The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 32. TEH AIR LAUT


__ADS_3

Jihan membuatkan teh hangat terlebih dahulu, lalu melenggang ke kamar seorang diri. Meski sedikit kesal, ia tidak mau terlalu memikirkan sikap suaminya yang labil itu. Fokusnya hanya satu, yaitu janin dalam kandungannya. Helaan napas panjang ia embuskan demi mengurai kesal di dada.


Saat memasuki kamar, Jihan menemukan suaminya yang masih duduk bersandar sembari asyik memainkan tab di genggaman kedua tangannya. Wanita itu hanya melirik saja, terus melangkah tanpa menoleh sama sekali.


"Minumlah, untuk mengurangi mualmu," ucapnya meletakkan cangkir itu di atas nakas dekat dengan Tiger.


Tiger melirik sekilas, meletakkan tab di genggamannya lalu meraih cangkir di sebelahnya. "Terima kasih, aku minum ya!" ucapnya mengangkat sedikit dan mulai menyesapnya. Jihan hanya mengangguk.


"Pppfftt! Ini kamu bikin teh pake air laut ya?!" teriaknya setelah menyemburkan sesapan pertama. Ia menghempaskan cangkir itu hingga sedikit tumpah isinya. Lidahnya bereaksi menolak keras minuman tersebut.


Jihan tersentak, pasalnya tadi ia memang tidak mencicipinya terlebih dahulu. "Ke ... kenapa? tanyanya.


"Bukannya enakan malah makin mual!" kesal Tiger memicingkan mata.


Jihan penasaran, ia pun mencicipi teh buatannya. Lalu menyemburkan air hangat itu ketika rasa asin mulai terasa di lidahnya. "Maaf. Aku buatin lagi ya." Jihan hendak keluar namun tertahan dengan ucapan Tiger.


"Tidak usah! Tidurlah!" perintah suaminya.


"Tapi aku ...."


"Tidur!" sentak Tiger lebih keras menajamkan tatapannya.


Segera Jihan meletakkannya kembali, lalu mengitari ranjang dan merebahkan tubuhnya dengan posisi membelakangi sang suami.

__ADS_1


Sudah beberapa waktu berlalu, tidak ada suara apapun yang memecah kesunyian di kamar itu. Rasa kantuk tak jua menghampiri, padahal matanya sudah dipejamkan sedari tadi.


"Nak, ayolah bobo!" gumamnya mengusap-usap perutnya.


Tiger yang mendengar gumaman Jihan mengalihkan pandangan dari layar tabnya. Ia mencoba mengabaikan perempuan itu. Kembali memonitoring para bawahannya.


Jihan masih susah menenggelamkan diri dalam buaian mimpi. Kini justru terus bergerak untuk mencari posisi paling nyaman. Bergerak ke kiri dan kanan. Hingga menyebabkan gelombang dan getaran pada ranjang mereka.


"Bisa diem nggak sih?!" sentak Tiger menghunuskan tatapan tajam.


Jihan membuka kelopak matanya yang langsung berbenturan dengan manik abu suaminya meski dalam cahaya lampu malam yang temaram.


Beberapa detik kemudian, tanpa berucap apa pun, Jihan bangkit dari tidurnya. Meraih bantal lalu beranjak berdiri dan menjauh dari tempat tidur itu.


Jihan terus melajukan langkah kakinya, satu tangannya memeluk bantal dengan erat, tangan satunya diangkat ke atas kepala, tanpa suara dan tanpa menoleh.


Punggung sang istri menghilang seiring dengan pintu yang tertutup rapat. Tiger berdecak kesal, namun masih ada beberapa hal yang harus segera dia selesaikan.


Jam menunjukkan pukul 2 pagi. Perih dan gatal mulai terasa pada manik matanya. Ia meletakkan tab di atas nakas setelah menutup semua akses. Lalu meregangkan tubuh kekarnya, mengurai rasa lelah yang bergelayut pada tubuh tersebut.


Kini pandangannya beralih ke sampingnya, Jihan tidak kembali usai pergi satu jam yang lalu. Dengan malas, pria itu pun turun dari ranjang.


Kaki panjangnya melangkah santai menuruni tangga. Pandangannya menyebar mencari keberadaan Jihan. Langkahnya beralih ke depan televisi.

__ADS_1


Wanita itu sudah tertidur dengan posisi yang hampir terjatuh. Bahkan semua bantal sofa maupun bantal yang dibawanya sudah berserakan di lantai. Rambut panjanhnya menjuntai ke bawah. Kemungkinan masih kesulitan tidur, hingga mencari posisi paling nyaman.


"Ceroboh!" desis Tiger berjongkok, menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah cantiknya.


Bibir tipis pria itu membentuk senyum tipis saat memperhatikannya. Tingkah konyol Jihan akhir-akhir ini membuatnya gemas namun berusaha tidak terlihat oleh siapa pun.


Dengan sekali gerakan, Tiger membawanya masuk ke kamar dan merebahkan tubuh wanita itu di ranjang. Jihan tidak merasa terganggu. Ia benar-benar sudah terlelap.


Tiger segera masuk ke dalam selimut yang sama. Menoleh pada perempuan di sebelahnya lalu merapatkan tubuh mereka. Lengannya memeluk Jihan dengan posesif, hingga dirinya pun turut larut ke alam mimpi.


...🌴🌴🌴🌴🌴🌴...


Jihan mengerjapkan kedua matanya ketika sinar mentari mulai menyusup ke dalam kamarnya. Ia menguap sembari mengucek mata memperjelas pandangannya.


Tiba-tiba pendengarannya terganggu dengan suara bariton yang menggema di kamar mandi. Keningnya mengernyit sembari menoleh ke sampingnya yang sudah kosong.


"Loh, kapan aku pindah? Bukankah semalam aku tidur di sofa?" gumamnya mengingat-ingat.


Suara Tiger semakin keras, membuyarkan lamunannya. Ia membelalak lalu menyibak selimut dan berjalan cepat menuju kamar mandi.


Bersambung~


__ADS_1


Jan durhakim, Ji... kualat ntar 🙄


__ADS_2