
Genderang di dada Jihan kembali tenang, ketika denting monitor detak jantung kembali normal. Ia kembali berdiri dan menatap lekat suaminya yang sedang diberi penanganan oleh beberapa dokter spesialis beserta perawat.
Beberapa waktu menunggu, tampak mereka menghela napas lega. Jihan memberanikan diri untuk mendekat dan menanyakan keadaan sang suami.
"Apa yang terjadi dengan suami saya, Dok?" tanya Jihan dengan suara lirih.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Itu merupakan salah satu respon refleks," papar salah satu dokter yang menangani.
"Ta ... tapi, aku melihat air matanya juga keluar tadi. Bukankah itu artinya dia mendengarku?"
"Tentu saja, Nyonya. Pasien koma pasti selalu bisa mendengar suara-suara sekitarnya. Hanya saja otaknya tidak bisa merespon. Semoga ini menjadi awal yang bagus untuk kesadaran beliau," tutur sang dokter.
"Kenapa lama sekali sih, Dok?" seru Jihan frustasi.
"Maaf, Nyonya, sepertinya karena Tuan terlalu sering mengkonsumsi alkohol. Jadi pengobatannya sedikit terhambat. Ada beberapa jenis obat yang ditolak oleh tubuhnya. Tapi kemungkinan sembuh pasti ada, meskipun hanya 10%. Kami akan berusaha untuk melakukan yang terbaik. Teruslah beri sugesti untuk membantu merangsang kesadaran Tuan," jelas dokter tersebut dengan jujur.
Jihan mengangguk, ia mengembangkan dadanya untuk mengurai sesak. Meski belum ada perubahan signifikan. Asa dan harapan itu masih ada.
"Makan dulu!" ujar Rico mengingatkan. "Sudah aku siapkan di depan," lanjutnya menunjuk pintu keluar.
"Tolong jangan ganggu aku malam ini, aku nggak lapar," tolak Jihan menggeleng lalu kembali mendekat ranjang suaminya.
"Sini, daftarin sidik jarimu dulu!" ajak Rico, di luar sudah ditunggu tim IT.
Jihan beranjak, menurut tangannya dituntun dalam mesin scan untuk diprogram, agar Jihan mudah mengakses pintu tersebut.
Setelahnya, ia kembali duduk, merebahkan kepala dekat dengan telinga Tiger. Lengannya memeluk leher Tiger dengan posesif. Memejamkan matanya hingga lama kelamaan benar-benar tertidur.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, dering ponsel Jihan yang memekik membuat wanita itu tersadar. Dengan malas menegakkan tubuhnya dan meraih benda pipih itu, menggeser slide tanpa melihat nama sang pemanggil.
"Ma ... ma!" seru Cheryl dengan suara gemasnya.
Mata Jihan melebar mendengar celetukan Cheryl. Ia segera mengubah panggilan menjadi video.
"Sayang, sudah bangun? Wah udah cantik ya anak mama. Lihat nih, ini pa ... pa!" tunjuk Jihan mengarahkan kamera pada suaminya.
Terbengong, berkedip lembut dengan mulut terbuka. "Ma ... ma," ucapnya lagi.
"Coba panggil lagi, pa--pa," pinta Jihan sekali lagi.
"Papa!" cetus bayi itu dengan suara lucunya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Percakapan singkat itu berakhir, namun disambung dengan telepon lainnya. Ternyata adalah Zero, mengingatkan acara opening Butik Anastasia besok malam. Jihan menjawab tidak bersemangat. Berbeda dengan beberapa waktu lalu yang begitu antusias.
Ia letakkan kembali ponselnya di atas nakas. Mencium kening suaminya cukup lama. "Aku, udah pantes 'kan dampingi kamu? Kamu nggak akan malu bersanding denganku. Atau kamu justru marah dengan pencapaianku? Kamu 'kan susah ditebak," desahnya membelai wajah tampan itu.
Jihan menyeka tubuh suaminya dengan telaten, membersihkan setiap jengkal yang bisa digapai. Setelahnya kembali duduk, bercerita banyak hal mengenai perjalanan hidupnya bersama Cheryl, putri mereka.
Seharian penuh Jihan sama sekali tak beranjak dari ruangan itu. Makan pun hanya mampu ditelan sedikit saja. Tidak nafsu sama sekali. Suara pintu terbuka membuat Jihan menoleh, Rico melenggang masuk dengan perlahan.
"Ric, bisa antar aku ke Jakarta? Besok malam aku ada opening butik milikku," pinta Jihan.
__ADS_1
Rico membelalak, "Kau punya butik sekarang? Wow! Serius? Seorang Jihan yang sering kabur-kaburan, ngambekan nggak jelas, overthinking sekarang jadi owner? Hah? Sulit dipercaya!" cecarnya memicingkan mata.
Tentu saja terkejut. Rico sangat tahu bagaimana perangai Jihan satu tahun yang lalu. Dia sama sekali tidak menyangka, satu tahun ini merubahnya menjadi perempuan hebat.
"Emang kenapa? Nggak boleh kalau aku berproses? Sebegitu nggak percayanya kamu!" sanggah Jihan memicingkan mata.
"Ya, bukan gitu. Cuma ...."
"Apa? Nggak percaya? Sini aku kasih tahu!" Jihan melambaikan tangan lalu membuka ponselnya.
Ia menjelaskan secara detail bagaimana bisa dia mencapai di titik sekarang. Keberhasilannya saat menjadi juara lomba desain, hadiah pendidikan gratis, juga dibuatkan butik sebagai hadiah tambahan.
"Ya ampun. Pantesan aku cari kemana-mana nggak ketemu. Ternyata kamu di Paris. Hah! Sumpah keren banget kamu, Ji. Ah ternyata kamu sudah dewasa!" puji Rico mengacak rambut Jihan yang langsung ditepis. "Mau pulang kapan?"
"Besok pagi aja. Masih pengen di sini. Acaranya malem sih, tapi harus ada gladi bersihnya jam 12 siang," jawab Jihan setelah melihat jadwal acara.
"Ok! Sini ponsel kamu!" Rico mengulurkan tangan. Rico segera menyambarnya dan melakukan missed call pada nomornya sendiri agar mudah menghubungi Jihan nantinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan paginya, Jihan bersiap untuk kembali ke Jakarta. Ia berpamitan pada sang suami cukup lama. Memberikan kecupan pada wajah pucat dan dingin itu berkali-kali.
"Aku akan segera kembali, Sayang. Doakan lancar ya acaranya." Jihan berucap lembut, membuat air mata Tiger kembali mengalir. Jihan menyekanya dengan perlahan. "Jangan nangis, aku nggak akan lama," lanjutnya menahan air mata.
Saat Jihan menyentuh telapak tangan Tiger dan hendak membungkuk untuk menciumnya, ia terkejut ketika tangan itu mencengkeram dengan sangat kuat. Namun kedua matanya masih tertutup rapat.
"Ric! Rico! Lihatlah! Tiger menggenggam tanganku! Rico! Tiger sadar?" pekiknya terkejut.
__ADS_1
Bersambung~