The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 119. KOMPETISI


__ADS_3

Gelapnya malam kini menyapa para penduduk bumi, sebagai isyarat untuk mengistirahatkan jiwa dan raga setelah beraktivitas selama seharian penuh.


Jihan duduk di jendela kamarnya yang terbuka lebar, memeluk kedua lututnya dengan pandangan yang mengarah pada langit hitam legam yang bertaburan bintang.


Sudah hampir satu jam dia duduk di sana. Menahan kerinduan yang menggebu pada sang suami. Napasnya tersengal diiringi isak tangis tertahan.


"Dimanapun kamu berada semoga selalu bahagia, di bawah langit yang sama Tiger. I love you," gumamnya memejamkan mata, memeluk tubuhnya sendiri. Membayangkan hangatnya pelukan Tiger yang selalu mendekapnya di setiap waktu ketika mereka bersama.


Setelah puas melampiaskan kerinduannya, Jihan turun dan menutup pintu jendelanya rapat-rapat. Kemudian menghampiri putrinya, dan memberikan kecupan lembut pada kening Cheryl.


Tak peduli jam yang terus bergerak, Jihan kembali menghadap laptopnya. Kali ini ia mencari peluang yang memungkinkan untuk menampilkan hasil karya-karyanya.


Setelah beberapa lama berselancar di dunia maya, Jihan berbinar ketika melihat banner yang bertebaran di media sosial. Sebuah kompetisi yang mengundang para desainer. Tertulis semua persyaratan dan hadiah lomba.


"Selain mendapat uang tunai, sertifikat, juara satu, dua dan tiga akan mendapat beasiswa kursus di Paris selama setahun. Ah! Aku harus ikut!" gumamnya bersemangat.


Jihan menyeleksi berbagai karyanya dan memilih karya terbaik untuk mengikuti kompetisi tersebut. Tidak peduli apa pun hasilnya nanti, yang penting terus berusaha.


Pendaftaran ditutup setelah 14 hari sejak pengumuman disebarkan. Dan semua peserta yang ikut harus datang ke Jakarta untuk pengumuman. Tiga karya terbaik, akan dijadikan gaun dan dipakai oleh model yang ditentukan penyelenggara.


Setiap hari Jihan membuka website tersebut, yang mana semakin membuatnya insecure. Karena banyak sekali yang mengikuti kompetisi. Bahkan banyak yang sudah punya nama turut mendaftar.


"Sudah sejauh ini, masa mau nyerah!"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dan hari yang ditunggu pun tiba. Berhubung acara yang akan dihadiri tidak butuh waktu berhari-hari, Jihan dengan berat hati harus meninggalkan buah hatinya di rumah.


"Sayang, jangan rewel ya. Mama janji akan cepat kembali kalau sudah selesai. Doain mama!" ucap Jihan menggerakkan tangan kecil Cheryl lalu mengecupnya.


Sedangkan Cheryl hanya tertawa, menjerit sembari menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Jihan beralih menatap Bi Inem yang menggendong Cheryl di depan dadanya.


"Bi, tolong jagain Cheryl ya. Maaf ngrepotin. Tapi kasihan kalau ikut ke sana. Lagian acaranya cuma semalam aja kok," ucap Jihan pada Bi Inem.


Wanita itu mengangguk mantap meyakinkan. "Hati-hati ya, Neng. Cepat kembali, semoga berhasil!" ucap Bi Inem memberikan semangat.


"Iya, Bi. Terima kasih," balas Jihan mendekatkan wajahnya lalu menciumi kedua pipi gembil Cheryl, kening bayi itu."


Baru beberapa langkah, Jihan mendesah kasar, berbalik dan menciumi putrinya yang sudah hampir terlelap. Masih enggan meninggalkannya.


"Neng, nanti terlambat lho. Udah sana!" ucap Bi Inem mengingatkan.


Jihan menjauhkan tubuhnya, "Hmmm! Iya, Bi. Mama berangkat, Sayang," ucapnya lesu kemudian memutar langkahnya. Berjalan menuju taksi yang akan mengantarkannya ke bandara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sore hari, Jihan sudah tiba di hotel. Tempat yang ditentukan oleh panitia kompetisi. Dia tidak keluar sampai malam tiba. Selama itu pula, ia terus merasa gelisah. Selain khawatir keadaaan putrinya, entah kenapa darahnya terus berdesir kuat disertai detak jantung yang bergelombang tinggi.

__ADS_1


Ia pun keluar dari kamar, menuju ballroom setelah memoles wajahnya dengan riasan tipis. Berjalan anggun, tanpa menoleh ke kiri atau kanan. Lurus ke depan mengabaikan sekitarnya.


Duduk pun dia lebih memilih menyendiri di sudut ruangan. Tangannya panas dingin, debarannya pun semakin kuat tatkala pembawa acara mulai menyebutkan satu per satu kandidat yang mengikuti kompetisi.


Gemuruh tepuk tangan pun menggema dan memekakkan telinga. Hanya Jihan yang diam saja, karena keyakinannya terkikis. Apalagi selama ini selalu ditolak oleh beberapa butik saat pengajuan CV.


"Kalau nggak menang juga nggak apa, sih. Seenggaknya bisa belajar dari para pemenang nanti. Memang belum ada jam terbang sama sekali," gumam Jihan memainkan minuman di tangannya.


Acara sudah dibuka dengan beberapa sambutan. Dan tibalah waktunya untuk pengumuman. Sunyi, semua partisipan tegang menunggu saat-saat mendebarkan ini.


"Baiklah, terima kasih banyak atas sambutan-sambutannya. Kali ini langsung saja kita panggil para pemenangnya. Sesuai dengan penjurian oleh para desainer ternama, beserta para penanam saham. Keputusan juri, mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. Silakan model menunjukkan diri, untuk juara desai ketiga!" gemuruh tepuk tangan mulai menggema semakin membuat jantung para peserta bak lari marathon.


Lenggak-lenggok model berjalan di atas catwalk. Satu orang wanita pun memekik kegirangan ketika tahu bahwa gaun yang dikenakan adalah hasil karyanya.


"Silakan maju ke depan untuk jelita desain! Selamat!" tutur sang pembawa acara. Begitupun alur untuk juara kedua dan juara pertama.


Dan kedua manik Jihan berkaca-kaca ketika melihat seorang model yang berjalan anggun dengan hasil desainnya saat MC menyebutkan juara pertama.


"Hah! Aku ... aku menang?" gumamnya dengan suara gemetar tidak percaya.


"Silakan anastasia desain untuk naik ke atas panggung sebagai juara pertama pada kompetisi ini!" teriak MC memanggil.


Jihan menyeka air mata yang berjatuhan. Ia pun bergegas maju ke atas panggung, yang seketika membuat terkejut salah satu juri di sana.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2