
"Ya ampun, Tiger!" seru Jihan saat menemukan sang suami sudah pucat pasi, terus muntah di depan wastafel. Padahal hanya cairan saja yang keluar. Tapi sesuatu seolah terus mendesak dari perutnya yang kosong itu.
Jihan memberikan pijatan lembut pada tengkuk lelaki itu. Ia prihatin dengan sang suami. Merasa tidak tega dengan apa yang dialami.
"Maaf ya," ucap Jihan pelan namun masih terdengar jelas di telinga Tiger.
Ia segera membasuh wajahnya sekaligus berkumur-kumur setelah merasa selesai dengan aktivitas mualnya. Jihan mengambilkan handuk kecil, membantu mengusap bulir air yang membasahi wajah sang suami.
"Maaf untuk apa?" Tiger menoleh dengan tatapan serius.
"Gara-gara anak aku, kamu jadi kaya gini?" cetus Jihan tanpa sadar masih menekan-nekan wajah Tiger dengan perlahan.
"Maksudnya?" tanya Tiger tidak mengerti.
Jihan membelalak dan seketika menutup mulutnya. Kepalanya menggeleng dengan cepat lalu tersenyum dengan lebar.
"Hehehe, enggak kok. Nggak apa-apa. Mmm ... hari ini ke dokter aja. Kasihan kamu nanti kalau muntah-muntah di kantor. Takutnya kamu sakit parah," papar Jihan.
"Kamu mendoakan aku supaya sakit parah?" geram Tiger menekan kedua bahu Jihan dan memberikan tatapan tajam.
Jihan menepiskan handuk di tangannya pada salah satu bahu Tiger. "Ck! Pikiran kamu tuh! Aku kan cuma menyarankan ke dokter, Tuan!" cebiknya kesal lalu berbalik meninggalkan suaminya.
Tiger terkekeh tanpa suara mengekori langkah sang istri. Membuat istrinya kesal sepertinya masuk list terbaru dalam kegiatan sehari-harinya.
"Hari ini kemungkinan aku pulang larut. Atau bahkan nggak pulang. Nggak usah ditungguin. Tidurlah di kamar, jangan di sofa kaya semalem," ucap Tiger di belakang Jihan.
Wanita itu tiba-tiba berhenti dan membalik tubuhnya hingga saling berbenturan. Kedua lengan Tiger dengan sigap memeluk perempuan itu ketika hampir terjengkang. Tubuh mereka pun merapat tak berjarak. Jihan terdiam, mengerjap berulang dengan lengan di dada bidang sang suami.
__ADS_1
"Kalau mau dipeluk bilang aja!" goda Tiger menunduk hingga wajahnya hampir bersentuhan.
"Iiihh, apasih! Lepas! Selain suka mikir sembarangan bicaramu juga sembarangan!" ketus Jihan dengan wajah memerah berusaha melepas lilitan tangan Tiger.
Pria itu tersenyum samar, puas sekali melihat wajah Jihan yang memerah seperti itu. Kemudian mengecek ponselnya terlebih dahulu sebelum membersihkan diri, karena sejak tadi masuk beberapa notifikasi pesan.
Jihan menyiapkan pakaian yang akan dikenakan Tiger. Ia berusaha melakukan tugas seorang istri dengan baik.
Setelahnya, Jihan keluar kamar hendak menuju ke dapur. Ternyata sudah ada Bibi Sari yang bergelut dengan masakannya. Jihan turut membantu sebisanya, sekalian belajar.
Saat melihat Tiger yang keluar terburu-buru, ia segera mendekat membawa satu gelas teh hangat. Tiger tidak langsung menerimanya. Menatap minuman itu lekat-lekat, sembari menelan saliva. Seperti ada trauma tersendiri dengan teh sejak semalam.
"Tenang aja. Kali ini manis kok. Aku udah kasih tulisan tuh biar nggak salah lagi. Apalagi kalau minumnya sambil liatin aku, behh manisnya berkali-kali lipat!" ujar Jihan tersenyum. Tiger mengernyitkan alisnya. Tatapannya masih terlihat meragukan.
"Enggak percaya? Nih, aku minum ya!" Jihan menyesap teh tersebut tanpa melepas pandangan dari sang suami. "Nih, giliran kamu!" lanjutnya menyodorkan cangkir tersebut pada bibir sang suami.
"Terima kasih. Aku berangkat," pamitnya setelah menghabiskan air minum hasil karya Jihan.
"Tunggu! Kamu yakin baik-baik saja? Nggak perlu ke dokter?" tanya Jihan menyentuh lengan sang suami.
Tiger menggeleng sembari melihat genggaman tangan istrinya. Menyadari itu, Jihan segera melepasnya. "Ah, baiklah. Nanti aku boleh jalan-jalan lagi?"
"Pergilah. Tapi sama pengawal. Dan jangan sampai matikan ponsel!" tandas Tiger dengan tegas.
"Terima kasih suami!" ucap Jihan mengecup pipi Tiger lalu berjalan cepat ke kamar dengan muka yang memerah.
Pria itu terpaku mendapat serangan mendadak. Jantungnya seperti tertancap panah asmara. Ia menoleh ke belakang sembari menyentuh pipinya. Senyum pun mulai mengembang di bibirnya.
__ADS_1
Ia segera melenggang dengan terburu-buru. Karena mulai hari ini, kerja sama dengan para IT handal perusahaan Leon dimulai. Penelusuran mengenai serangan-serangan musuh akan disegera dilakukan. Sistem keamanan klan musuh diakui Tiger sangat kuat, ia sendiri kesulitan untuk menembusnya.
Kali ini, Tiger diantar oleh sopir. Duduk di belakang sembari meraih sesuatu di balik saku jasnya. Foto hasil USG yang dicari-cari Jihan masih ada di genggamannya. Ditatap dengan serius kertas kecil itu, jemarinya meraba permukaan yang mengkilap itu dengan perlahan.
Sementara itu, di rumah, Jihan menutup wajahnya malu mengingat sikap tiba-tibanya tadi. Panas dingin kini menjalar di sekujur tubuhnya. Ia berjalan ke balkon dan menyandarkan tubuhnya dengan dua tangan merentang pada trallis besi di depannya.
Matanya terpejam menikmati desir angin yang sejuk pagi itu. Saat membuka mata, ia melihat Rico berpakaian rapi berjalan menuju rumah.
.
"Rico! Rico!" pekik Jihan.
Sang pemilik nama berputar-putar mencari sumber suara. Jihan berteriak lagi, hingga pria itu menemukan sang majikan yang melambaikan tangan ke arahnya.
"Mau turun?" balas Rico berteriak mengulurkan kedua lengannya.
Bersambung~
Lu-nya sendiri bertingkah, begimana bang? 🙄
Macan; kan lu yg kasi hukuman thor. begimana sih!
Iya juga. btw Jiii... nggak sopan nyisain minuman buat suami!
__ADS_1