
Dengan tenang dan wajah datar, Tiger memasuki gedung berlantai marmer mengkilap itu. Benturan sepatu mahalnya menyita perhatian beberapa karyawan wanita yang bekerja di bagian loby. Mereka tampak terkesima dengan aura tegas dan menawan pria yang menghampirinya itu.
"Selamat pagi, Tuan. A ... ada yang bisa saya bantu?" ucap salah satu resepsionis dengan gugup.
"Apa boss kalian ada di ruangan?" tanya Tiger dengan nada dingin namun terdengar sexy di telinga dua wanita resepsionis di sana.
"Ada, Tuan! Apakah Anda sudah membuat janji?Saya akan mengantarkan Anda jika sudah," sahut wanita satunya dengan semangat.
Tiger menggerakkan kepalanya. Manik biru keabu-abuan pria itu bagaikan sebuah sihir yang seketika membuat seluruh tubuh wanita itu seolah kehilangan sendi-sendi tulangnya.
Apalagi kini pria jangkung dan tegap itu mencondongkan tubuhnya, membuat jantung wanita itu meledak-ledak. Padahal Tiger menatapnya tajam dengan seringai dingin di wajahnya.
"Tidak perlu!" ucapnya tegas segera menarik tubuhnya dan melenggang pergi.
Pria itu melangkah dengan tenang, mata elang itu tak berkedip memindai interior bangunan itu. Meski ini pertama kalinya datang ke perusahaan tersebut, Tiger sudah memiliki feeling di mana ruangan CEO berada.
Punggung kekar itu bersandar di dinding lift. Satu tangannya masuk ke dalam saku celana. Napasnya berembus pelan walau dalam hatinya bergemuruh diliputi amarah.
"Ting!"
Suara pintu lift terbuka, Tiger bergerak dengan lamban keluar dari ruangan kecil itu. Manik matanya mengerjap dengan perlahan. Sebuah meja sekretaris langsung ia temui sebelum mencapai pintu ruangan CEO.
"Misi selesai!" Terdengar suara pemberitahuan dari alat komunikasi di telinganya. Tentu saja hanya Tiger dan para anak buahnya yang bisa mendengarnya
__ADS_1
Pandangannya mengeliling mengamati CCTV yang menyebar di setiap sudut ruangan. Ia berdiri dengan santai, hingga mengejutkan wanita sexy yang berada di balik meja.
"Saya ingin bertemu dengan boss Anda. Tolong jangan biarkan satu orangpun masuk sebelum saya selesai mengurus kerja sama dengannya," tegas Tiger dengan tatapan elangnya.
"Tapi, Tuan. Anda belum membuat janji sebelumnya," elak sekretaris itu.
Tiger mengeluarkan sesuatu di balik jasnya, menodongkan pada pelipis wanita itu sebuah pistol berwarna emas kesayangannya. "Antar aku bertemu bosmu, atau kuantarkan nyawamu ke hadapan Tuhan!"
"DEG!"
Wanita itu membelalak, jantungnya seolah melompat keluar dari dadanya. Tubuhnya terpaku, sama sekali tidak bisa bergerak dengan tenggorokan yang tercekat.
Satu tangan wanita itu bergerak sangat pelan untuk menekan sebuah tombol. Namun gerakannya dapat dibaca oleh mata tajam pria itu.
Sebuah pukulan telak dari telapak tangan Tiger membuat wanita itu meringis kesakitan. Keringat mulai membasahi wajahnya. "Jangan berani macam-macam atau aku tarik pelatuk ini sekarang juga?!" ucap Tiger penuh penekanan.
"Ma ... maaf, Tuan!" Wanita itu ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat.
Ia lalu mengambil seutas tali kecil dari saku celananya. Mengikat kedua lengan kecil wanita itu ke belakang tubuhnya. Lalu mencari sebuah selotip untuk menutup mulutnya.
"Bagus! Jadilah penurut!" ucap Tiger menepuk puncak kepala sekretaris itu dengan perlahan.
Semua CCTV sudah tidak berfungsi. Karena sudah dimatikan oleh bawahan Tiger yang bekerja sejak pagi tadi.
__ADS_1
Tiger segera mengetuk pintu, lalu membukanya dengan perlahan. Ia melangkah panjang hingga berada di ruangan CEO. Seorang pria paruh baya yang sedang fokus pada berkas di tangannya, segera menaikkan pandangan.
"Hah!" Sontak mata pria itu melebar dengan sempurna. Tubuhnya tersentak ke sandaran kursi kebesarannya.
Tiger tersenyum miring sembari menutup pintu dan menguncinya. Wajah devil itu kembali muncul setelah sekian lama terpendam.
"Kenapa Tuan Rexo? Anda terkejut melihat saya masih hidup bahkan bisa berdiri di ruangan Anda?" gumam Tiger dengan tatapan remeh.
"Ba ... bagaimana bisa? Ah maksud saya, Anda bicara apa Tuan Tiger? Sungguh suatu kehormatan Anda bisa berkunjung ke perusahaan kecil saya. Silakan duduk, Tuan!" Pria setengah baya bernama Rexo itu berusaha menutupi kepanikannya. Tiger tentu saja bisa membaca gerak geriknya.
'Dasar tikus pengganggu! Padahal jelas-jelas kamu terkejut sekaligus ketakutan,' geram Tiger menutupi kekesalannya dengan senyum tipis di bibirnya.
Tiger mundur beberapa langkah, duduk di sebuah sofa dengan tumpang kaki. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan sembari menggerakkan lehernya mematah ke kiri dan kanan hingga terdengar bergemeletuk.
"Ee ... biar saya minta OB untuk mengantarkan minuman untuk Anda, Tuan!" ucap Rexo panik hendak melangkah keluar ruangan.
"Berhenti dan jangan coba untuk keluar dari ruangan ini!" teriak Tiger tanpa menoleh namun mampu membuat tubuh Rexo bergetar dan stuck di tempat. "Tidak perlu repot-repot. Silakan kembali duduk!" lanjutnya menoleh.
Rexo tertawa kaku, ia lalu berjalan sangat pelan duduk berseberangan dengan Tiger. Gerakannya sangat lambat dan terlihat sekali gemetar ketakutan.
"Langsung saja, apa tujuan Anda ingin melenyapkan nyawa saya?" Tiger menyiku di atas pahanya. Tatapan elang ia lemparkan dari manik birunya.
Bersambung~
__ADS_1