The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 104. THE POWER OF LOVE!


__ADS_3

Bian menatap sendu atasannya itu. Tangannya gemetar meraih pena dan dokumen yang disodorkan oleh petugas administrasi. Napasnya seperti tertahan di dada. Ia menggenggam pena itu dengan sangat kuat, bahkan sampai urat-urat di tangannya menyembul.


Dia tengah dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit, mengorbankan keselamatan dari sang boss yang sudah bertahun-tahun didampinginya itu.


"Tuan!" panggil asisten kepercayaannya itu dengan suara bergetar.


Tiger mengangguk dan mengedipkan mata, sebagai jawaban agar Bian segera menyelesaikannya. Dengan gerakan yang berat, Bian pun menyelesaikan semua administrasi. Setelahnya, Tiger segera didorong menuju ruang persalinan.


Rico terdiam dengan meneguk saliva yang terasa berat. Baru kali ini matanya disuguhi dua insan yang menantang maut hanya demi pasangannya. The power of love, itulah kalimat yang pantas disematkan untuk Tiger dan Jihan. Hatinya benar-benar tergerus dalam keharuan. Tak terasa air matanya pun menetes.


Derap langkah kaki para perawat diikuti Rico dan Bian kini memasuki ruang bersalin, namun dua pria itu tertahan, tidak diizinkan masuk.


Jihan sudah berganti pakaian pasien. Ia menoleh saat mendengar derit pintu yang terbuka, disusul dengan bisingnya roda brankar pasien yang bergerak mendekatinya.


"Tiger," ucap Jihan pelan dengan senyum yang lebar saat melihat suaminya kini bersanding dengannya.


Satu perawat berusaha menekan pendarahan di kepala Tiger. Perawat lainnya, memantau kesadaran Tiger dan beberapa alat medis penunjang kehidupannya lalu membersihkan luka-luka pria itu.


"Hei! Minggir. Kamu menghalangiku untuk melihat istriku!" ucap Tiger lemah, menggerakkan tangan pada perawat yang tengah memeriksanya.


Segera perempuan berseragam itu bergeser, kini netranya bersirobok dengan manik sendu Jihan. Wanita itu menggigit bibir bawahnya, menarik napas dalam, ketika gelombang cinta kembali menghantamnya. Berembus dengan pelan saat sudah merasa tenang.


"Tiger," gumam Jihan menitikkan air mata.


Lengan Tiger menjulur, buru-buru disambut oleh Jihan dan menggenggamnya sangat kuat. Tiger tersenyum, keduanya saling menyalurkan kekuatan.


"Aaarrghh!" rintih Jihan meremas telapak tangan Tiger dengan sangat kuat.

__ADS_1


"Kamu pasti bisa, Sayang!" ucap Tiger tidak tega melihat istrinya terus mengerang kesakitan seperti itu.


Suasana di ruangan itu terasa sangat dingin bagi Jihan maupun Tiger. Jantung yang berdenyut tak beraturan, ditambah suara benturan alat-alat stainless yang tengah disiapkan semakin membuat hawa yang menegangkan bagi keduanya.


Jihan memejamkan mata, air matanya meleleh dari kedua sudut matanya. Sungguh teramat sakit, jiwanya terasa seolah hampir terlepas dari raganya.


Tiger sendiri berusaha keras agar tetap terjaga, meski pandangannya sedikit buram, bahkan pendengarannya juga tidak begitu jelas. Tautan tangan mereka sama-sama menguat, keringat dingin menyembul di seluruh tubuhnya. Rasa panik, takut kian menyergapnya.


"Tempat untuk bayi sudah disiapkan? Usia kandungan baru 28 minggu. Harus diinkubator untuk pematangan paru. Berat badannya juga belum normal!" Dokter kandungan berseru pada asisten dan bidan yang membantunya. Ia telah memeriksa keseluruhan.


Jihan dan Tiger semakin merasa khawatir. Tapi mereka berusaha tenang, mempercayakan sepenuhnya pada petugas medis.


"Sudah, Dok!" sahut mereka karena sedari tadi bekerja dengan cepat.


"Tensinya juga sudah normal, Dok!" sambung perawat yang memantau tensi Jihan, karena tadi sempat meninggi.


"Nyonya, jika Anda sudah merasa ada dorongan kuat secara alami, tarik napas namun jangan terlalu dalam, lalu embuskan sembari mengejan dengan kuat. Tempelkan dagu pada dada Anda!" titah dokter menyadarkan Jihan.


Jihan membuka kedua matanya, napasnya berembus sesuai ritme yang ia atur. Ia berusaha fokus. Semakin memejamkan mata, fokusnya hanya pada rasa sakitnya saja.


"Tetap buka mata Anda, Nyonya. Jangan mengejan dalam keadaan mata tertutup. Pembuluh darah Anda bisa pecah. Rileks saja seperti buang air besar," lanjut dokter tersebut membelai puncak kepala Jihan yang basah. Menggantikan posisi Tiger yang seharusnya melakukannya.


Jihan mengangguk, ia memutar bola matanya hingga kini saling bersitatap dengan suaminya yang juga sekuat tenaga mengurai senyum untuk memberinya semangat. Ibu jarinya bergerak lembut pada punggung tangan Jihan.


Dan ketika dorongan kuat dari perutnya itu tiba, Jihan mengumpulkan konsentrasinya untuk mengejan. Sedikit mengangkat kepala agar dagunya menempel pada dada, sesuai instruksi dokter.


"Eenngghhhh!!" Jihan mengerahkan tenaganya, namun belum berhasil. Napasnya terengah-engah.

__ADS_1


Tiger gemetar, tangannya semakin menguat pada genggamannya. Air matanya menetes menyaksikan kesakitan yang dialami istrinya. Matanya enggan berpindah dari wajah Jihan yang memerah berlapis bulir keringat.


"Sabar, Nyonya. Rileks dulu ya. Jika nanti serasa ingin mengejan kembali, fokus, kerahkan semua tenaga," titah dokter lembut. Ia juga meminta salah satu perawat untuk menyeka keringat Jihan.


Jihan menelan salivanya yang terasa kering. Namun hasrat untuk mengejan kembali hadir. Ia pun bersikap tenang, fokus dan kembali melakukan instruksi sang dokter.


Kedua kalinya masih gagal, disambung erangan yang ketiga yang lebih kuat dan lebih panjang, hingga akhirnya ketuban pecah bersamaan dengan keluarnya sang bayi dalam kondisi sempurna.


Lega, hanya itu yang kini dirasakan Jihan. Terdengar jerit tangis yang menggema. Jihan menangis haru saat mendengar tangisan bayinya. Napasnya masih memburu dengan seluruh tubuh terasa tak bertulang.


Dokter membawanya pada Jihan, "Selamat ya, Nyonya. Bayi Anda perempuan, lengkap, sangat cantik." Kemudian meletakkan bayi itu dengan posisi tengkurap pada dada Jihan yang sudah dibuka. Agar kulit ibu dan anak itu saling bersinggungan, sehingga bayi akan langsung mengenali ibunya, juga memudahkan bayi mencari sumber ASI nya.


Ada kebahagiaan yang membuncah, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Wanita itu menundukkan pandangan, senyum di bibir keringnya terurai menatap bidadari kecil yang ada di pelukannya. Hatinya menghangat, rasa sakit yang sedari tadi mendera seolah lenyap karena kehadiran bayi kecil itu.


Sembari inisiasi menyusui dini, dokter dibantu bidan menunggu plasenta keluar. Lalu segera membersihkan kewanitaannya.


"Welcome to the world, cintanya papa!" gumam Tiger sangat pelan dan bergetar.


Pria itu menangis tak bersuara. Ingin rasanya segera menghambur memeluk bayi kecil juga istrinya. Namun apa daya, tubuhnya terasa kaku digerakkan. Kesadarannya pun mulai memudar, semakin lama pandangannya menggelap, telinganya tidak bisa mendengar apa pun.


Tautan tangannya terlepas dari Jihan. Kedua matanya sudah tertutup rapat. Lengan Tiger terantuk tepian ranjang.


Jihan tersentak saat kehilangan genggaman tangan suaminya. Ia menoleh dengan cepat dan ternyata menemukan sang suami yang sudah tak sadarkan diri. Tenggorokannya terasa tercekat dan debaran dada bagai lari marathon.


Belum pulih dari keterkejutannya, bayinya juga segera diambil untuk diletakkan dalam inkubator dan masuk ke ruang NICU. Dunianya seolah hancur. Tubuhnya semakin lemah. Dadanya teramat sesak, air matanya lagi-lagi luruh dengan begitu derasnya.


"Tiger!" panggilnya dengan suara sangat pelan, kondisinya masih sangat lemah. Tangannya terulur hendak meraih suaminya, namun beberapa petugas medis segera membawanya keluar dan berpindah ke ruangan lain.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2