The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 83. STRATEGI


__ADS_3

"Berkat kerja sama yang bagus, tim gabungan di Black Stone akhirnya bisa menembus jaringan markas klan Black Blood. Markas induk bertempat di Amerika, belum lama ini ketua mereka mendarat di Jakarta. Sedangkan di Indonesia, mereka tidak memiliki tempat yang menetap. Selalu berpindah-pindah untuk menghilangkan jejak," papar Bian menyerahkan bukti tercetak pada Tiger.


Sistem keamanan tinggi dari klan Black Blood membuat Tiger dan tim, sedikit kuwalahan untuk menembusnya. Setelah beberapa waktu, akhirnya kerja keras mereka membuahkan hasil.


Tiger memperhatikan lembar demi lembar kertas itu, hasil dari peretasan para bawahannya. Tampak beberapa rumah atau gedung tua yang pernah digunakan oleh pihak musuhnya itu. "Sudah dikirim ke surel saya?" tanyanya tanpa menoleh.


"Sudah, Tuan! Detailnya ada di sana semua," balas Bian mengangguk.


Setelah membuka dan membaca seluruh dokumen itu, Tiger beralih membuka emailnya yang sudah menumpuk, namun tentu saja memilih yang prioritas.


Bibirnya terkatup rapat, kedua matanya menatap tajam seiring dengan gerakan cepat kedua jari tangannya. Link yang ditekan, langsung memunculkan banyaknya kode gabungan angka, huruf dan simbol.


Denting keras yang ditimbulkan dari pergerakan jemari Tiger di atas keyboard memecah keheningan di ruangannya. Bian diam menunggu instruksi yang akan diberikan oleh sang boss. Ia selalu siap dalam kondisi apa pun.


"Bian, lakukan zoom meeting sekarang juga!" Benar saja, setelah 30 menit berlalu Tiger memberinya perintah.


Bian pun langsung mengerti. Ia mengangguk dan segera mengoperasikan laptop di depannya untuk melakukan zoom meeting bersama tim Black Stone yang ada di Palembang.


Tiger masih sibuk mengoperasikan laptopnya, sedangkan Bian, selesai menyambungkan meeting online dengan perangkat berbeda, segera mengarahkan dengan sopan pada wajah Tiger.


Satu persatu anggotanya mulai bergabung, duduk tegap dan memasang telinga lebar-lebar, juga membuka mata mereka baik-baik.

__ADS_1


Menunggu selama beberapa saat, sampai kini pandangan Tiger mengarah pada meeting tersebut.


"Terima kasih kerja kerasnya. Langsung saja, titik lokasi terakhir Klan Black Blood saat ini, tidak jauh dari tempat transaksi kita. Saya yakin kejadian sebelumnya akan terulang lagi. Untuk mengantisipasinya, alihkan semua pengiriman ke Pelabuhan X. Di sana jauh dari jangkauan mereka. Dylan, kamu atur lokasinya. Segera cari tempat untuk penyimpanan sementara kita. Jangan hanya stuck di satu tempat," papar Tiger dengan tatapan mengerikan.


"Baik, Tuan!" Hanya Dylan yang bersuara. Selain dia, anggota lain hanya mengatupkan bibir dengan rapat, berkedip saja rasanya tidak berani.


"Sedangkan Grey, sebagai penembak jitu terbaik, kamu bentuk tim untuk stanby di lokasi seperti biasa. Buat beberapa lapis, dan tempatkan beberapa penembak jitu jarak jauh, jangan sampai terlihat keberadaannya. Arahkan beberapa kapal kosong untuk berlabuh di sana. Simulasikan seperti saat kita menerima barang!" lanjut Tiger membagi tugas.


Rencana kali ini adalah untuk memancing pihak musuh agar muncul dengan sendirinya ke area kekuasaan Tiger. Tidak perlu susah payah mencari-cari di mana musuhnya berada. Tiger yakin, mereka akan datang dengan sendirinya.


"Siap, Tuan!" sahut Grey, pria muda tangguh yang mempunyai kemampuan menembak sangat akurat tanpa melesat satu inchi pun dalam jarak dekat maupun jauh.


"Ada pertanyaan?" tanya Tiger setelah melakukan semua penjelasan pada bawahannya.


"Jelas, Tuan!" jawab mereka serentak.


"Baik, silakan bersiap untuk tiga hari ke depan!" lanjut Tiger mengakhiri meeting singkat, padat dan lugas di setiap kalimat yang keluar dari mulutnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jihan menggigit bibir bawahnya, tampaknya ini tidak sesederhana yang ia pikirkan. Dijadikan boneka ibunya sejak kecil, membuatnya tidak pernah bisa memecahkan masalah dengan pikiran yang matang. Bahkan dalam memutuskan sesuatu saja, ia sulit untuk menentukan.

__ADS_1


Rico berpikir keras sembari berselancar di layar ponselnya. Setelah beberapa waktu, dia mendongak dengan tatapan terkejut. "Jihan! Kamu harus pergi dari sini sekarang juga. Ini aku bawa, jangan ke sini dulu. Aku harus memastikannya, aku sama sekali tidak yakin dengan mereka." Rico meraih surat kontrak Jihan dan membawanya.


"Ba ... bagaimana kamu bisa tidak yakin?"


"Dalam bisnis, apa pun bisa dilakukan. Jangan sekali-kali berhubungan dengan orang asing lagi. Sini ponsel kamu!" seru Rico menyodorkan telapak tangannya.


Jihan memberikan ponsel pemberian Tiger, memasukkan nomornya dan melakukan missed call. "Ok, sekarang kamu harus pulang. Jangan keluar tanpa suamimu!" tegas Rico sedikit panik.


"Apa akan terjadi sesuatu?"


"Tolong dengarkan aku kali ini aja. Demi kebaikanmu. Tinggallah di rumah jika Tuan sedang bekerja." Rico tidak menjelaskan apa pun.


"Bagaimana denganmu?" tanya Jihan sedikit khawatir.


"Aku aman! Tenang saja. Ayo aku antar pulang!" ajak Rico beranjak berdiri.


Pria itu yakin, di lain waktu Bima akan kembali karena belum mendapatkan apa yang diinginkan. Jika Jihan masih sering datang, bisa berdampak buruk pada kemungkinan yang akan terjadi ke depannya. Rico meningkatkan kewaspadaannya.


Bersambung~


Sudah siap ke konflik utama?? Siap lah yaa masa enggak, 😄

__ADS_1


__ADS_2