
"Aku harus pastikan dulu," gumam Jihan memasukkan kembali kartu nama Bima ke dalam hand bagnya. Ia hendak bersiap untuk berangkat ke apartemen. Langkahnya terhenti ketika ia mengingat pesan suaminya.
"Jika mau kemana pun, pakai sopir dan kabari aku!" ucap Tiger setiap pagi. Tiger kembali memberinya ponsel untuk mereka berkomunikasi.
Ia lalu menggunakannya untuk menelepon Tiger. Menunggu dua kali nada sambung berbunyi segera terdengar suara di seberang.
"Tiger," panggil Jihan dengan suara lembut.
"Ya?" sahutnya singkat.
"Aku ke apartemen sebentar ya. Mau ngambil sesuatu," izin Jihan pada suaminya.
"Mau aku antar?" tawar Tiger.
"Enggak, enggak! Aku minta tolong sama sopir aja," elak Jihan dengan cepat.
"Baiklah, hati-hati!" tandas Tiger lalu menutup sambungan teleponnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Sementara itu, di apartemen. Bima berulang kali menekan bell. Namun tidak ada jawaban apapun sedari tadi. Akhirnya ia pun menekan password dan masuk ke dalam apartemen yang ditempati Jihan.
Kosong, sunyi, tidak ada tanda kehidupan di dalam sana. Bima pun mulai mengecek satu per satu ruangan itu sembari memanggilnya. Keningnya mengernyit saat tidak menemukan Jihan dimanapun.
"Kemana dia? Nggak mungkin kabur 'kan?" tanya Bima pada diri sendiri.
Dia membuka almari dan ternyata baju-baju Jihan masih ada di sana. Sedikit membuat Bima bernapas lega. Dan saat berjalan keluar kamar pun ia masih menemukan surat kontrak milik Jihan tergeletak di atas meja.
Tidak ada yang janggal ketika memeriksanya, Bima kembali meletakkannya. Sudah setengah jam pria itu mondar mandi di dalam ruangan, tidak ada tanda-tanda kehadiran Jihan. Ia pun bermaksud untuk kembali.
"Mungkin keluar cari sarapan. Aduh, mana mau meeting bentar lagi," keluh Bima menatap jam di pergelangan tangannya.
Bima lupa meminta nomor ponsel Jihan, namun ternyata sampai detik ini Jihan tidak juga menghubunginya. "Nanti balik lagi aja lah!" gumamnya pelan lalu keluar dari sana.
Di depan pintu, ternyata sudah ada Rico yang berdiri menyandarkan punggung pada dinding tepat di sebelah pintu. Ia selalu memantau apartemen itu, selain untuk mengawasi Jihan, Rico juga ingin menyelidiki pria yang berhubungan dengan Jihan.
Tepat saat Rico memantau apartemen Jihan, ia menemukan pria yang sama masuk ke sana. Rico segera berlari, menyandarkan punggung pada dinding sembari menunggu keluarnya Bima.
"Siapa kamu?!" tanya Rico membuat Bima terjingkat kaget.
__ADS_1
Rico menegakkan tubuhnya, kedua lengannya masuk ke dalam saku celana lalu menoleh pada Bima. "Apa hubungan kamu dengan Jihan? Surat apa yang kamu berikan untuknya?" cecar Rico menatapnya dengan tajam.
"Kamu yang siapa? Ini bukan urusanmu. Jangan ikut campur!" tegas Bima menaikkan telunjuknya di hadapan Rico.
Rico menjulurkan lengannya, menekan bahu Bima, "Jangan macam-macam dengan dia! Kalau tidak mau hidupmu porak-poranda!" ancam Rico dengan tatapan mengerikan.
"Hei! Ini tidak ada urusannya denganmu!" pekik Bima menepis lengan pria itu.
"Jelas ini urusan saya. Karena saya adalah pengawalnya!" balas Rico berteriak.
"Hahaha! Jangan ngaku-ngaku deh. Lain kali aku ladeni kamu. Saat ini aku tidak punya waktu. Dan ingat, Jihan sudah terikat kerja sama dengan atasanku. Jangan coba-coba membawanya kabur!" tandas Bima lalu melenggang pergi.
Jihan baru saja sampai. Wanita itu menjajakkan kedua kaki jenjang yang berbalut sepatu convers di pelataran gedung bertingkat. Gaun berwarna biru muda terlihat sangat pas membalut tubuhnya. Aura kecantikannya semakin terpancar.
Jihan meminta sang sopir untuk menunggunya, karena takut Tiger khawatir jika tahu sopirnya pulang terlebih dahulu. Bisa-bisa lelaki itu murka dan akan banyak korban-korban tak berdosa.
Saat tiba di depan lift, Jihan melihat tali sepatunya terlepas. Jihan berjongkok dan menyimpulkan kembali tali sepatu tersebut. Bersamaan dengan keluarnya Bima.
Bersambung~
__ADS_1