The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 94. INFO AKURAT


__ADS_3

Rico yang masih terjaga segera mengangkat panggilan dari salah satu bossnya itu. "Ya, Tuan!" jawabnya setelah menggesek layar ponselnya lalu meletakkan di telinga.


"Rico! Apa kamu sudah menyelidiki Anderson itu lagi? Lalu, apa mereka mengusik Jihan?" tanya Tiger tanpa basa basi.


"Belum, Tuan. Karena saya belum kembali ke apartemen, masih menjaga nyonya di rumah. Jadi belum bisa menyelidikinya. Saya yakin orang-orang itu tidak bisa menemukan nyonya di sini," papar Rico dengan tenang.


Terdengar embusan berat dari mulut Tiger, "Oke, jaga dia sampai aku pulang!"


"Baik, Tuan!"


Tiger memutus sambungan bersamaan dengan suara ketukan pintu. Ia berseru untuk mempersilakan masuk, kemudian duduk di kursi kebesarannya.


"Permisi, Tuan!" Grey menyembulkan tubuh sepenuhnya setelah membuka pintu, lalu menutupnya perlahan.


"Duduk!" tunjuk Tiger pada kursi berseberangan dengannya.


Grey mengangguk, duduk dengan tegap lalu meletakkan laptop di meja. Ia membukanya lalu mengetikkan sesuatu pada permukaan keyboard.

__ADS_1


"Tuan, ada banyak hal yang dapat kita gali dari pria yang tertangkap tadi. Sedikit gertakan dan tekanan membuatnya mengungkapkan pengakuan. Dia memohon dengan sangat agar dilepaskan, karena istrinya sedang hamil besar," papar Grey menoleh pada Tiger sekilas lalu kembali fokus pada layar laptopnya.


DEG!


Tiger menelan salivanya, dadanya berdenyut lebih keras. Manik abunya kini menatap dengan serius. Ia bisa merasakan jika berada pada posisi lelaki itu. Karena saat ini, istrinya juga tengah mengandung. Sekeras mungkin dia bertahan dan berusaha agar lekas kembali dalam keadaan selamat.


"Lalu?!" tanya Tiger dengan napas memburu. Kedua tangannya mengepal dan menyiku di atas meja.


"Terpaksa dia menerima pekerjaan ini karena membutuhkan banyak biaya untuk persalinan istrinya. Berikut informasi yang kami dapatkan sementara," sahut Grey menyodorkan laptopnya pada sang boss.


Kedua netra Tiger menyipit, maniknya bergerak ke kiri dan kanan untuk membaca kata demi kata yang tertera pada layar laptop tersebut.


Seketika matanya membelalak lebar, jantungnya berdetak berkali-kali lipat. Napasnya berembus pendek-pendek. Wajah pria tampan itu berubah pucat saat membaca nama ketua klan tersebut.


Tiger memejamkan matanya, menarik napas dalam-dalam untuk menguasai kepanikannya. "Kamu sudah yakin keakuratan dari orang itu?" tanyanya dengan suara dingin.


"Sudah, Tuan! 80℅ saya yakin. Karena sudah saya cocokkan dengan penyelidikan tim IT kita selama ini, dan ternyata sama persis dengan apa yang diucapkan," tutur Grey mengangguk mantap.

__ADS_1


Tiger meremas dadanya yang tetiba terasa sesak. Ia sampai mengembuskan napas dengan bantuan mulutnya. Tangan lebarnya menyeka bulir keringat yang mulai bermunculan.


"Tuan! Anda baik-baik saja?" tanya Grey merasa khawatir.


Pria muda itu segera beranjak dari duduknya, menyodorkan air putih dalam gelas ke hadapan Tiger. "Minum dulu, Tuan," ucap Grey.


Tiger meraih gelas itu dan meneguknya dengan kasar hingga gelas tersebut kosong. Diletakkannya kembali gelas itu ke meja. Ia menunduk, memejamkan mata sembari menetralkan emosinya.


Grey sedikit khawatir, ia berdiri tak jauh dari Tiger. Takut kalau-kalau bossnya itu membutuhkan bantuan.


Beberapa waktu berlalu, Tiger mulai bisa menguasai tubuhnya. "Grey! Tahan orang itu sampai kita menemukan titik terang. Sekarang, minta pilot untuk bersiap dan antar aku ke bandara. Aku harus pulang sekarang juga!" titah Tiger dengan suara pelan.


"Tapi ... Tuan!"


"Lakukan saja. Turunkan di landasan yang aman untuk mendarat. Di manapun itu! Lalu hubungi Bian untuk menjemputku!" tukasnya memutar pandangan hingga bersitatap dengan manik hitam Grey.


"Baik, Tuan!" sahut Grey patuh.

__ADS_1


Pria itu segera bergegas melakukan perintah Tiger. Sementara itu, Tiger masih berperang dengan gejolak di hati dan pikirannya. Berkali-kali ia menghela napas panjang, tapi tetap saja gelayar aneh di tubuhnya masih terasa. Ia bahkan seolah kehilangan tenaganya.


Bersambung~


__ADS_2