiri. "Maaf, Sayang. Papa janji nggak akan membuat mama nangis lagi. Papa akan membuat kamu dan mama tertawa terus!" ucap Tiger menggelitiki tubuh Cheryl hingga tertawa terbahak-bahak.
"Ahahaha! Ampun, Pa! Ampun! Geli!" teriak Cheryl berusaha menghindar namun tidak bisa.
Tiger menerbangkan tubuh Cheryl, mengayunkannya di udara hingga tawanya memekik di malam yang semakin larut itu.
Lalu ia memeluk anak gadisnya, menciumi seluruh wajah Cheryl dengan gemas, dan memeluknya lagi. "Papa sayang banget sama Cheryl!"
"Cheryl juga sayang papa. Cheryl kangen sama papa!" balasnya berbisik, melingkarkan lengan kecilnya di leher Tiger.
Jihan mengembuskan napas penuh kelegaan. Menyeka air matanya yang masih berjatuhan. Tidak menyangka, hari ini akan tiba juga.
Tiger merengkuh pinggang Jihan dan memeluknya, mencium keningnya lalu berkata, "Terima kasih sudah membesarkan Cheryl dengan baik. Jangan sebut sebagai putrimu lagi. Tapi putri kita. Hatiku sakit mendengarnya. I love you, Sayang!" ucapnya merapatkan tubuh Jihan dalam pelukannya.
Dan keluarga kecil itu kembali bersatu, tanpa mereka sadari. Semua orang yang hadir turut menitikkan air mata haru. Bahkan Khansa menangis tersedu-sedu dalam pelukan Leon. Zero yang juga mendapat undangan Leon datang bersama Erent, mereka tersenyum sembari saling berangkulan erat.
..._ T A M A T _...
Alhamdulillah .... akhirnya selesai juga perjalanan keluarga macan yang menguras emosi jiwa 😭😅✌
Silakan hujatan atau bullyannya mengenai kisah ini. 😚😚 maaf atas segala kesalahan penulisan nama, tempat, atau typo. Saya sadar novel ini masih banyak kekurangan..
Terima kasih banyak supporter luar biasa dari kalian. Apalagi yang setia memberikan like, komen, vote, gift, tanpa dipaksa. Yang mana menjadi support sistem terbaik saya hingga menyelesaikan novel ini.
Semua komentar saya baca tapi mohon maaf saya tidak sempat membalas semuanya walau ingin sekali. tapi berbenturan dengan waktu yang terbatas karena harus membagi waktu dengan real life. baik itu komentar yang memberi semangat, ikut merasuk ke dalam novel dgn segala umpatan, komentar hujatan, komentar yang bikin down semua saya baca meski ga sempet bales. Sekali lagi terima kasih banyak bestie 💋💋
Jangan lupa mampir ke resepsi pernikahan Leon-khansa dan Hansen-Emily di pengantinku luar biasa. eeetapi belum sempet ngetik... aku mau ada acara tahlilan setahun meninggalnya ayah. sabar ya 😘✌
__ADS_1
Mau bonchap? Ah... enggak ya. yaudah... say goodbye untuk Macan Family 🥰😘